Unduh Buku Digital Gratis

Halaman ini sengaja penulis buat untuk kumpulan buku digital yang sudah penulis rilis dan bagikan gratis.
Silakan klik pada masing-masing judul buku untuk menuju link download


Cara menjadi Sponsor pada buku yang akan terbit

 


Demikianlah beberapa buku digital yang dapat penulis bagikan, ketika ada rilis buku baru maka halaman ini akan penulis perbarui.

Proposal Sponsor Buku

Beberapa bulan belakangan ini saya bersama teman-teman sedang menulis buku Belajar Komputer Tingkat Dasar untuk anak-anak.

Buku yang kami tulis tersebut terdiri dari 16 seri yaitu:
  • 4 (empat) buku untuk tingkat 0 (nol), yaitu ditujukan untuk murid TK kecil dan besar yang masing-masing untuk semester 1 dan 2.
  • 12 (dua belas) buku tingkat 1 sampai dengan 6, yaitu ditujukan untuk murid tingkat SD yang masing-masing untuk semester 1 dan 2.
 Dalam waktu dekat ini kami akan mulai merilisnya satu persatu.
Seperti beberapa buku yang sudah saya rilis sebelumnya yang menggunakan sistem sponsor. Buku yang kami tulis ini juga menganut cara yang sama.
Beberapa orang teman sudah menanyakan tata cara menjadi sponsor buku tersebut. Maka malalui post ini saya lampirkan tautan tata cara menjadi sponsor buku tersebut

Unduh Proposal sponsor buku

Demikian pemberitahuan tentang perkembangan Belajar Komputer Dasar yang kami tulis.

Notes from GNOME Asia Summit 2019

It’s been my sixth GNOME Asia Summit that I attend. My first time was in Beijing, at Beihang University. Then every year I help to organize and collaborate with local organizer. I only skipped not attending when it was in Chongqing.

After last year, me and Sammy Fung become Leader/Co-Leader of Asia Committee. Asia Committee is not formal department or suborganization in GNOME Foundation. It contained few people who active at promoting GNOME in Asia. Mostly from people who become local organizer and people who always attend in several years. And personally I knew and meet them in few conference. Probably I will ask board to make this Asia Committee to become formal one.

This conference held in Gresik City, East Java. This city is supporting city for Surabaya (capital of East Java province). It’s small city with growing community right now. One of community is Gresik Dev who become local organizer. FOSS generaly and GNOME in specialy is not recognized by common people. This point of view that lead me to ask Gresik Dev to promoting FOSS and GNOME. Local organizer contain Gresik Dev Community and student from UISI and UMG (both of them the most popural university in Gresik).

This conference, I helping local organizer as steering committee (consultant). One of my reason to proactive in this event is I was born in this city near four decades ago. Probably they see me as dictator because I wanna make this conference as good as possible with limited resource.

I’m driving my car to go to Gresik City. It’s near 800 km from Bogor (city which I live). I arrived on Wednesday afternoon. In Thursday I helping to pickup few speaker from airport. One of my duty is to manage transportation for foreigner from airport to hotel, hotel to venue, vice versa. Since also me that know most of foreigner speaker. So on Friday my duty is become driver and introduce several speaker to each other.

Friday is workshop day, mostly I spent my time to chit chat with all speaker that already arrive and introduce to each other, also make sure tomorrow everything is going well. In this day, I know theres few newcomers that also become speaker. Mostly they got nervous because first time experience. So little bit lack on preparing and predicting the audience. At night we have welcome party and I have long talk with Gaurav and Andre Klapper.

Saturday is first day of conference. I see many participant that not familiar with GNOME but they willing to join this conference. Also I realized that long time bonded friends who often going to GNOME Asia Summit is me, Bin Li and Andre Klapper. English is become little bit problem because this not native language. But the master of ceremony is doing their job amazingly. The person who in charge of slide and projector need to use GNOME and Linux more often. 🙂

Goodiebag and it’s content. Photos taken by Neil

This first day, me and several friends who able to understand Pegon (https://en.wikipedia.org/wiki/Pegon_script) planning to have BoF to make this characters working in GNOME/Linux. You can join at https://gitlab.com/aksaranusantara.

Sunday, I meet best friends from Tatalogam Company who become one of sponsor, also they have keynote. I also have keynote at the end of event. Also we have nice dramatic and funny closing. Many doorprize given to participant. I see many participant enjoy the conference and have selfie/wefie at photo’s booth for uploading to their instagram. It’s also good for marketing.

Anyway, big applause  to desaign team who manage everything that need design/art. And good job for local organizer. Thank you to all speaker that spent time joining this conference and share your knowledge. Thank you to all participant for attending and help promoting GNOME. Big thanks to GNOME Foundation who sponsored my travel!

From closing this conference, it’s meaning I’m become Leader of Asia Committee because Sammy Fung stepdown for personal matters. Any one willing to help me?

See you at Next GNOME Asia Summit 2020!

GNOME Friends

 

Exiciting openSUSE Asia Summit 2019, Bali

So, this is the first time i attend openSUSE Asia Summit. This year openSUSE Asia Summit 2019 has been held in Udayana University, 5-6 October 2019. Why i attend this event? I was skeptical when i submit my paper the CFP is open in which i only submit one paper....

Membuat Label Buku Perpustakaan

Beberapa minggu belakangan ini saya sedang berurusan dengan buku perpustakaan, karena kebetulan desa kami sedang melakukan persiapan untuk mengikuti lomba perpustakaan desa tingkat Kabupaten Semarang.
Adapun kegiatannya antara lain membuat klasifikasi pada koleksi buku yang sudah kami miliki.
Klasifikasi meliputi pendataan ulang, menyortir, dan memberi label pada koleksi buku.

Di bawah ini saya sengaja membuat tutorial dalam pembuatan label untuk buku, sekaligus cara mendata koleksi buku yang sudah ada.



Untuk membuat klasifikasi koleksi buku perpustakaan, maka pengelola sebuah perpustakaan haruslah cakap dalam membuat kategori dari buku-buku yang sudah dimiliki. Salah satu hal terpenting adalah memiliki pedomannya. Adapun pedoman klasifikasi untuk mengelola buku di Indonesia secara umum menggunakan buku Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey.
Sedikit penjelasan mengenai buku Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey silakan lihat : https://id.wikipedia.org/wiki/Klasifikasi_Desimal_Dewey

Dalam contoh tutorial ini, saya menggunakan LibreOffice 6.1.x.x yang berjalan pada sistem operasi BlankOn Linux XI Uluwatu.
Maka dari itu jika Anda mengunakan Sistem Operasi lain dan versi LibreOffice yang berbeda maka akan terdapat juga sedikit perbedaan, tinggal disesuaikan saja sendiri.

Untuk komputer/laptop anda yang belum terpasang LibreOffice, silakan unduk pada tautan berikut https://www.libreoffice.org/download/download/, pilih sesuai sistem operasi yang anda gunakan, kemudian pasang atau install.

Mengetik Data Koleksi Buku

Buka LibreOffice Calc, kemudian buat basis data dari koleksi buku yang ada dengan mengetik di kolom lembar kerja, contohnya seperti berikut:
Kolom A: No. | kolom B: Judul Buku | kolom C: Edisi | kolom D: Kode Buku | kolom E: Kode Pengarang | kolom F: Kode Judul 

Kolom G: Pengarang Buku | kolom H: Penerbit Buku  | Kolom I:  No. Iventaris | kolom J:   Iventaris Buku | kolom K:   Tgl. Iventaris

Setelah Basis Data dari koleksi buku sudah berhasil dibuat, simpanlah pada direktori tertentu di komputer anda, beri nama yang mudah diingat (misal: Data buku Perpustakaan), atau jika perlu simpanlah di folder khusus agar tidak tercampur dengan berkas lainnya.

Mengolah Basis Data

Untuk mengolah basis data lakukan langkah berikut:
Klik Berkas => Baru => Basis Data
Maka tidak beberapa lama tampil jendela untuk mengatur Basis Data yang akan dibuat, lakukan langkah berikut:
Pilih Menu Menyambung ke basis data yang ada, kemudian pilih Lembar Kerja (pilih Spreadsheet jika LibreOffice anda menggunakan antarmuka bahasa Inggris), klik tombol Lanjut untuk menuju ke proses berikutnya

Pada jendela yang tampil, klik tombol Ramban

Kemudian cari berkas yang sudah anda buat di LibreOffice Calc sebelumnya, pilih berkas tersebut => klik tombol Buka

 Klik tombol Lanjut untuk menuju proses berikutnya

Lakukan pengaturan sebagai berikut:
Pilih menu "Ya, daftarkan basis data untukku" dan "Buka basis data untuk penyuntingan"
Klik tombol Selesai


Pada jendela pengaturan Simpan, lakukan pengaturan seperti berikut:
Beri judul Basis Data yang sudah dibuat dengan mengetiknya pada kotak Nama, usahakan menyimpan Basis Data tersebut di folder yang sama tempat anda menyimpan berkas LibreOffice Calc sebelumnya.
Klik tombol Simpan untuk meyelesaikan proses penyimpanan.


Jika semua langkah yang anda lakukan sebelumnya benar semua, maka secara otomatis tercipta Basis Data seperti pada contoh gambar di bawah ini


Sampai disini pembuatan basis data sudah berhasil dibuat, langkah selanjutnya adalah membuat Label dari data yang ada secara otomatis.

Membuat Label Otomatis

Berikut ini adalah contoh langkah-langkah membuat tabel secara otomatis:
Klik Berkas => Baru => Label

Maka secara otomatis tampil jendela pengaturan label yang terdiri dari 3 Tab yaitu tab Label, Format, dan Opsi. Pada masing-masing tab memiliki menu dan submenu yang berbeda-beda.


Pengaturan Tab Label 

Pada kotak Teks label ketik nama sesuai Perpustakaan, dalam contoh PKBM KERTAJAYA, kemudian tekan tombol Enter pada keyboard,
arahkan kursor pada kotak menu di bawah Basis data:, kemudian klik menu tersebut, pilih basis data yang sudah dibuat sebelumnya, dalam contoh pilih Basis Data Label Buku Perpustakaan DATA 1

Arahkan kursor pada kotak menu di bawah Tabel:, kemudian klik menu tersebut, pilih lembar kerja yang berisi data, dalam contoh terdapat dua lembar kerja yaitu  DATA 1 dan DATA 353-406, dalam contoh menggunakan data di DATA 1


Arahkan kursor pada kotak menu di bawah Ruas basis data: kemudian klik menu tersebut, pilih data berdasarkan kolom tersebut berada, dalam contoh KD Buku, karena aturan pelabelan buku yang umum adalah setelah Nama Perpustakaan adalah kode buku.


Maka secara otomatis kode angka pada kolom KD Buku secara masuk ke kotak Teks label


Tekan tombol Enter pada akhir kalimat di kotak Teks label agar terdapat paragraf baru yang nantinya di isi data-data pada kolom KD Pengarang dan KD Judul.

Untuk memasukkan data dari kolom  KD Pengarang dan KD Judul ke kotak Teks label lakukan seperti cara sebelumnya, contohnya seperti pada gambar di bawah ini:

Pengaturan Tab Format

Untuk sementara pengaturan pada tab Label dihentikan dulu, maka dari itu pindah ke tab Format, lakukan pengaturan seperti dalam contoh di bawah ini

Catatan:
  • Dalam pedoman pengelolaan perpustakaan daerah Kabupaten Semarang, ukuran label adalah 6,00 cm x 4,00 cm, jika anda ingin mengikuti aturan tersebut ubah saja pada menu Tinggi menjadi 4,00 cm dan Pitch vertikal: menjadi 4,20 cm. Selain itu ubah juga pada menu Baris: menjadi 8
Sekarang tugas selanjutnya adalah membuat nama label pada format label yang akan digunakan, caranya klik tombol Simpan
pada jendela yang tampil ketik nama Label di dalam kotak menu Merek (contoh Label Kategori Buku), klik tombol Oke untuk menyimpan nama label.

Sekarang kembali ke tab Label untuk menerapkan Nama Label yang tadi sudah ditambahkan, caranya yaitu klik menu di samping Merek, kemudian pilih nama label yang ditambahkan tadi.

Oh ya, pada menu format sebaiknya pilih menu Lembar, karena jenis label yang akan dibuat berada dalam halaman yang berisi banyak label

Pengaturan Tab Opsi

Sekarang pindah ke tab Opsi, lakukan pengaturan seperti berikut:
Pada menu Distribusikan pilih Seluruh halaman, beri tanda centang pada kotak Selaraskan isi.

Jika semua pengaturan pada masing-masing tab sudah selesai, klik tombol Dokumen Baru untuk menampilkan pembuatan label pada halaman writer, jika tidak terjadi kekeliruan maka akan tampil halaman baru seperti dalam contoh di bawah ini

Merapikan Format Label

Sekarang label sudah berhasil dibuat, namun formatnya masih kurang bagus, untuk itu perlu dimodifikasi, berikut caranya:
Blok salah satu isi label, kemudian atur supaya rata tengah, atur juga jarak spasinya menjadi 1,5 spasi

Mengatur Bingkai

Untuk mempermudah pemotongan label yang dicetak maka perlu pembatas berupa garis, maka dari itu sebelum dicetak masing-masing kotak label harus diberi bingkai, berikut caranya:
  • Pilih salah satu kotak label, kemudian klik kanan, pilih Properti

Pada jendela yang tampil, lakukan pengaturan seperti berikut:
  • Garis: pilih garis lurus 
  • Lebar: 0,50 pt 
  • Warna: Hitam 
  • Pada menu Perataan Garis => Pratata: pilih atau klik ikon Atur Keempat Garis Tepi

Klik tombol Oke untuk menyelesaikan proses pengaturan Bingkai.

Jika semua pengaturan Paragraf dan Bingkai sudah sesuai keinginan, klik tombol Selaraskan Label untuk menerapkan semua perubahan pada masing-masing label.

Maka hasilnya seperti pada gambar di bawah ini

Simpan label di dalam folder yang sama dengan berkas Data buku Perpustakaan dan Basis Data yang sudah dibuat sebelumnya, beri nama yang sesuai (misalnya: Label Buku Perpustakaan)
Sampai langkah ini, sebenarnya pembuat label sudah berhasil, dan tinggal dicetak (diprint) pada kertas saja.
Untuk mengetahui apakah label yang dibuat sudah sesuai, kita bisa mencetaknya menjadi berkas, yang mana hasilnya berupa berkas LibreOffice Writer, berikut caranya:

Klik ikon Printer pada Bilah Alat Standar atau tekan Ctrl+P pada keyboard


Beberapa saat kemudian tampil peringatan bahwa anda akan mencetak dokumen yang berisi kolom basis data, klik Ya untuk melanjutkan ke proses berikutnya.
 

Pada jendela pengaturan cetak Surat Masal lakukan pengaturan berikut:
  • Rekaman: pilih Semua
  • Keluaran: pilih Berkas, pada submenu Simpan Dokumen Gabungan pilih Simpan sebagai dokumen tunggal
  •  Klik tombol Oke untuk melanjutkan ke proses berikutnya.

Simpan label hasil cetak tersebut di dalam folder yang sama dengan berkas Data buku Perpustakaan, Basis Data, dan Label Buku Perpustakaan yang sudah dibuat sebelumnya, beri nama yang sesuai (misalnya: Label Buku Perpustakaan_Print)


Sekarang buka berkas hasil label tersebut, maka hasilnya seperti dalam contoh gambar di bawah ini:
Demikian Tutorial cara membuat label dengan LibreOffice yang dapat saya tulis kali ini, sampai jumpa pada tutorial lainnya.

Oh ya, untuk anda yang ingin menonton video tutorial yang sesuai dengan postingan ini, silakan lihat pada tautan di bawah ini

Rute Bus Salatiga - Semarang

Sebenarnya penulis sudah lama ingin membuat artikel singkat ini, namun lupa terus karena lebih banyak menulis buku.

Artikel ini hanya berupa info singkat mengenai beberapa rute bus Salatiga - Semarang jika anda ingin  menggunakan moda transportasi umum.
Penulis sengaja menulis artikel ini untuk membatu pembaca yang bingung ketika memilih bus dari Salatiga yang mau ke Semarang.
  
Jika Anda akan naik Bus umum dari Salatiga ke Semarang memang harus lebih cermat, karena terdapat 3 tujuan terminal yang beda, dan satu bus jurusan tengah kota.

Salatiga - Terminal Mangkang
Bus ini cocok jika anda akan meneruskan perjalanan ke Semarang wilayah Barat dan Utara, Misalnya ke Bandara Ahmad Yani, Ngalian (Boja), Kendal, Jakarta, dan lain-lain. Anda bisa menggunakan Bus Patas Solo - Semarang yang lewat Tol Krapyak.




Salatiga - Semarang Kota
Bus ini rutenya lewat tengah kota (membelah jalur tengah kota), sangat cocok anda naiki jika tujuan anda adalah ke Semarang kota atau tengah, Misalnya ke Tembalang, Jatingaleh, RSUD Kariadi, Tugu Muda, Poncol, Johar, Kota lama, Tawang, dan lain-lain.
Anda bisa menggunakan Bus jurusan Salatiga - Semarang yang berupa Mini Bus, dan bus ini satu-satunya yang tidak lewat tol ketika ke Semarang, namun ketika bus ini kembali ke Salatiga (rute seblaiknya) lewat tol.
Bus jurusan ini hanya berjalan antara pukul 05.00 s/d 17.00 WIB.


Salatiga - Terminal Terboyo
Bus ini cocok jika anda akan meneruskan perjalanan ke wilayah Genuk, Demak, Kudus, Rembang, Surabaya (jalur Pantura), dan lain-lain. Namun perlu diingat, bahwa saat ini sudah jarang Bus dengan juruan Terboyo, karena terminal Terboyo sudah ditutup untuk Bus Umum dan dialih-fungsikan sebagai terminal Peti Kemas.
Namun masih ada satu-dua Bus Patas Solo - Semarang yang ke Terboyo, Bus ini melewati Tol Tembalang - Kaligawe, yaitu masuk gerbang tol Sukun dan keluar gerbang tol Kaligawe. Yang perlu diingat bahwa Bus jurusan ini tidak masuk ke terminal.


Salatiga - Terminal Penggaron
Rute Bus ini sejatinya sebagai pengganti Terminal Bus Terboyo, sangat cocok jika anda akan meneruskan perjalanan ke wilayah Kudus, Pati, Purwodadi, dan lain-lain.
Bus ini melewati Tol Tembalang - Gayamsari, yaitu masuk gerbang tol Sukun dan keluar gerbang tol Gayamsari

Catatan: 
  • Semua bus melewati Tuntang, Bawen, Pasar Karangjati, Pasar Babadan, Banyumanik, dan Sukun, setelah dari sukun jalurnya baru berubah seperti rute masing-masing. 
  • Beberapa penjelasan dari artikel di atas belum lengkap, untuk itu silakan baca beberapa komentar  yang sudah ada sebagai pelengkapnya.

    Install and Configure KVM on Ubuntu 18.04

    We can use VirtualBox or KVM on Ubuntu to do virtualization, we often use virtual machine for development, not necessarily on a server, we can use KVM on Ubuntu Desktop.

    To setup KVM on Ubuntu 18.04, perform the following steps:

    $ sudo apt update
    $ sudo apt upgrade
    $ sudo apt install qemu qemu-kvm libvirt-bin  bridge-utils  virt-manager

    What the command does:

    1. Update and upgrade Ubuntu
    2. Install required packages for running KVM
    3. We use qemu and qemu-kvm for hypervisor
    4. bridge-utils for working with network bridge
    5. virt-manager is GUI application for KVM.

    Let see our new network interface created by bridge-utils and KVM by running "ip a" command:

    4: virbr0: <BROADCAST,MULTICAST,UP,LOWER_UP> mtu 1500 qdisc noqueue state UP group default qlen 1000
        link/ether 52:54:00:2f:e6:3c brd ff:ff:ff:ff:ff:ff
        inet 192.168.122.1/24 brd 192.168.122.255 scope global virbr0
           valid_lft forever preferred_lft forever
    5: virbr0-nic: <BROADCAST,MULTICAST> mtu 1500 qdisc fq_codel master virbr0 state DOWN group default qlen 1000
        link/ether 52:54:00:2f:e6:3c brd ff:ff:ff:ff:ff:ff

    Now, there are two new network interfaces, those are bridge network interface created by libvirt, we can use virbr0 for bridge network with our virtual machine.

    Lets run a virtual machine for testing, we will use CentOS minimal as a guest OS, before that, download CentOS minimal image, and put it where ever you want, and the run the following command:

    $ virt-install --virt-type=kvm --name centos7 --ram 2000 --vcpus=2 --os-variant=centos7.0 --network=bridge=virbr0,model=virtio --graphics vnc  --cdrom=/var/lib/libvirt/images/CentOS-7-x86_64-Minimal-1810.iso --disk path=/var/lib/libvirt/images/centos.qcow2,size=10,bus=virtio,format=qcow2

    We create a virtual machine, with 2GB ram, and 2 cpus, using CentOS 7 as a guest OS, and we create 10GB virtual disk.

    That's all.

    Nested Virtualization KVM on CentOS 7

    Nested Virtualization is disabled by default on CentOS 7, we can verify by running a command:

    # cat /sys/module/kvm_intel/parameters/nested

    Make sure KVM is intalled on the machine, if output is N, then Nested Virtualization is disabled, to enable the feature, set options kvm-intel nested=1 in /etc/modprobe.d/kvm-nested.conf

    # echo "options kvm-intel nested=1" > /etc/modprobe.d/kvm-nested.conf

    Reboot the machine, and verify like above command.

    Journey to The Land of The Rising Sun

    Japan is one of few countries that I want to visit before end of the world. I have a chance to visit Japan many times but canceled it because of several reason. This time, I have chance to visit Japan because LibreOffice Asia Conference. It’s first time Asia conference and also my first time in Japan.

    Flight and Arrived

    My flight to Japan was at May 23, 2019. At that time, it’s still in Ramadan (https://en.wikipedia.org/wiki/Ramadan). It’s my first time to visiting another country during Ramadan. Fasting along the flight gave me more experience. You can imagine when flight crew spread the meals to all passengers and they open the meals, the smell can blow up your mind. Probably that’s part of feeling of poor people that difficult to have food got smell from our food.

    I’m lucky that Singapore Airlines crew treat me well when time to Iftar (https://en.wikipedia.org/wiki/Iftar). Arrived at Hostel near Kamata Station about 23.00, I feel the weather of Japan is good enough for me. I was amazed by several thing at the first day.

    Day -1 of Conference

    One of my reason going to Japan except for the conference, to buy Japanese guitar. Many stories about how good quality of Japanese guitar spread among musician. First trip starting go to Shibuya, found famous Hachiko statue and Shibuya crossing, then straight go to Ishibashi Music Store to sight seeing lot of guitars there. But can’t find which on is suitable for me, according to style, model and price.

    Ishibashi Music StoreIshibashi Music Store

    Next trip is Ochanomizu which I called it guitar heaven. Many guitar/instrument store along the street, both left side and right side. After visiting almost all guitar shop there, I found one guitar that actually I fall in love at first time seeng it. It’s Japanese famous brand (Fernandes), telecaster model (where I didn’t have it yet), single coil pickup (where also not in my collections right now) and good price (around ¥40.000). I also amazed with the guy who pack the guitar. It’s perfect packing. Good service!

    Rare Fernandes - Buck ThickRare Fernandes – Buck Thick

    In evening I’m going to dinner with other TDF members. Japanese team arrange it. I meet Italo and his wife, meet Lothar (for the first time) and his wife, meet Franklin, Naruhiko-san, Shinji-san and others TDF members. It was expensive dinner according to Indonesian by the way. Hahaha.

    Day 0 of Conference

    Minutes Before StartMinutes Before Start

    The conference located on Nihonbashi Tower, at Cybozu Office in floor 27. It’s great place, the decoration and also the window. You can see Tokyo Landscape around Skytree Tower. The conference started at 10.30. I’m not tell about the detail of the conference here but it’s was very comfortable conference that I ever attend. The interaction between speaker and participant is very close, so language barrier is not big issue anymore (yeah we have different languages).

    From WindowFrom Window

    They also have party at the end of day. Japanese team also prepare halal food. I really appreciate it. I share pack of dates (palm fruit) to others. Many people never eat that before.

    *I’m sure Japanese team will upload the video of the conference, that’s why I did not to tell about the detail

    Day 1 of Conference

    Second day of conference, in morning is about Business Workshop by Lothar and Italo. It’s strategy and sharing experience about how to deal business with LibreOffice. After lunch (of course I’m still fasting) it’s Certification Interview, several people got interview by Lothar and Italo. I skip this session and going to Ginza around Sony Theme Park to find some souvenir for my daughter.

    On this day there also CJK Hackfest. Many people also joining, especially from China, Japan and Korea.

    Afternoon session, Franklin talk about “ODF Certification” proposal for Asian member. He also named Asian team as “LibreOffice Asia League”. I hear it for the first time.

    After conference, I asked to Iwan and Andik (who traveling with me several time in Japan) to company me to Tokyo Camii (some Japanese friend call it Tokyo Jamii) Mosque. But I failed to pray there. The wudu (https://en.wikipedia.org/wiki/Wudu) place blocked by queue of people who waiting for iftar meals. Then we go to Ouka Ramen restaurant.

    It’s halal ramen. We need to write down our name for waiting list. We can’t enter it as we like. Waiting list not take long time. The result is that’s most delicious ramen that I ever eat. The service also good. I give five star (from 1 to 5) to this place. Notes for this place, the spicy level: 1 for Europe, 2 for Korean/Japan/China, 3 for Malaysia/Indonesia, 4 and upper is unknown. For normal Indonesian, level 3 is spicy. Iwan took level 2, Andik took level 3 and I took level 4.

    Ouka RamenOuka Ramen

    One Day Tour

    On Monday, May 27, I go to one day tour with others (Kukuh not joining this tour because he need to flight back to Indonesia). We need to meet with other in basement of Nihonbashi Tower, then walk together to Nihonbashi bridge and several place around Nihonbashi. Naruhiko-san became our tour leader. He almost know many history of several place. I’m thinking he’s from History Faculty, not Computer Faculty. 🙂

    Nihonbashi BridgeNihonbashi Bridge – I see this spot in movie/drama, Bitter Blood

    The trip continue to Hamarikyu Garden, then take water bus for an hour to Asakusa Temple. I enjoy this water bus because I can see many sight from different perspective. When landed, we decide to split in several group for lunch. Because me and Andik fasting, Iwan and Naruhiko-san accompany us to walk around. Naruhiko-san show us underground market. Sorry for others, you not get this. Hahaha. Then we meet at Kaminarimon Gate.

    Asakusa TempleAsakusa Temple

    While waiting others, magic happen. I see Marty Friedman (https://en.wikipedia.org/wiki/Marty_Friedman) and asking him for taking photo together. Andik help me to take it. Marty-san is one of my favourite guitar player, probably the most influence of my playing after Yngwie. I’m very lucky.

    Meet Marty FriedmanMeet Marty Friedman

    After gather with others, we go to Asakusa Temple and have some group photos. This also last point, after this we split into several groups or individual. Hatori-san bring me to his favourite guitar shop, TC Gakki in Shinjuku area.

    I became exhausted. Need to stop and rest in several station. After guitar shop then going to Akihabara, need to buy some souvenir. Then find some place to sit down and waiting for Iftar time. My plan is going to some halal ramen (other ramen restaurant) at iftar time, but Hatori-san told me that Shinji-san, Naruhiko-san and Sven will join us to Akihabara. So we have ramen time together. 🍜

    After ramen time, I go back to hostel preparing tomorrow flight and other three going to some bar for drinking beer. 🍺

    Final

    May 28, I’m going to Haneda Airport with Iwan. It’s was nice to have chance to stay in Japan, next time I will bring my family. Special thanks to Iwan who help me in many thing, Andik for taking special photos, Hatori-san for taking me to guitar shop, Shinji-san and Naruhiko-san for having great time in Japan.

    I got another idea for contributing, but let’s see it in several month.

     

    Dulu diblokir, sekarang jadi Idola

    Seperti yang sudah kita ketahui bersama, bahwa untuk meredam penyebaran hoax lewat Media Sosial, pemerintah Indonesia menggunakan solusi yang pintar dan cerdas, yaitu dengan melakukan pembatasan pada beberapa Media Sosial, diantaranya Facebook, Whatsapp, dan Instagram.

    Di Facebook dan Whatsapp pembatasan meliputi pada jenis Gambar dan Video, yang salah satu efeknya adalah kita tidak bisa melihat gambar dan memutar video yang dikirim oleh sesama kedua media sosial tersebut, walaupun kita tetap bisa saling berbagi gambar dan video.
    Untuk mengatasi masalah ini beberapa teman terpaksa menggunkan VPN gratisan, namun penggunaan VPN gratis tentu ada resikonya, salah satunya seperti yang sudah saya tulis di post sebelumnya berjudul Ingin Mencegah Penyebaran Hoax, Tapi Yang Terjadi Sebaliknya.

    Efek lain dari pembatasan ini adalah, sekarang orang-orang jadi tahu cara mengakses situs-situs yang sebelumnya telah diblokir oleh pemerintah Indonesia.
    Sedikit sia-sia sudah dana milliaran rupiah untuk proyek ini karena sebuah solusi yang sangat cerdas.

    Sudah bukan rahasia lagi, jika banyak orang Indonesia sudah kecanduan Facebook dan Whatsapp untuk komunikasi sesama penggunanya, begitupun dengan beberapa teman yang punya bisnis online sudah mulai tergantung pada kedua media sosial tersebut, sehingga mereka mulai kelimpungan dengan adanya pembatasan ini.

    Sejak adanya pembatasan tersebut, teman-teman mulai menggunakan media sosial alternatif, salah satunya Telegram, hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya orang yang baru bergabung ke Telegram.

    Para pengguna telegram yang baru saja menggunakan media sosial ini otomatis akan terlihat jika kebetulan nomor telepon yang mereka gunakan tersimpan di daftar kontak HP kita.

    Berkaitan dengan hal ini, saya sering iseng meledek beberapa teman yang baru saja menggunakan Telegram, terutama pada teman yang sebernanya cukup melek di bidang IT.


    Padahal kalau sedikit menengok sejarah ke belakang, Telegram pernah diblokir oleh pemerintah Indonesia dengan alasan sebagai penyebaran konten negatif.
    Konten negatif yang dimaksud antara lain propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, gambar tak senonoh, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.
    Namun hal ini tidak berlangsung lama karena Pavel-Durov sebagai pendiri Telegram langsung datang ke Indonesia untuk melakukan perundingan dengan Menteri Komunikasi dan Informatika.

    Terus pertanyaannya adalah, kapan Telegram diblokir lagi?

    Ingin Mencegah Penyebaran Hoax, Tapi Yang Terjadi Sebaliknya

    Sehubungan dengan sedang memanasnya situasi politik di Indonesia saat ini, salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah adalah mencegah terjadinya penyebaran Hoax.

    Upaya tersebut adalah dengan melakukan pembatasan penggunaan Media Sosial terutama Facebook, Whatsapp, dan Instagram.

    Namun, baru beberapa hari ini pemerintah membatasi penggunaan media sosial untuk mencegah penyebaran Hoax, tapi justru yang terjadi sebaliknya, yaitu mulai tadi malam banyak hoax dan spam yang malah beredar dengan beringas lewat media sosial terutama Whatsapp.


    Cara ini bisa disebut teknik menyebar spam melalui hoax, jadi kalau diikuti salah satu efeknya adalah Gawai (Smartphone) yang Anda gunakan tahu-tahu muncul berbagai iklan yang tidak dinginkan.

    Kalau pemberitahuan seperti di gambar memang benar-benar resmi dari Whatsapp seharusnya alamat tautan yang disertakan adalah https://www.whatsapp.com bukan tautan seperti dalam chat tersebut.

    Pun mulai pagi ini hal yang sama terjadi pada Chat di Facebook, baik chat pribadi maupun chat Marketplace.

    Mungkin tidak beberapa lama lagi hal ini juga akan merambah ke Media Sosial lain.

    Salah satu penyebab hal ini bisa terjadi karena banyak masyarakat yang kurang pengetahuan di bidang IT ikut-ikutan latah menggunakan VPN gratisan, terutama para emak-emak dan bapak-bapak yang Smartphone-nya lebih pintar dari yang punya.

    Upaya Pencegahan
    Untuk mencegah supaya spam ini tidak semakin menyebar luas, kita semua dapat mecegahnya dengan membuat laporan seperti di bawah ini:


    Buku Menulis Buku dengan LibreOffice versi Gratis

    Sesuai dengan janji saya pada postingan sebelumnya yang berjudul Rencana Rilis Buku Tahun 2019, bahwa pada bulan Mei ini saya akan merilis buku Menulis Buku dengan LibreOffice versi Digital secara gratis.

    Nah, postingan kali ini adalah salah satu realisasinya, yaitu pembaca sekalian sudah bisa mengunduhnya mulai hari in melalui tautan yang ada di postingan ini.

    Sekedar untuk melatih kesabaran anda semua, buku versi digital ini tidak saya bagikan sekaligus, tapi saya bagikan dalam beberapa BAB secara terpisah. 
      BAB 1 - Mengenal LibreOffice
      BAB 2 - Bekerja dengan Writer
      BAB 3 Pengaturan Halaman
      BAB 4 Pengaturan Gaya Paragraf
      BAB 5 Penggunaan Gaya
      BAB 6 Penomoran Halaman
      BAB 7 Mengelola Gambar
      BAB 8 Menyisipkan dan Mengolah Gambar
      BAB 9 Membuat dan Mengatur Daftar
      BAB 10 Manajemen Templat
      BAB 11 Pembuatan Sampul
      BAB 12 Tambahan
      BAB 13 Mengenal Gimp

        Pembaca boleh menyebarkan buku versi digital ini ke masayarakat yang membutuhkan baik secara online ataupun offline, juga dipersilakan untuk membuat mirror di berbagai web atau server yang pembaca milik.

        Bagi yang ingin mendapatkan versi cetak dari buku ini dapat dapat memesannya melalui  salah satu tautan di bawah ini:


        Bukalapak
        Tokopedia



          Terima kasih


          Semarang, 01 Mei 2019

          Penulis Yang Egois


          Belakangan ini saya memang sedang sering berinteraksi dengan orang-orang yang bergerak di bidang Keperpustakaan atau Literasi.

          Dari obrolan dengan beberapa penulis buku dalam kegiatan tersebut, saya mendapatkan fakta bahwa kebanyakan penulis tersebutnya ketika mengawali jadi penulis menggunakan aplikasi yang tidak legal.
          Sebagian dari mereka sadar bahwa aplikasi yang dia gunakan untuk menulis itu ilegal.

          Sebagian lagi tidak mengetahuinya sama sekali karena ketika membeli komputer/laptop aplikasi tersebut sudah terpasang.
          Saat sudah menjadi penulis terkenal, sebagian sudah menggunakan aplikasi yang legal dengan membelinya.

          Sebagian lagi tetap menggunakan aplikasi yang ilegal walau sudah mampu membelinya dari hasil menulis buku. Dia pun tahu dan sadar kalau yang dia lakukan tidak benar.

          Ada juga yang walau sudah menerbitkan puluhan judul buku tapi tetap tidak tahu kalau aplikasi yang dia gunakan untuk menulis itu ilegal.

          Padahal di semua buku yang dia tulis, kemudian diterbitkan selalu tertulis kalimat kurang lebih seperti ini  
          Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam atau dengan sistem penyimpanan lainnya tanpa izin tertulis dari penulis.


          Dia sendiri ketika menulis buku sudah melanggar hak cipta, atau menggunakan aplikasi hasil penggandaan tanpa seijin pembuatnya, lha buku yang dia tulis kok tidak boleh digandakan!
          Menurut saya ini namanya penulis yang egois dan dzalim.

          Pesan saya, daripada menulis dengan aplikasi ilegal karena memang belum mampu beli, lebih baik pakai aplikasi yang walau gratis tapi legal.


          Rencana Rilis Buku Tahun 2019

          Berikut adalah rencana rilis buku yang saya tulis, baik yang ditulis sendiri maupun bersama tim
          1. Mei: Menulis Buku dengan LibreOffice versi digital
          2. Juni: Belajar Komputer Tingkat Dasar 0 (buku 1 dan 3)
          3. Juli s/d September: Belajar Komputer Tingkat Dasar 1 s/d 6 (masing-masing buku 1)
          4. November: Membuat Video dengan Aplikasi FOSS
          5. Akhir tahun: Tips & Trik Inkscape v.1.0


          Keterangan:
          1. Buku ini adalah edisi digital dari versi cetak yang sudah terbit sebelumnya, ketika saya merilis versi Digital buku tersebut jangan menanyakan versi cetaknya, karena versi cetaknya sudah tidak saya jual.
          2. Buku ini dibuat khusus untuk anak-anak TK 0 kecil dan 0 besar semester 1, berisi permainan di GCompris dengan dilengkapi beberapa cerita sesuai tema permainan yang diajarkan.
          3. Buku ini dibuat khusus untuk siswa/i kelas 1 S/D 6 SD semester 1, berisi pelajaran komputer yang disesuaikan dengan pelajaran K13, beberapa materi di buku ini adalah penyempurnaan dari buku yang sudah pernah dirilis sebelumnya, juga beberapa revisi menyesuaikan dengan buku K13 hasil revisi 2018.
          4. Ini adalah buku tutorial cara mengolah dan membuat video dengan beberapa aplikasi Open Source, saya sengaja menulis buku ini dikarenakan saat ini saya belum menemukan buku jenis ini yang beredar, saya sudah ngubek-ngubek di Gedung Perpustakaan Nasional Jl. Medan Barat Jakarta, tapi tidak menemukan buku yang dimaksud.
            Kaos kenang-kenangan dari Perpusnas
          5. Berisi lanjutan dari buku Inkscape versi cover Suramadu yang sudah saya rilis sebelumnya, buku ini berisi berbagai fitur dan tool baru di Inkscape V.1.0, tentunya dilengkapi berbagai tips dan trik cara menggunakannya sehingga pembaca bisa menghasilkan karya yang keren, buku ini rilisnya belum bisa dipastikan karena masih menunggu rilis Inkscape V.1.0 Final (bisa saja tahun depan baru rilis)
          Terlaksana dan tidaknya rilis buku yang saya sebutkan di atas tergantung adanya sponsor yang mau menyeponsori buku-buku tersebut. Bisa saja ada yang tidak rilis tahun ini, namun tetap saya usahakan untuk merilisnya, walau tidak semuanya.

          Bagi yang tertarik untuk menjadi SPONSOR buku-buku tersebut bisa mengajukannya melalui surel yang dikirim ke istanalinux<at>gmail<dot>com.
          -
          Terima kasih
          Salam sukses untuk kita semua

          Promosi Produk

          Produk yang bagus tidak akan dikenal tanpa promosi yang bagus juga.
          Karena kurang dikenal banyak orang, maka kurang laku di pasaran.
          Namun sebaliknya, produk yang kurang bagus lebih laku karena promosi yang gencar.
          Walaupun produk itu harganya tidak murah.


          Begitupun dengan Aplikasi
          Walaupun aplikasi tersebut bagus dan murah, bahkan gratis, namun karena kurang promosi, maka kalah dengan produk yang kurang bagus tapi berbayar.
          Bahkan kalah dengan aplikasi yang harusnya berbayar tapi menjadi gratis.

          Salah satu cara untuk mempromosikan sebuah aplikasi adalah dengan menulis dokumentasi aplikasi tersebut sebanyak-banyaknya.
          Dokumentasi bisa berupa buku panduan (manual book) atau Video.
          Akan lebih menarik lagi jika isi buku tersebut bisa diimplemtasikan secara langsung.

          Misalnya bisa diterapkan secara langsung dan mudah di bidang pendidikan.
          Itu pun harus sesuai standar pendidikan yang ada.
          Pun harus sesuai dengan usia anak didik.


          Menulis sebuah buku perlu biaya. Baik buku cetak maupun buku elektronik, sama saja.
          Biaya digunakan oleh penulis untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk makan dan minum.
          Biaya juga diperlukan untuk kebutuhan riset.
          Pun untuk piknik agar otak penulis tetap sehat, agar isi buku yang ditulis lebih bermutu.

          Biaya bisa di dapat dengan berbagai cara, salah satunya dari sponsor atau donatur.
          Dengan menjadi sponsor sebuah buku, maka secara otomatis juga sudah mempromosikan produk anda sendiri.
          Dengan menjadi sponsor sebuah buku, maka anda juga sudah berjasa di bidang pendidikan.
          Sudah ikut mencerdaskan generasi penerus bangsa.

          Ada yang tertarik jadi sponsor?
          Silakan tulis di kolom komentar

          Safari Gerakan Gemar Membaca 2019

          Tanggal 26 Maret 2019, penulis dapat undangan untuk mengikuti acara Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca Di Provinsi Dan Kabupaten/Kota Tahun 2019, karena judulnya ditulis lengkap terlalu panjang, penulis singkat saja judulnya menjadi Safari Gerakan Gemar Membaca.


          Ini adalah lanjutan dari acara Kunjungan Komisi X DPRRI ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Semarang sebelumnya yang telah dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2019.
          Salah satu foto penulis dengan anggota Komisi X DPRRI

          Jika pada acara kunjungan Komisi X DPRRI yang lalu banyak membahas mengenai Perkembangan dan kegiatan perpustakaan di Kabupaten Semarang, maka pada acara kali ini lebih banyak membahas perkembangan Perpustakaan Nasional secara menyeluruh.

          Dalam acara ini dihadiri oleh beberapa narasumber, yaitu dari anggota Komisi X DPRRI yang diwakili oleh ibu Yayuk Basuki, Perwakilan Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, dan tentu saja Perwakilan Perpustakaan Kabupaten Semarang, juga dihadiri oleh beberapa penulis buku.



          Penulis tidak hafal nama-nama narasumber yang hadir, hanya dua orang yang penulis hafal, yaitu ibu Yayuk Basuki yang merupakan pensiunan Atlit Tenis Nasional dan ibu Dewi penulis buku berjudul Anak Kost Dodol, dan tentu saja penulis buku Menulis Buku dengan LibreOffice yang juga hadir dalam acara ini.


          Nama-nama narasumber kalau sempat nanti penulis update dari hasil rekaman dalam bentuk suara yang sengaja penulis rekam, (saat ini penulis sedang malas mendengarkan ulang karena cukup panjang yaitu hampir 4 jam)


          Dalam acara ini dihadiri oleh kurang lebih 200 orang, yang terdiri dari para pustakawan, penggerak literasi, pelajar, dan masyarakat umum.



          Selanjutnya biarlah foto-foto di bawah ini yang menjelaskan, karena nanti juga akan muncul liputan resminya dari situs go.id 








          Di bawah ini adalah salah satu Video yang sempat penulis rekam dalam acara tersebut

          Demikian Liputan singkat Safari Gerakan Gemar Membaca 2019, sampai jumpa dengan liputan lainnya,
          -
          Catatan:
          • Lagi-lagi dalam acara ini kami tidak bisa menggunakan simbol huruf L menggunakan tangan sebagai simbol Literasi, alasannya karena bisa membuat gaduh masyarakat, padahal kami sudah lama menggunakan simbol tersebut, tapi biarlah yang waras yang mengalah, toh tidak lama lagi kami bisa menggunakannya kembali.

          Delete All Comments in a File With VS Code

          What if you want to delete all comments in a file with VS Code? VS Code has a find and replace feature that support regular expression, so we can use that feature to automatically find line starting with hash (#), Here we go: 1. Press ctrl + f 2. Click on "Use regular expression" button on "find and replace" widget 3. Type the regular expression: ^#.*$\n 4. Leave the "Replace" field empty 5. Click "Replace All" button And all of your comment deleted, actually it is replaced by the empty character. Notes ^#.*$\n : • ^ = matches position just before the first character of the string • # = character that we want to find • . = matches a single character. Does not matter what character it is, except newline • * = matches preceding match zero or more times • $ = matches position just after the last character of the string • \n = Line feed character

          7 GNU Screen Commands To Make Your Life Easier

          Here 7 GNU Screen commands that could make your life easier:

          * ^A ^W - window list
          * ^A ^C - create new window
          * ^A space - next window
          * ^A p - previous window
          * ^A ^A - switch to previous screen
          * ^A [0-9] - go to window [0-9]
          * ^A esc - copy mode

          Bekerja dan Berusaha

          Pagi ini, di Kota Kediri, saya menemukan pencucian motor yang baru buka, yang kemarin-kemarin saat pakai NMAX ndak pernah kelihatan beroperasi.

          Saya menjadi pelanggan kedua, sebelumnya sudah motor lain, BYSON. Saya sempat kaget saat melihat tarifnya Rp 8000 untuk segala jenis motor. Kalau di Republik Bojong, tarifnya bakal berbeda.

          Di waktu yang bersamaan, saya membaca sebuah lowongan pekerjaan, masih butuh dua orang lagi.

          Selang beberapa menit, dua orang karyawan datang membawa sepeda jengki (sepeda kumbang), menaruh sepedanya dan langsung bekerja membersihkan sepeda motor saya.

          Saya jadi tertegun dengan semangat bekerja mereka, mau bekerja apa saja, yang penting halal, biarpun menurut bayangan kita, gajinya tidak seberapa. Yang penting prosesnya. Mereka masih muda, tebakan saya usia di bawah 25, walau kalau foto sama saya, seolah seumuran.

          Saya jadi melamun, teringat dua dasawarsa yang telah lalu, saya sempat jadi kurir tagihan telepon, yang harus jalan kaki karena tidak punya kendaraan, yang harus diantarkan dari pintu ke pintu serta upahnya 150 rupiah tiap tagihan.

          Ibu saya selalu sedih dengan keadaan saya yang begitu, sehingga beliau tidak pernah berhenti berdoa agar saya diberi pekerjaan yang tidak membebani otot tubuh saya.

          Konferensi LibreOffice Asia yang Pertama Kali

          Merujuk pada pemberitaan di https://blog.documentfoundation.org/blog/2019/02/19/first-libreoffice-asia-conference/ tentang acara Konferensi LibreOffice Asia yang pertama kali, berikut terjemahan dari media rilis tersebut:

           

          Konferensi LibreOffice Asia yang pertama kali akan diadakan pada 25-26 Mei 2019 di Nihonbashi, Tokyo, Jepang

          Ini adalah konferensi LibreOffice yang pertama menjangkau Asia, area yang memiliki pertumbuhan perangkat lunak berbasis FOSS yang sangat pesat.

          Berlin, 18 Februari 2019 – Setelah kesuksesan besar Konferensi LibreOffice Indonesia pada tahun 2018, para anggota dari komunitas Asia memutuskan untuk mengangkat isu ini di 2019 dengan Konferensi LibreOffice Asia yang pertama kali di Nihonbashi – pusat kota Tokyo, Jepang – pada 25-26 Mei 2019.

          Sebagai salah satu penyelenggara, Naruhiko Ogasawara, anggota dari komunitas LibreOffice Jepang dan The Document Foundation, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Saat kami mengadakan LibreOffice Mini Conference Japan 2013 sebagai acara lokal, kami hanya sedikit mengetahui tentang komunitas-komunitas di belahan lain Asia,” ucap Naruhiko. “Kemudian tahun ini kami menghadiri LibreOffice Conference dan acara di Asia lainnya seperti openSUSE Asia, COSUP, dan lain sebagainya. Kami menyadari bahwa banyak rekan-rekan kami yang aktif dan bahwa komunitas kami harus belajar banyak dari mereka. Kami bangga dapat mengadakan Konferensi Asia yang pertama dengan rekan-rekan kami untuk lebih memperkuat kemitraan tersebut.

          “Ini lompatan takdir yang nyata,” ucap Franklin Weng, salah seorang anggota dari Asia di Dewan Direksi The Document Foundation. “Asia adalah daerah yang perkembangannya sangat pesat dalam mengadopsi ODF dan LibreOffice, tetapi ekosistem kami untuk LibreOffice dan FOSS belum cukup baik. Dalam konferensi ini kami tidak hanya mencoba membuat ekosistem FOSS di Asia lebih baik, tetapi juga untuk mendorong anggota komunitas Asia menunjukkan potensi mereka.”

          Beberapa anggota inti dari The Document Foundation akan menghadiri konferensi ini, termasuk Italo Vignoli, pimpinan tim pemasaran dan hubungan masyarakat dan wakil ketua Komite Sertifikasi LibreOffice, dan Lothar Becker, juga wakil ketua Komite Sertifikasi. Selain itu, akan ada anggota komunitas dari Indonesia, Korea Selatan, Taiwan, Jepang dan mungkin China yang hadir.

          Poin dari konferensi ini meliputi:

          • Workshop bisnis – yang akan dipandu oleh Lothar Becker dan Italo Vignoli, ketua dan wakil ketua Komite Sertifikasi LibreOffice dari The Document Foundation. Lothar dan Italo akan membahas tentang layanan bisnis – apa yang mendasar dari layanan bisnis LibreOffice, status bisnis LibreOffice saat ini di Eropa, Asia dan wilayah geografis lainnya, dan bagaimana kita dapat saling mendukung, dan lain sebagainya.

          • CJK Hackfest – yang akan dipimpin oleh Mark Hung, seorang Pengembang LibreOffice Tersertifikasi di Taiwan, untuk membahas dan meretas masalah CJK di LibreOffice.

          • Wawancara Sertifikasi – Wawancara Sertifikasi LibreOffice kedua di Asia akan diadakan selama LibreOffice Asia Conference, yang dipandu oleh Italo Vignoli dan Lothar Becker, ketua dan wakil ketua Komite Sertifikasi LibreOffice saat ini. Sejauh ini total 4 atau 5 kandidat akan diwawancarai untuk Profesional Migrasi Bersertifikat LibreOffice dan Pelatih Bersertifikat LibreOffice.

          • Sertifikasi Lokal Asia untuk LibreOffice – yang akan dipandu oleh Franklin Weng dan Eric Sun, dua anggota TDF dari Taiwan, yang akan memperkenalkan ide-ide agar memiliki keterampilan LibreOffice dan sertifikasi pelatih di Asia.

          Call for proposal akan segera diluncurkan pada bulan Februari. Selain topik di atas, topik terkait LibreOffice dan ODF lainnya juga diterima.

          Membuat Banyak Pengguna di Linux

          Berawal dari keribetan membuat banyak pengguna sekaligus di mesin yang akan digunakan sebagai media berbagi ilmu. Dalam membuat image dari docker yang akan digunakan sebagai RStudio server dibutuhkan penambahan pengguna pada mesin containernya sesuai jumlah murid.

          Membaca ke sana kemari akhirnya saya menemukan kode yang cocok untuk diterapkan di mesin itu. Sebagai contoh di sini akan ditambahkan 10 pengguna.

          for i in user{01..10}
          do
          useradd -d /home/$i -m $i
          echo “$i:$i” | chpasswd
          done

          Sekian catatan kedua tahun ini.

          Memperbaharui BIOS Thinkpad x230 di GNU/Linux

          Seringnya untuk memperbaharui BIOS Laptop maupun komputer mengharuskan menggunakan sistem operasi Windows. Dan sayangnya saya sudah tidak menggunakan windows di Laptop kerjaan. Terus bagaimana?

          Jadi sebenarnya dari Lenovo sendiri sudah menyediakan ISO BIOS yang bisa dipakai untuk memperbaharuinya. Cukup bakar file ISO ke CD. Namun sayangnya sudah lama sekali tidak punya laptop yang menyediakan CD-ROOM. Mari ngulik sedikit.

          Langkahnya:

          1. Unduh ISO BIOS, sesuaikan dengan versi laptop. Saya mengunduh untuk Thinkpad x230 dari website lenovo ditautan berikut. Berkas disimpan dengan nama g2uj30us.iso
          2. Pasang tools genisoimage sesuai distro, saya menggunakan Leap 15.1.
          3. Konversi file iso tadi menjadi format img.
            $ geteltorito -o bios.img g2uj30us.iso
          4. Salin img hasil konversi ke flashdisk dengan dd
            $ sudo dd if=bios.img of=/dev/sdb bs=1M
            $ sudo sync
          5. Lanjut dengan boot dari flashdisk. Pastikan laptop tersambung dengan charger.
          6. Lakukan proses upgrade BIOS.
          7. Setelah selesai, lakukan reboot.
          8. Masuk ke BIOS untuk memastikan versi BIOS sudah terbaharui

          Semoga g error.
          Estu~

          Cara Membeli Buku LibreOffice

          Salam sejahtera untuk Anda semua pembaca setia blog ini, postingan ini adalah update terbaru dari buku Menulis Buku dengan LibreOffice yang telah siap terbit.

          Alhamdulillah, setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan akhirnya buku Menulis Buku dengan LibreOffice telah selesai proses cetaknya sehingga sudah layak terbit.

          Seperti buku Desain Grafis dengan Inkscape yang telah terbit sebelumnya, buku ini juga penulis edarkan dan jual secara online.

          Rencananya buku ini akan dirillis tanggal 24 Maret 2018 yang bertepatan dengan acara Konferensi LibreOffice Indonesia 2018 di Surabaya.
          Nah karena banyak teman-teman yang sudah tidak sabar untuk memesan buku ini, maka melalui postingan ini penulis mengumumkan bahwa buku Menulis Buku dengan LibreOffice sudah dapat dipesan oleh pembaca melalui formulir pemesanan yang penulis sediakan. Namun, buku pesanan anda baru akan dikirim setelah acara Konferensi LibreOffice Indonesia 2018 selesai.



          Berikut ini adalah tata cara untuk memesan buku:
          • Pemesanan buku dimulai ketika postingan ini tayang.
          • Pemesanan buku dilakukan dengan mengisi Formulir Pemesanan Buku LibreOffice.
          • Harga buku versi Hardcover adalah Rp.65.000,- per-eksemplar, sedangkan versi Softcover adalah Rp.40.000,- per-eksemplar.
          • Satu orang dapat memesan buku sebanyak-banyaknya selama stok masih ada.
          • Pemesan yang dianggap telah membeli buku adalah mereka yang telah melakukan pembayaran sesuai harga yang telah disebutkan di atas.
          • Pembayaran buku dapat dilakukan dengan sistem transfer ke nomor rekening BRI 3788-01-019373-53-8 a/n SOKIBI, setelah melakukan transfer silakan konfirmasi melalui SMS/WA ke 085727528266, atau surel ke istanalinux@gmail.com.

          Informasi
          Untuk info seputar buku Menulis Buku dengan LibreOffice, Anda bisa menghubungi beberapa kontak di bawah ini selama jam kerja:
          • Facebook: Sokhibi Imgos
          • SMS/WA: +6285727528266
          • Email: istanalinux@gmail.com
          • Workshop: Jl. Kokrosono Raya Blok B Lantai 2 No.8-9 Semarang Utara - Jawa Tengah

          Ongkos Kirim:
          • Ongkos kirim buku ditanggung pemesan, buku yang dipesan akan dikirim dari Semarang menggunakan jasa JNE atau Pos Indonesia, sebagai acuan ongkos kirim, berat 1 (satu) buku dihitung 1 Kg.
          Catatan:
          • Untuk pengiriman melalui Pos Indonesia dapat menggunakan satuan berat gram, satu buku versi softcover beratnya +500 gram
          • Jika menggunakan jasa JNE dibulatkan menjadi 1 kg, jadi jika ingin memesan 2 buku dan dikirim melalui jasa JNE tetap dihitung 1 kg.
          • Buku versi Hardcover  beratnya +700 gram, jadi jika anda pesan dua buku maka beratnya tetap dihitung 2 kg.

              Pertanyaan Mengenai Buku
              • Apakah stok buku terbatas?
                Iya, terutama versi hardcover yang stoknya sangat terbatas. Jadi silakan pesan secepatnya sebelum stok habis, karena kami menganut sistem pertama datang akan pertama dilayani.

                • Kapan buku dikirim?
                  Buku yang Anda pesan beli akan dikirm setelah acara Konferensi LibreOffi Indonesia 2018 yang berlangsung tanggal 23 s/d 25 Maret 2018.

                • Apakah bisa COD?
                  Bisa, datang langsung ke kios Istana Media  Jl. Kokrosono Raya Blok B Lantai 2 No.8-9 Semarang Utara - Jawa Tengah (harap buat janji dulu).

                • Saya berminat menjadi reseller buku ini untuk dijual kembali, apakah bisa?
                  Bisa, silakan membuat pengajuan untuk menjadi reseller kemudian kirim ke istanalinux@gmail.com.

                  • Apa perbedaan antara buku Hardcover dan Softcover?
                    Isi keduanya sama, hanya berbeda sampulnya saja
                  Reseller Buku
                  Untuk mempermudah dan menghemat biaya kirim, pembeli bisa memesan buku melalui beberapa reseller yang tertera pada gambar di bawah ini



                  -

                    Futsal dan Jogging

                    Futsal dan Jogging, saya suka dua olah raga ini, karena setiap kali setelah futsal atau jogging seluruh badan saya terasa pegel-pegel, merata dari kepala hingga kaki.

                    Untuk olah raga yang lain, terutama yang pegelnya di bagian tertentu, saya tidak begitu suka.

                    Ya, sesederhana itu alasannya :D

                    Sekilas Tentang Linux Class Malang

                    Beberapa waktu lalu saya membuat sebuah workshop di kantor di mana saya bekerja saat ini. Kelas tersebut bertajuk Linux Class Malang, merupakan kelas kecil dengan peserta 10 orang. Materi yang dibahas dan lain-lain dapat teman-teman lihat di poster berikut : Poster Linux Class Malang Awalnya agak ragu ketika membuka kelas...

                    Mount File .vdi Sebagai Hardisk Laptop

                    Ini catatan singkat saja, jadi saya ingin me-mount sebuah file *.vdi sebagai hardisk di laptop. Apakah ini perlu? tidak untuk banyak kasus. Namun kali ini saya melakukannya karena saya tidak ingin menyalakan virtualbox. Jadi saya mendapatkan sebuah file berformat *.vdi. File tersebut, dari nama ekstensinya Virtual Disk Image merupakan file...

                    Catatan Menjadi Juri di Kompetisi Mahasiswa

                    Tanggal 8 sampai dengan 10 November 2018 saya diminta untuk menjadi juri pada Kompetisi Mahasiswa bidang Informatika Politeknik Nasional 2018 yang diadakan di PENS, Surabaya, Jawa Timur. Ada beberapa kategori dalam kopetisi ini: IoT, Bisnis TIK, Hackathon, Design Animasi, Game Dev, E-Gov, Keamanan Jaringan, dan Cipta Inovasi.

                    Saya baru pertama kali menjadi juri pada kompetisi semacam ini. Dan acara ini juga baru pertama kali diadakan serta akan bersifat tahunan. Saya ditunjuk untuk menjadi juri kategori IoT. Kategori yang saya tidak tertarik untuk menjadi pelaku, namun sangat tertarik untuk mengamati dan mempelajari. Menjadi juri di kategori ini memaksa saya untuk belajar lagi prinsip-prinsip dasar IoT dan Industri 4.0.

                    Peserta kompetisi ini dari banyak Poltek yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam kategori yang saya tangani, para mahasiswa saya nilai cukup kreatif dan pintar. Saya salut ke mereka dengan usia semuda itu tapi bisa melakukannya. Bermacam-macam yang telah dibuat oleh para peserta, ada sensor kesehatan sapi, pengatur irigasi, pemberi makan ternak otomatis, pemasak nasi otomatis, pengelola kamar kos, pengelola antrean, dsb.

                    Untuk IoT terdiri dari 3 juri. satu juri dari industri, satu juri dari akademisi dan satunya lagi juri umum (kali ini saya dalam posisi ini). Sebelum memulai penjurian, saya menanyakan ke juri akademisi terkait komponen kesiapan produk. Apakah yang dipresentasikan cukup berupa purwarupa atau sudah siap produksi. Pak Udin yang jadi dosen Poltek (akademisi) menjawab pasti “Siap produksi, karena keseharian di Poltek itu sudah prototype/purwarupa”.

                    Nah di sini saya akan sedikit memberikan beberapa catatan:

                    1. Mayoritas produk yang dipresentasikan masih sebatas purwarupa. Ada beberapa yang sudah siap produksi, namun terkendala tidak sanggup menghitung atau memperkirakan harga jualnya. Banyak diantaranya tidak memiliki antar muka yang baik.
                    2. Beberapa tidak berfikir untuk menjual produknya karena mengharapkan dana bantuan/hibah/funding. Ini baik jika implementasinya untuk kelembagaan seperti yayasan. Namun perhitungan nilai produk harus tetap ada.
                    3. Banyak yang rumit sehingga tidak praktis. Ini mungkin dikarenakan kepintaran peserta. Saya yakin mereka pintar-pintar sehingga sanggup membuat produk yang kompleks sehingga melupakan asas praktisnya.
                    4. Masih berkutat di menampilkan data di dashboard. Jika cuma menggunakan IoT untuk menampilkan data di dashboard, ini masih Industri 3.0, di 4.0 harusnya rawdata diolah/dianalisa dan dikembalikan ke peralatan IoT untuk melakukan aksi-aksi selanjutnya.
                    5. IoT itu membutuhkan koneksi internet. Ada beberapa peserta yang dalam realitanya akan sangat kesulitan menerapkan produknya dikarenakan faktor akses internet, bahkan listrik. Dalam pengujian produknya mungkin sarana internet sudah mendukung. Sehingga dalam produknya harus dibatasi atau diberikan prasyarat dalam implementasi nyata.
                    6. Presentasi banyak membahas seputar teknis, bukan produk itu sendiri. Ini terkesan peserta kurang bisa menjelaskan produknya, mereka terlalu fokus pada hal-hal teknis dan teknologi. Bukan pada penerapan produk dan fitur-fiturnya. Terkait teknis, juri pasti akan menanyakan ke mereka.
                    7. Kurang uji produk. Beberapa peserta dalam presentasi produknya tidak berjalan mulus. Saya menduga ini kurang diuji dikarenakan waktu mereka terbatas.
                    8. Dalam kacamata saya, jika ada salah satu peserta yang sudah MoU dengan industri/bisnis terkait produknya, mungkin bisa jadi pemenang. Banyak jalan untuk ke sini.

                    Di luar catatan di atas, saya banyak bertemu dengan para akademisi. Orangnya pinter-pinter dan baik. Walau saya yakin seyakin-yakinnya, kalau mereka ngajar pasti galak dan bawel.

                    Bersama para dosen Poltek

                    Bertemu orang pinter dan baik itu bisa menjadi obat hati.

                     

                    Hapus Mobile Legend, ganti dengan GCompris

                    Ini adalah salah satu kejadian unik di stan Ridon pada acara Bekraf-Habibie Festival 2018 beberapa hari lalu.

                    Ada seorang anak kecil kelas 2 SD tertarik melihat display yang menampilkan video GCompris, kemudian si anak menyentuhnya karena dikiranya display tersebut layar sentuh.

                    Kemudian saya dekati, sambil bilang kalau mau main pakai laptop yang di bawah itu!
                    Singkat cerita si anak memainkan GCompris di laptop layar sentuh yang sengaja saya bawa dari Semarang (sebenarnya notebook sih).
                    Si anak sangat senang sekali memainkan GCompris.
                    Saya pun menjelaskan cara memilih permainan sesuai tingkat sekolahnya, tentu saja terlebih dulu saya tanya ke dia kelas berapa.
                    Salah seorang anak bermain GCompris di stan Ridon
                    Tidak beberapa lama kedua orang tua si anak mendekati saya.
                    Kemudian terjadi percakapan berikut:
                    S: Saya
                    B: Bapak
                    I: Ibu

                    B: Permainan ini bisa didapat dimana?
                    S: Bisa download di situs resmi GCompris

                    B: Bayar apa tidak?
                    S: Untuk Desktop (komputer) terdapat beberapa versi, ada yang berbayar ada juga yang gratis?

                    B: Kok ada yang bayar ada yang gratis?
                    S:  karena terdapat beberapa versi, yaitu versi Microsoft Windows dan versi Linux

                    B: Yang gratis yang versi apa?
                    S: Versi Windows dan Linux ada yang gratis semua

                    I: Katanya ada yang berbayar?
                    S: untuk versi Windows terdapat 2 versi, yaitu versi Trial dan Full, versi trial gratis, versi full berbayar.

                    B: Perbedaannya apa antara versi trial dan full?
                    S: Versi trial tidak lengkap, sedangkan versi full lengkap.

                    B: Kalau yang gratis tapi full ada tidak?
                    S: Ada, yaitu versi Linux, salah satu contohnya yang sedang dimainkan anaknya bapak ini.

                    I: Apakah GCompris juga tersedia untuk versi Androidnya?
                    S: Ada, cari aja di Playsore

                    Kemudian si ibu buka Playstore, ketik GCompris muncul dah
                    I: Lho yang di playstore kok ada 2 macam, 1 berbayar, satunya gratis? perbedaannya apa?
                    S: Perbedaannya sama seperti yang versi desktop.

                    Bapak dan Ibu, serta beberapa orang yang mendengar penjelasan saya manggut-manggut.

                    S: Tapi kalau mau versi android yang gratis dan full bisa kami pasangkan.
                    B: Yang benar saja?
                    S: benar pak, nanti biar dipasangin sama mas-masnya yang ganteng itu (sambil nunjuk yang sedang duduk di kursi stan Ridon).
                    -
                    Kemudian bapak dan ibu orang tua anak tersebut diskusi sebentar.
                    B: Tapi HP yang kita bawa sudah penuh memorinya?
                    I: Hapus saja salah satu permainan!
                    B: permainan yang mana mam?
                    I: Hapus saja itu Mobile Legend, permainan gak guna dan ngabisin paketan, mosok tiap 3-4 hari sekali  anak kita minta duit untuk beli paketan.

                    Singkat cerita, HP orang tua si anak berhasil dipasangi GCompris versi Full dan gratis lagi.
                    Mas-mas ganteng sedang pasang GCompris di HP Android (gambar hanya sebagai Ilustrasi)


                    Ini ceritaku
                    Mana ceritamu?

                    Untuk yang ingin mendapatkan Apk GCompris versi Android Full dan Gratis silakan klik salah satu link di bawah ini:
                    Download Apk Andorid 

                    Reuni Para Pensiunan

                    Awal bulan Oktober tahun ini (2018), teman-teman penggiat dan pengguna FLOSS punya agenda yang sangat bagus, yaitu penggalangan dana untuk membatu para korban bencana di Sualwesi Tengah sana.

                    Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya saya mengajukan diri sebagai salah seorang pematerinya. Tidak lupa saya menyediakan buku untuk dibagikan ke semua yang hadir pada acara tersebut, baik panitia, pemateri, tamu, dan peserta. Alhamdulillah buku yang saya kirim ke panitia cukup ketika dibagikan

                    Awalnya acara ini akan diadakan di ruang Auditorium kampus STT Nurul Fikri, Jl. Lenteng Agung Timur, No.20, RT.5/RW.1, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
                    Beberapa hari menjelang hari H, tiba-tiba panitia pelaksana mendapat kabar yang cukup mengejutkan, yaitu tempat tersebut tidak bisa (tidak boleh) digunakan karena akan dipakai sendiri oleh STT Nurul Fikri.

                    Dengan adanya perubahan ini, tentu saja panitia pelaksana menjadi kalang kabut mencari tempat pengganti pelaksanaan acara, mengingat semakin mepetnya acara yang akan dilaksanakan
                    Setelah teman-teman melakukan lobi ke berbagai pihak, akhirnya di saat-saat menegangkan tersebut dapat tempat pengganti, yaitu acara akan dilaksanakan di Biznet Networks HQ Kav. 10-11 Jalan Jendral Sudirman, Midplaza 2, Floor 15th Tanahabang, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10220.

                    Untuk menuju lokasi diadakan tempat acara seminar, saya naik KA Kertajaya (kelas ekonomi) dari Stasiun Tawang Semarang jurusan Stasiun Pasar Senen dengan jadwal pemberangkat pukul 01.40 WIB, dan akan tiba ditujuan  pukul 08.40, tapi karena terjadi berbagai kendala akhirnya molor sekitar 1 jam.
                    Suasana stasiun Tawang pukul 00.45 WIB
                    Sesuai scedul, jika kereta yang saya tumpangi dari Semarang ke Senen tidak terlambat, maka harusnya saya naik KRL jurusan Pasar Senen - Bogor pukul 9.15, namun jadinya naik KRL pukul 10.20.
                    Sesuai arahan dari teman-teman KRLmania, untuk sampai di Midplaza 2, maka rute paling dekat adalah dari stasiun Sudirman, saya pun turun di stasiun Sudirman. Dari stasiun Sudirman menuju lokasi acara seminar saya naik ojek online, dan ketika sampai di lokasi acara seminar terlambat beberapa jam.
                    Salah satu koridor Comuterline pasar Senen

                    Ketika tiba di lokasi acara, saya sudah ketinggalan beberapa materi seminar.
                    Ternyata di acara tersebut dihadiri oleh para senior penggiat dan pengembang FLOSS, terutama para pensiunan pengembang BlankOn Linux, dapat dikatakan semacam reuni pensiunan.
                    Ada teman lama yang dari tahun 2011 baru ketemu di acara ini, ada yang sudah 6, 5, 4, dan 3 tahun juga baru bertemu lagi di acara ini.

                    Kurang lebih pukul 12.00 WIB acara seminar dihentikan untuk memberi kesempatan yang hadir untuk istirahat, dan nantinya pukul 13.00 WIB akan dilanjutkan sampai selesai.


                    Pukul 12.49 WIB saya mengajak pak Manajer Riset BlankOn  turun ke bawah untuk menunaikan ibadah wajib, selesai menunaikan ibadah wajib kami berdua cari makan.
                    Ketika keluar dari  Midplaza 2 ketemu pak Manajer Rillis BlankOn, kami ajak sekalian saja. Sampai di warung makan, saya langsung pesan makan, eh kedua bapak manajer tadi malah tidak ikut makan, katanya sudah kenyang, akhirnya mereka berdua cuma minum air mineral dingin saja.


                    Pukul  13.35 WIB saya selesai makan, kemudian kami bertiga kembali ke acara seminar.
                    Lagi-lagi saya terlewat salah satu materi, yaitu materi yang disampaikan oleh pak Akhmat Safrudin dengan judul "TIK tanggap darurat bencana; Berbagi informasi pengalaman AirPutih". Materi ini sebenarnya berupa Diskusi Panel dengan Presentasi 10 menit per narasumber, Diskusi 45 menit.
                    Berikut materi pada diskusi panel tersebut:
                    • Memanfaatkan geoserver utk aplikasi kebencanaan - Edwin Zakaria
                    • Membuat peta data geospasial - Yanmarshus Bachtiar
                    • TIK tanggap darurat bencana; Berbagi informasi pengalaman AirPutih - Akhmat Safrudin 
                    Entah mengapa, ternyata urutannya materi antara pak  Edwin Zakaria pak Akhmat Safrudin ditukar. Dan akhirnya saya hanya menyaksikan materi yang mulai dibawakan oleh pak Edwin Zakaria.
                    Pak Edwin Zakaria sedang mendongeng
                    Begitu materi yang dibawakan pak Edwin Zakaria selesai, langsung dilanjut ke materi lainnya  yang dibawakan oleh pak Yanmarshus Bachtiar dengan tema Membuat peta data geospasial.

                    Tema materi ini sebenarnya sangat keren, yaitu menggambar peta dengan mengetik kode-kode tertentu di suatu program. Pak Yan menyebutnya cara ini seperti cara primitif.

                    Setelah sesi Diskusi Panel disertai tanya jawab yang cukup menarik, dan dilengkapi dengan banjir berbagai bingkisan

                    Acara kemudian dilanjutkan dengan materi Ceph untuk Enterprise yang disampaikan oleh pak Lazuardi Nasution. Sayangnya pada sesi ini saya tidak bisa ambil gambar, karena baterai HP saya sudah habis, dan perlu dicharger.
                    -
                    Sekarang giliran saya yang mendongeng, ya..... dongeng, karena materi yang saya sampaikan memang berupa dongeng tentang "Kontribusi di Bidang TIK Lewat Tulisan".
                    Salah satu salindia materi saya
                    NB:
                    • Ini adalah materi Presentasi FLOSS untuk Palu yang saya sampaikan, cara membukanya pakai peramban (browser) ya, jangan klik dua kali. Untuk navigasi gunakan tombol panah kiri atau kanan pada keyboard.


                    Selesai sesi yang saya bawakan, dilanjut dengan sesi pak Isfhani Ghiyath dengan judul Maximize Android Mobility with Kotlin and Reactive programming.

                    Akhirnya acara penggalangan dana acara FLOSS untuk Indonesia, Sulteng Bangkit selesai dengan terkumpulnya dana RP.xx.xxx.xxx,- (silakan tunggu panitia mempublishnya) .


                    Sebelum semua yang hadir kembali ke rumah masing, pihak panitia membagikan buku Menulis Buku dengan LibreOffice yang saya tulis, dan tidak lupa saya harus melayani permintaan tanda tangan dari mereka yang mendapatkan buku tersebut pegel rek tanda tangan akeh.


                    Masih ada lanjutannya, tapi belum ditulis




                    Buku Belajar Komputer Tingkat Dasar 3

                    Puji syukur tim penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, setelah molor beberapa waktu akhirnya buku Belajar Komputer Tingkat Dasar 3 yang kami tulis hari ini bisa rilis.

                    Buku ini adalah lanjutan dari buku Belajar Komputer Tingkat Dasar 2 yang sudah terbit sebelumnya. Seperti pada buku sebelumnya, materi dalam buku ini juga masih mengusung tema belajar dan bermain secara menyenangkan.

                    Adapun beberapa materi tersebut antara lain; mengenal hewan ternak dan hewan dunia, belajar mengetik surat, mengenal berbagai alat musik dunia, permainan ingatan pembagian dan perkalian, Siklus Air, dan beberapa permainan pendidikan lainnya.

                    Untuk mengunduh buku digital Belajar Komputer Tingkat Dasar 3 silakan pilih salah satu tautan berikut
                    Pembaca boleh menyebarkan buku versi digital ini ke masayarakat yang membutuhkan baik secara online ataupun offline, juga dipersilakan untuk membuat mirror di berbagai web atau server yang pembaca miliki.




                    Semarang, 14 Oktober 2018



                    BlankOn Tambora ke Debian Stretch

                    Mungkin ada yg sudah melihat status saya di IG.

                    Mesin saya, 32 bit, yang sejak pertama kali masuk sebagai pengembang dan saya gunakan sebagai uji pemutakhiran melalui `apt-get update; apt-get dist-upgrade; apt-get upgrade` semalam sudah berganti ke Debian Stretch.

                    Perjalanan panjang sejak Pattimura hingga Tambora.

                    Mungkin ini tanda.

                    Mungkinkah arsitektur ini akan menjadi mesin-mesin tua yang tak lagi dihargai?

                    Install Printer Epson TMU220D BlankOn XI Uluwatu

                    Beberapa bulan lalu penulis menjual beberapa printer Dot Matrix  Epson TMU220D (printer kasir). Salah seorang pembelinya adalah pengguna GNU/Linux yaitu BlankOn Linux. Beliau adalah pelanggan lama penulis yang sama-sama pengguna aplikasi Open Source. Di kantor beliau menggunakan BlankOn 8 Rote untuk menjalankan printer kasir.

                    Nah, beliau beli printer lagi untuk kantor cabang barunya, di cabang barunya tersebut mulai menggunakan BlankOn XI Uluwatu.
                    Permasalahannya adalah pada BlankOn XI Uluwatu tidak menyediakan lagi driver untuk Dot Matrix  Epson TMU220D secara baku, tidak seperti pada BlankOn 8 Rote di kantor lamanya.

                    Berikut ini adalah reka ulang yang saya lakukan untuk menginstall printer tersebut.

                    Satu:
                    Klik Menu Utama BlankOn => Administrasi => Print Setting
                    Dua
                    Pada jendela pengaturan printer yang tampil klik Buka Kunci agar bisa menambahkan printer baru, ketik sandi root komputer, kemudian klik Otentikasi.


                    Tiga
                    Klik Add untuk menambahkan printer baru, pada kotak Pilih Perangkat yang tampil pilih Unknown => USB, klik Forwad untuk melanjutkan ke langkah berikutnya

                    Empat
                    Pilih Epson, kemudian klik Forwad untuk melanjutkan ke langkah berikutnya

                    Lima
                    Ternyata pada daftar driver printer untuk Epson TMU220D tidak tersedia secara baku pada BlankOn XI Uluwatu.
                    Karena driver Epson TMU220D belum tersedia secara baku, maka harus ditambahkan sendiri, untuk sementara tunda dulu proses penambahan printer baru dengan klik tombol Batal.

                    Unduh Driver
                    Langkah selanjutnya adalah mencari drivernya dari situs resmi Epson, atau jika tidak ingin repot silakan unduh dari GDrive ini.

                    Ekstrak Berkas
                    Setelah driver printer berhasil Anda unduh, ekstrak berkas driver tersebut, caranya; klik kanan => Ekstrak Di Sini

                    Ubah Hak Akses
                    Sekarang ubah hak akses berkas driver printer, caranya seperti berikut; klik dua kali folder hasil ekstrak, pilih berkas install.sh => klik kanan => Properti => pilih tab Hak Akses, kemudian beri tanda centang pada kotak Eksekusi berkas sebagai program.

                    Install berkas .sh
                    Install berkas .sh yang sudah diubah aksesnya tadi, cara termudah adalah dengan menggunakan terminal, bisa dengan mengetik perintah tertentu yang sesuai, namun cara termudah adalah dengan membuka berkas .sh tersebut secara langsung lewat terminal.

                    Berikut caranya; klik berkas install.sh, kemudian seret ke dalam terminal, setelah itu lepaskan.

                    Tekan tombol Enter untuk melaksanakan eksekusi berkas .sh, ketik sandi root komputer yang sedang digunakan

                    Maka proses eksekusi berkas .sh melalui terminal segera berlangsung, pilih sesuai sistem operasi yang sedang digunakan, untuk BlankOn XI Uluwatu pilih Ubuntu 9.04 x86_64(64Bit), maka ketik angka 10, tekan tombol Enter untuk melanjutkan proses install driver.

                    Tunggu proses pemasangan driver hingga selesai, tekan tombol Enter untuk mengakhiri proses pemasangan driver.

                    Jika semua proses install driver sudah selesai, tutup terminal.

                    Sekarang tambahkan printer caranya seperti pada langkah Satu sampai Tiga. Nah, pada langkah Tiga ini jika proses install driver yang telah dilakukan sebelumnya benar, maka muncul menu EPSON TM/BA Printer, pilih menu tersebut, kemudian klik Forward untuk melanjutkan ke langkah berikutnya

                    Pilih Epson, kemudian klik Forwad, maka pada database pilihan printer bertambah tiga pilihan, yaitu TM BA Thermal, TM Impact Receipt, dan TM Slip, pilih yang TM Impact Receipt, klik Forward.
                    Maka segera muncul jendela berisi ringkasan printer yang sudah berhasil ditambahkan, klik Apply untuk menyelesaikan penambahan printer pada komputer.

                    Beberapa saat kemudian tampil jendela berisi pilihan apakah Anda mau mencoba printer yang telah ditambahkan atau tidak, pilih Batal jika tidak ingin mencobanya.

                    Sekarang printer Epson TMU220D sudah dapat digunakan pada BlankOn XI Uluwatu.
                    Di bawah ini contoh hasil uji coba untuk melakukan pencetakan nota penjualan menggunakan printer Epson TMU220D.

                    Demikian tutorial cara menginstall printer  Epson TMU220D pada BlankOn XI Uluwatu, sampai jumpa pada Tutorial lainnya.
                    -

                    Semarang, 12 September 2018

                    Liputan Bekraf Habibie Festival 2018 (bagian 1)

                    Di group Telegram Penerjemah GCompris sedang ramai membahas mengenai acara Bekraf -Habibie Festival Inovasi dan Teknolgi 2018 yang akan dilaksanakan di JI-EXPO Kemayoran.
                    Acara ini akan berlangsung tanggal 20 - 23 September 2018, pada acara tersebut Komunitas GCompris Indonesia akan ikut berpartisipasi pada salah satu stan.



                    Persiapan Menuju Stan

                    Untuk menuju ke acara Bekraf -Habibie Festival Inovasi dan Teknolgi 2018 penulis berangkat menggunakan tronsportasi darat, yaitu Kereta Api.

                    Penulis beli tiket Kereta Api Stasiun Semarangtawang (SMT) tujuan Pasar Senen (PSE) melalui Bukalapak, alasannya karena kebetulan masih punya saldo di akun saya. 
                    Alasan lain beli tiket lewat Bukalapak karena punya voucer dengan potongan harga (cashback) Rp.50.000,-, lumayanlah buat beli chiki diperjalanan.

                    Penulis pilih kereta Majapahit (141) kelas Ekonomi (P) dengan jadwal keberangkatan Kamis, 20 September 2018, Pukul 03:50 WIB dan sampai tujuan Kamis, 20 September 2018, Pukul 10:08 WIB.

                    Ternyata penulis salah beli tiket, seharusnya beli tiket yang berangkat dari Pekalongan bukan dari Semarang, karena tanggal 19 penulis menjadi pembicara di  salah satu pelatihan di Pekalongan.

                    Jadi tanggal 19 September malam (pukul 19.xx WIB) penulis terpaksa pulang dulu ke Semarang hanya demi tiket yang sudah dibeli tadi, kalau misalnya penulis tidak salah beli tiket, tentunya penulis bisa menginap di Pekalongan, dan paginya langsung berangkat ke Jakarta langsung dari Pekalongan.

                    Singkat cerita, hari Kamis, 20 September 2018 pukul 03.10 WIB penulis berangkat ke Stasiun Tawang Semarang naik Gojek, dan sampai di Tawang pukul 03.22 WIB yang suasananya sangat sepi, di stasiun Tawang penulis langsung cetak tiket dan nunggu kereta datang.

                    Suasana ruang tunggu Stasiuan Tawang jam 03.32 WIB
                    Kereta Majapahit yang ditunggu datang terlambat 8 menit, yang seharusnya datang pukul 03.50 WIB, datang pukul 03.58 WIB.

                    Penulis naik kereta sesuai nomor gerbong di tiket saya, kemudian pilih tempat duduk yang benar.

                    Penumpang kereta pada gerbong yang penulis naiki sebagian besar adalah penumpang dari Jawa Timur, ada yang dari Kediri, Lumajang, Madiun dll.

                    Sampai stasiun Pasar Senen pukul 10.19 WIB, turun dari kereta, jalan di koridor untuk keluar dari stasiun, cari kendaraan untuk mengantar ke JI-EXPO.
                    Pesan Go-Jek lewat aplikasi di HP buatan China yang dirakit di Indonesia yang pemulis bawa.
                    Nunggu ojek penjemput di depan Patung Pahlawan, 2 menit kemudian ojek yang penulis pesan datang.

                    Lokasi Stan

                    Pukul 10.42 WIB penulis sampai di JI-EXPO, cukup agak lama karena beberapa kali kena macet, biasalah Jakarte punye.

                    Setelah muter-muter di arena stan sambil bawa kardus Mie Sedap yang isinya buku Inksscape dan LibreOffice, akhirnya penulis sampai di stan BlankOn dan Ridon.
                    Ternyata lokasi stan BlankOn berbeda dari denah yang dibagikan oleh panitia, pada denah yang dibagikan oleh panitia, lokasi stan BlankOn bersebelahan dengan Ridon, tapi berubah saling berhadapan.
                    Susunan stan yang dibagikan panitia
                    Di stan Ridon beberapa teman sudah siap dengan posisi masing-masing, begitupun di stan BlankOn, tidak jauh berbeda.
                    Akhirnya penulis pilih bantu-bantu jaga stan Ridon daripada stan BlankOn, alasannya adalah karena penulis sudah pensiun dari pengembang BlankOn.

                    Suasana Stan

                    Suasana stan Ridon cukup ramai, hal ini terjadi karena display di stan Ridon menampilkan beberapa video GCompris sehingga menarik anak-anak sekolah untuk mencoba GCompris pada salah satu laptop layar sentuh yang pemulis sediakan untuk demo.



                    Bukan hanya anak-anak yang tertarik dengan permainan GCompris, para orang tua juga banyak yang sangat tertarik.


                    Bahkan beberapa orang tua banyak yang bertanya tentang aplikasi permainan pendidikan tersebut. Sebagian ada yang menanyakan bagaimana cara menggunakan GCompris, apakah ada bukunya.

                    Akhirnya salah seorang yang telah menulis buku tentang GCompris untuk diterapkan pada dunia pendidikan memberi penjelasan singkat.


                    Pukul 12.54 penulis dan beberapa teman penjaga stan Ridon sholat Dzuhur di lantai 2 dalam gedung yang sama untuk pameran.

                    Setelah sholat dzuhur, tidak lupa penulis mengambil gambar suasana stan untuk dokumentasi.

                    Suasana pameran (foto diambil dari lantai 2)

                    Pukul 13.32 WIB kami berlima makan siang bersama di salah satu Fast Food depan gedung pameran, yang semuanya dibayari oleh pak Iwan Tahari.

                    Pukul 16.30 WIB penulis berpamitan ke teman-teman penjaga stan Ridon dan BlankOn untuk berangkat ke Tangerang, karena besoknya hari kamis tanggal 21 September 2018 akan mengisi pelatihan Mail Merge dengan LibreOffice di Pabrik Sepatu Fans.


                    Tangerang 21 September 2018

                    Catatan Perjalanan CGK-HKG-TPE

                    2018-08-09 11.41.35

                    Bukan perjalanan pertama saya melalui rute ini, namun tak salah menuliskan catatan ini.

                    Pesawat saya berangkat Kamis pagi jam 8.15 dengan Catay Pacific CX-718. Saya sudah melakukan checkin online sebelumnya melalui website dan memilih nomor kursi. Catay Airways hanya mengijinkan melakukan checkin online mulai dari 48 jam sebelum keberangkatan. Kemudian saya memilih Muslim Food dari menu checkin Catay. Pilihan Muslim Food hanya tersedia di Penerbangan HK-TPE, sedangkan dari CGK-HK semua makanan adalah Halal. Untuk penerbangan pulang, pilihan Muslim Food hanya tersedia dalam penerbangan TPE-HK, sedangkan HK-CGK semua makanan dinyatakan halal, sehingga tidak perlu memilih lagi. Selalu bawa botol minum isi ulang.

                    Di bandara Terminal 2F, saya segera melakukan checkin dan drop bagasi. Meski berangkat bertiga, urusan ini mending diselesaikan sendiri tanpa harus tunggu-tungguan. Lanjut imigrasi karena bagian ini cukup memakan waktu. Sampai di loket imigrasi, tebakan saya benar, antrian mengular. Butuh 15 menit dari awal antri hingga pemerikasaan saya selesai. Huft. Sampai di bagian Gate baru mencari Pak Edwin dan Pak Haris yang ternyata sudah duduk ngopi dan sarapan di Old Town Coffee. Oh iya, dalam penerbangan internasional terdapat banyak catatan dalam barang bawaan yang biasanya rewel juga, diantaranya:

                    1. Aturan benda cair dalam botol, maksimal 100ml dan dimasukkan ke kantong zipper bening.
                    2. Sebelum x-ray terakhir, pastikan botol minum dikosongkan. Nanti bisa diisi kembali di water refil setelah x-ray tersebut.

                    Boarding 40 menit sebelum jam keberangkatan. Penerbangan ditempuh dalam kurun waktu 5 jam 10 menit. Terdapat perbedaan waktu antara Jakarta dan Hongkong, yaitu lebih cepat 1 jam. HK GMT+8. Saya langsung mengatur jam tangan dan jam di HP agar ikut berganti. Perjalanan saya habiskan dengan tidur, membaca novel dan mendengarkan musik. Terdapat layanan hiburan yang memadai di dalam kabin pesawat.

                    Oh iya, saya lupa penerbangan Catay menggunakan pesawat jenis berapa, namun di kedua pesawat itu terdapat colokan universal yang bisa digunakan untuk mencharge HP. Ada dua kemungkinan lokasi colokan itu berada. Pilihan pertama ada di lipatan meja makan. Yang kedua pilihannya di bawah kursi, di bagian pertemuan kursi. Silahkan diraba perlahan. Oh iya, ada indikasi lampu hijau yang hidup menandakan charger bisa digunakan karena jika lampu tidak hidup, berarti tidak ada arus yang berjalan. Lampu beberapa kali mati, biasanya ketika akan lepas landas, ada goncangan dan ketika akan mendarat.

                    Saya sedikit rewel jika berada dalam ruangan AC cukup lama. Apalagi jika di dalam pesawat. Ini menyebabkan hidung saya iritasi kemudian mimisan. Makanya saya selalu menggunakan masker dalam pesawat jika lama penerbangan lebih dari 2 jam. Tak lupa jaket tebal bertudung kepala.

                    Mendarat di HK pukul 14.20 waktu setempat. Setelah membawa bagasi kabin, kemudian menuju couter checkin transit. Nyari tempat isi ulang air minum, minum secukupnya. Lanjut menuju gate transit. Butuh naik 1 lantai dan kemudian dilakukan pemeriksaan ulang, x-ray bagasi kabin dan screening. Pastikan sebelum masuk pemeriksaan, kosongkan botol minum agar mempercepat proses scanning.

                    Koneksi internet di Bandara HK saya acungi jempol. Cukup aktifkan Wi-Fi kemudian pilih nama access point untuk bandara HK, setujui persyaratan dan peraturan. Setelah itu bisa berinternet ria tanpa pembatasan durasi berinternet. Untuk kecepatan tidak perlu dikomentari, cukup cepat.

                    Menuju Gate penerbangan selanjutnya. Tetapi butuh menemukan tempat sholat. Di terminal HK, tempat sholat dapat ditemukan di dekat Gate 42-43. Peralatan solat, mukena dan alquran tersedia rapi. Arah kiblat juga tersedia. Tempat wudhu tersedia di dalam ruangan. Perlu dicatat juga, mushola tersebut bukan merupakan tempat ibadah khusus muslim. Jadi kita kemungkinan akan berbagi ruang dalam sunyi dengan pemeluk agama lain.

                    Selesai sholat, kita mencari makan. Restoran Halal tersedia juga di foodcourt sekitaran Gate 40. Old Town Coffee. Makanan semenanjung malaya dan Indonesia.
                    Saya memilih kari ayam dengan harga 92 Dolar HK termasuk Es Teh Manis.

                    2018-08-09 16.28.00

                    Selesai makan, kita bergeser ke Gate 62 dimana kita melanjutkan perjalanan selanjutnya ke TPE. Dalam pesawat kita dibagikan lembar pengisian informasi kedatangan. Saya sebelumnya sudah mengisi secara online, tapi nulis lagi gpp. Jadi selalu bawa ballpoint di tas kabin untuk memudahkan mengisi form pelaporan. Karena dengan mengisi ketika masih di pesawat, bisa mempercepat kita dalam antrian imigrasi.

                    Mendarat. Kemudian buru-buru antri imigrasi. Butuh sekitaz 20 menit antri hingga keluar imigrasi. Lanjut ke konter bagasi untuk mengambil koper. Sembari antri, saya mampir toilet dan mengaktifkan pake Mi Roaming Taiwan. Apa itu Mi roaming? Akan saya ceritakan di postingan selanjutnya.

                    Keluar bandara, sudah di jemput oleh Franklin Weng. dan cerita berlanjut ke tulisan ini

                    Salam
                    Estu

                    Kembali Mengunjungi Kediri

                    Saya berkunjung ke Kediri pertama kali sekitar 2002. Setelah itu beberapa kali ke sana karena pada tahun 2005 saya menikah dengan orang Kediri. Sekitaran 2005 sampai 2007 akhir, beberapa kali ke sana, dengan roda dua berjenis Vega R. Saya kurang mengenal kota ini, kurang keliling karena di era itu memang tidak mampu keliling dan piknik-piknik. Sekarang sudah mampu, tapi sendiri, atau paling banter cuman sama Runa Rana, mamanya gak mau ikut karena sudah pisah. Ada rasa penyesalan dalam hati.

                    Pagi ini saya menyusuri daerah pinggiran Kabupaten Kediri dan Kota Kediri. Ya, Kediri dibagi dua, Kota madya dan Kabupaten, mirip dengan Bekasi.  Dengan motor yang dikenal oleh netizen sebagai motor sok gede, NMAX, saya melewati “Arc De Triomphe” di Simpang Lima, sampai ke tengah kota, tempat saya menginap di sebuah hotel kecil. Dulu saya memang menganggap Kediri itu lebih ndeso dari Gresik, namun sekarang Gresik lah yang jauh lebih ndeso. Dari segi penataan kotanya serta pertumbuhannya. Tentunya Kediri memang lebih luas dari pada Gresik.

                    Dulu saya cukup kagok untuk menghafal daerah/jalan di tengah kota. Namun dengan google maps, membaca sebentar, langsung paham. Terakhir ke kota ini barangkali 2013, saat ayah mertua meninggal. Kedepannya saya bakalan sering mondar mandir ke kota ini. Semoga nanti bisa ketemu komunitas FOSS atau Kamen Rider Club.

                    Bayar BRT dengan Go-Pay

                    Awal bulan Januari lalu sempat ngobrol-ngobrol dengan teman yang kerja di Dinas Perhubungan, katanya BRT punya wacana untuk menerapkan pembayaran non tunai seperti TransJakarta, tapi permasalahannya infrastruktur Semarang belum siap

                    Eh, kemarin ketika mau naik BRT dari Mangkang ke Pasar Bulu, ditanyain sama mbak-mbak petugas tiket, berikut percakapannya:
                    M: mbak-mbak
                    S: Saya

                    M; Punya Go-Pay gak mas?
                    S: Punya

                    M: Sekarang bayar BRT bisa pakai Go-Pay mas
                    S: Bagaimana caranya

                    M: Masnya buka aplikasi Go-Jek, kemudian pilih "Scan QR"
                    Arahkan kamera ke kode QR di mesin E e-tiketing

                    Singkat kata, kemarin saya naik BRT bayar pakai Go-Pay dengan biaya Rp.9,-



                    Catatan:
                    • Tarif Rp.9,- berlaku dalam masa promo, yaitu tanggal 03 September s/d 31 Oktober 2018
                    -
                    Ini ceritaku, mana ceritamu

                    Diprotes Customer


                    Pada suatu hari yang cerah, saya baru saja akan berangkat ke kios, eh ada customer yang kemarin nyerviske komputernya, beliau langsung bertanya
                    Apa mesin komputer (motherboard) miliknya saya tukar?
                    Saya jawab:
                    Tidak pak"

                    Beliau tanya lagi:
                    Lho sekarang waktu dinyalakan koq pertama kali keluar tulisan Samsung? padahal biasanya tidak.

                    Saya baru ingat kalau kemarin BIOS pada motherboard komputer tersebut saya flash ulang, dan saya lupa pengaturan Logo pada BIOS tidak dimatikan (disable).

                    Akhirnya saya jelaskan bla...... bla..... bla....., tapi tetap aja beliau ngeyel dengan menuduh saya telah menukar motherboardnya,.

                    Kemudain saya pun balik tanya:
                    Lha memang motherboard bapak sebelumnya merknya apa?

                    Dia jawa:
                    Merknya Windows"

                    Waduh.......
                    Untung logonya tidak diganti seperti ini


                    Saya pun menjelaskan lagi Windows itu nama sistem operasinya, tidak ada merek mesin komputer (motherboard) windows.

                    Beliau tetap aja ngeyel, ya sudah nanti bawa lagi ke kios, nanti saya beri penjelasan lengkapnya.

                    Akhirnya sesuai kesepakatan bersama, esok harinya beliau datang ke kios dengan membawa komputer tersebut.

                    Saya pun menjelaskan sambil mempraktekkan cara menyembunyikan logo motherbord komputer tersebut, dan beliau dapat menerimanya dengan baik, bahkan tampak senang katanya dapat pengetahuan baru

                    Taipei, openSUSE Asia Summit, Power of Community

                     

                    When you’re planning a trip to Asia, Taipei probably isn’t be the first destination that comes to mind, as it’s often ignored in favor of more popular tourist spots like Tokyo or Hong Kong. But don’t ignore a trip to Taiwan’s big city — it’s an inexpensive, quirky metropolis with some of the best night markets in all of Asia. This is the second time i’ve visited Taipei for openSUSE Asia Summit.

                    FYI, The last openSUSE.Asia Summit was held in Tokyo, Japan.

                    Here we go. Me and the famous Mr. gecko!!

                    Thursday 9 Aug, Day -1 (Travel to Taiwan)

                    This time, 14 people came from Indonesia to join openSUSE Asia Summit 2018 in Taipei. We divided to 3 groups. One group flight from Juanda Surabaya (Darian, Aftian, Joko, Rania). One group at morning flight from CGK (Haris, Edwin, Estu). Last group with afternoon flight from CGK (Kukuh, Didiet, Rifki, Yan Arief) And 3 others people; Tonny, Iwan Tahari, Siska join a separate flight.

                    My group is the first team landing in Taiyuan Airport. At international arrival gate, Franklin Weng pick us up to hostel, but we decided to visited Frank office before going to Hostel. We meet Eric Sun and their team. Artistic team who create video for opening ODF Reader on Android. The video created using Blender Software.

                    22.00 we arrive at hostel. Many thanks to Frank for deliver us. :D. A few hours later, 2 more groups arrived at hostel. We are stay at same hostel. A comfort dormitory with share room. First Hostel, not far from Daan Park. Let call it a day and sleep all the night.

                    Friday 10 Aug, Day 0 (openSUSE Board and Community Meetup)

                    Today we plan join meetup at Taiwan SUSE Office after Friday Prayer. We visited Taiwan Grand Mosque, not far from Daan Park and our hostel. Before Friday Prayer, we take breakfast at Sakura Canteen (with Indonesian Food), next to Taiwan Grand Mosque. After praying, we going to SUSE office by walk. We came late to SUSE office, after lost direction. What a day!

                    Main discussion on SUSE Office

                    We meet openSUSE boards, SUSE Beijing and SUSE Taiwan, openSUSE Japan, openSUSE Taiwan; Ana Martinez and Simon, Sunny and team, Alcho and team, Takeyama and team, Sakana etc. You can watch meetup video from Sakana here.

                    Our discussion focus on some point:

                    • How to prepare for next summit. We start create guideline for better preparation
                    • How to engage more student to join GSOC for openSUSE Project. We plan to choose local coordinator each country to break gap between GSOC/Mentor Team from openSUSE and students from various county, especially Asia.
                    • openSUSE Asia Summit album. Takeyama as part of Japan openSUSE team hand over album to Sakana, as local committee for current summit.

                    Lets finish foods and take photos!! After that, we moved to near building for tonight’s party. COSCUP Welcome Party at Zhangmen Brewing — Breeze Songgao Store. Before party, Libre Office Taiwan invited us for dinner. Sounds like Taiwan Cuisine. Yummy..

                    19.00 we join the party. Nice place with Taiwan 101 as background. At this party I meet many friend from another community. Some people which I have meet at GUADEC 2015, some people I have meet at GNOME.Asia or FOSSAsia. Let’s call it a Big Reunion.

                    21.00 we back to hostel by MRT. Let’s rest for tomorrow but wait this is 1 day before Summit and I should check my laptop for prepare my presentation.

                    Saturday 11 Aug, Day 1 (Opening of openSUSE Asia Summit 2018)

                    This year, summit is special because joint event between openSUSE Asia Summit x GNOME Asia Summit x COSCUP 2018.

                    Venue at Taiwan Tech, International Building. Lets register first. I get nice booklet. There are the details of schedule, abstract from speaker, sponsor and etc. You can download apps too for detail of this event just search COSCUP at Google Play.

                    8:50 to 9:05 opening by Board members (Ana & Simon) at Main Hall. After that I join talk Open Source Social Innovation by Audrey Tang, a civic hacker and Taiwan’s Digital Minister in charge of Social Entrepreneurship.

                    Then I join Nuritzi Sanchez at 306 Room, The year of the GNOME. Mbak Nur, talk about what happening at GNOME this year; include their move to Gitlab, anonymous donation, etc. Nice talk and very impressive presentation.

                    Next lunch and move to 304 room. After lunch I join Aftian and Masayuki Igawa. Aftian talk about Nusantara Metode Input at openSUSE. What is Aksara Nusantara and how write using Aksara Nusantara at openSUSE. Nice history.

                    Masayuki Igawara talk How Building Tiny Private openSUSE Cloud using openstack and small server (1U). Interesting talk and very nice presentation.

                    After that, I join to 201 room. Get last presentation from  Max Lin. I start to prepare because my turn after Max Lin. I bring presentation about How Jogja Become City of GNU/Linux User Friendly. You can find my slide at this slideshares and read my story about this in Bahasa Indonesia Thank you for all friend who join my class, anyway.

                    After finish my duty, I join main hall again to watch Ralf Flaxa Talk, The Bright future of SUSE and openSUSE. until drop. First day will be closed by BOF Session.

                    We parting on three team. Ahmad Haris and Surabaya team join BoF with Libre Office Taiwan at Frank Office. Edwin, Kukuh join openSUSE BOF, here Kukuh start presentation to bid next openSUSE Asia Summit at Bali Island, Indonesia, and Shobha Tyagi bid too for India Team. After watch Kukuh presentation, I join to GNOME BOF.

                    at GNOME BOF we have some point:

                    • Max and Emily step down for Asia Committee after 10 years
                    • Review for GNOME Asia Summit.
                    • GSOC at GNOME

                    That’s all for 1st day of summit. Time to back and rest.

                    Sunday 12 Aug, Day 2 (openSUSE Asia Summit 2018)

                    I came late, spent morning for rest and catch up for my work. I join 201 room, Alcho with Introduction OBS, Kukuh with openSUSE Leap & Flatpak. After that watch Daniel Lin, Introduction to openSUSE Portus. Last, join 304 room, Yan Arief with, Having fun with KDE:create a Plasmoid.

                    We start moving to main hall again for the closing Summit.

                    After summit done. Kukuh, Edwin, Haris and me join COSCUP dinner with openSUSE Board, SUSE Team, GNOME Board, and local committee at Restaurant, using Bus. Try Tiawan Cuasine again. There’s so many dellicious food. Starting with sashimi;raw seafood, crab soup, fried crab, stinky tofu, fried rice, etc.

                    At 21.30 we came back to hostel.

                    Monday 13 Aug, Day 3 (One Day Trip)

                    Many Speaker join one day trip. We gather at Taipei Main Station. After that we visit National Palace Museum using bus from Taipei Main Station. See a lot of historical inheritance. After that, we are going to Taipei 101. Before going up, we get lunch at grand floor Taipei 101. Thanks for local committee to serve Halal Food. After lunch, see Taipei City from 88th floor Taipei 101 Observatory. We lucky can go out site at 92th floor because that day sky is very clear.

                    17.00 we move to Taipei City Mall, search for GUNDAM. Edwin, Haris and Tonny buy lot of them. Darian, Joko and Aftian leave first to Airport. They flight at tonight. 19.30 we move to Masalut Restaurant. Thanks Eric and Frank for the food. After dinner. Kukuh and team leave to Airport. They flight at tomorrow morning. So, Rania, Haris, Edwin, Iwan Tahari and me will be last team who leave Taipei.

                    Epilog

                    That all my story about my journey at Taipei. I’m happy can join this summit. I think, it is impossible for me get this experience without contribution to community. My contribution not about code, I help prepare local committee to held openSUSE Asia Summit as part of Asia Committee with Edwin, Sunny, Takeyama, Alcho and many other. Joko, Darian, Rania and Rifki; It will be their first time going abroad. What do you feel guys?

                    Many thank to openSUSE and Binar Academy for travel support. Thanks to Max Huang, Alcho and COSCUP Teams, also thanks to Franklin Weng and Eric Sun for warm welcome!

                    See you next year summit at Bali(maybe).

                    Estu

                    Other photo can be access at flicker groups:

                    PS: other story:

                    GNOME Asia Summit 2018 – Taipei, Taiwan

                    GNOME Asia Summit 2018 this time happen in Taipei – Taiwan, at National Taiwan University of Science and Technology, August 11 – 12, 2018. This summit is co-host between openSUSE Asia Summit and COSCUP, so the summit title is COSCUP 2018 x openSUSE Asia Summit 2018 x GNOME Asia Summit 2018.

                    I arrived at Taipei at Thursday – August 9. Franklin Weng from LibreOffice Taiwan pickup me at airport and go stright to A+A Workshop. A+A Workshop was place that FOSS Community from Taiwan used for meetup every Thursday. Franklin introduce me to others. Then go to First Hostel to meet other friends from Indonesia who also attend this conference. Most of them from openSUSE Indonesia.

                    #0 day

                    On Friday, me and others have free time. We go to Taipei Grand Mosque to Jum’ah (Friday) Praying, then I meet my High School Friends who live in Taipei. Then I go to Microfocus office to meet other Indonesian and openSUSE Community. At night, have dinner with LibreOffice Community around Asia, LibreOffice Taiwan (Franklin Weng) paid for our food.

                    Then we go to welcome party for speaker and staff. My role for this event was part of international staff, so I have invitation for this with others. It’s good time to see each others and good night few. Few openSUSE and SUSE member discuss with me about potential held openSUSE Asia Summit and GNOME Asia Summit together next year.

                    Taipei 101 from roof top

                    #1 day

                    This summit was very crowd comparing to COSCUP 2016 (I became speaker at that time). On first day attended by 1364 participant and on second day attended by 784 participant. It has 15 parallel classes. Few of them are in English, especially from openSUSE and GNOME.

                    In this summit, I help to manage coordinating for web content, design, and also material design such as logo. Many friends from Taiwan and Indonesia contribute in this. I’m not become speaker this time, but I bring few students and they become speaker.

                    Empty Class

                    On first day, I’m joining Benjamin Berg class, he’s talking about “Supporting Miracast on the GNOME Desktop” which is very interesting for me comparing to others. Then “Desktop applications: life inside a sandbox” by David King then The Year of the GNOME by Nuritzi Sanchez. I spent few hours for discussion with other participant. Sharing mine and their activity about contributing to FOSS. And also I try to find praying room, and found it next conference building. So comfortable. The organizer also give me food that compatible with Halal Food, and I see Sobha and her student got vegetarian food. It’s prepared well.

                    At evening, we have official two official BoF (openSUSE and GNOME) and one unofficial BoF (LibreOffice). I was realy confuse which one that I must join. But I made decission, because I bring 3 students that contribute in LibreOffice this year, so I will help them to join LibreOffice BoF. Before we go, I told Kukuh to join openSUSE BoF (because he’s President of openSUSE Indonesia Community, but also GNOME Foundation Member), Estu and Siska join GNOME BoF (both of them also GNOME Foundation Member). But suddenly, Siska joining LibreOffice BoF.

                    In this BoF, we share experience between each person about contributing LibreOffice with different ways each of us. And also we have food here. This is my first time eat Sushi. 😀

                    Delicious or not?

                    #2 day

                    I was late going to venue, I’m not joining for keynote speaker session and directly going to class at break time. Starting my day with Bin Li’s class talking about Flatpak vs Snap. The class in Chinese but slide in English, still understanable for me. Then go to Iwan’s class which talking about Using Inkscape do Design Shoes.

                    After lunch I joining two Kukuh’s class, first about GNOME Recipes & Local Wisdom then openSUSE Leap & Flatpak.

                    Dinner at #2 day

                    In evening I invited by COSCUP to join dinner together other Indonesian going to Ximending to buy some souvenir. I was the same table with Max Huang, Ines, Sunny, Edwin Zakaria, Kukuh, Estu, Fuminobu Takeyama, Naruhiko Ogasawara, and Syuta Hashimoto. The food is good and many COSCUP staff here so we have lot of chat each others. They also prepare Muslim compatible food and also vegetarian food. Sunny help us to tell wich one that contain pork.

                    Sushi, Again!

                    #3 Day

                    This is last day of the event, I joining one day tour for speaker. Going to National Palace Meuseum and Taipei 101. I’m not excited because I’ve been here. NPM for second time and Taipei 101 for third time. But having together with other are good for me.

                    At Evening, Franklin and Eric invite all Indonesian to have dinner (again). IMHO, this is the best food that I have when visiting Taiwan this time.

                    Everybody Looks Tired

                    Notes

                    1. I’m GNOME Foundation Member and The Document Foundation Member, also from openSUSE Indonesia Community. Because of this, I have many chance to have chat with others.
                    2. There’s no GNOME Exhibition Booth this time
                    3. I help 3 students going to this conference, they never going abroad. I hope after this they can share their experience to others to increase contributor in Indonesia
                    4. I have meeting on second day with Max, Emily, Sammy and Haggen. Max stepdown from GNOME Asia Committee. Both Max and Emily handle lead GNOME Asia for decade. Now it’s me and Sammy.

                    Thanks to Max Huang and COSCUP Teams, also thanks to Franklin Weng and Eric Sun!

                     

                    Buku Belajar Komputer Tingkat Dasar 2

                    Puji syukur tim penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, akhirnya buku Belajar Komputer Tingkat Dasar 2 ini dapat terselesaikan.


                    Buku ini sengaja kami susun untuk memenuhi kebutuhan pelajaran Komputer Dasar sejak usia dini terutama pelajaran komputer yang berbasis kode sumber terbuka, karena selama ini masih sangat sedikit buku pelajaran komputer yang menggunakan sistem operasi dan aplikasi dengan berbasis kode sumber terbuka.

                    Materi dalam buku ini kami sesuaikan dengan beberapa mata pelajaran Sekolah Dasar atau sederajat dengan mengacu pada Kurikulum 2013 (K13) revisi 2017.
                    Adapun beberapa materi tersebut antara lain Pelajaran Perkalian dan Pembagian bilangan, mempelajari jam, kalender, dan waktu, belajar menggunakan keyboard, belajar menggunakan uang, dan beberapa permainan pendidikan lainnya.

                    Sebagian besar materi dalam buku ini adalah permainan berorientasi pendidikan sehingga anak-anak dapat belajar dan bermain menggunakan komputer secara menyenangkan. Dengan demikian maka anak-anak tidak bosan dalam belajar.
                     
                    Untuk meningkatkan mutu belajar siswa, di dalam buku ini juga dilampirkan berbagai soal latihan. Bahkan hampir setiap subbab memiliki soal latihan sendiri-sendiri dengan berbagai tema sesuai subbab yang diajarkan. Tujuannya adalah untuk menguji kemampuan siswa tersebut apakah benar-benar serius dalam belajarnya.

                    Untuk mengunduh buku digital Belajar Komputer Tingkat Dasar 2 silakan pilih salah satu tautan berikut

                    Pembaca boleh menyebarkan buku versi digital ini ke masayarakat yang membutuhkan baik secara online ataupun offline, juga dipersilakan untuk membuat mirror di berbagai web atau server yang pembaca miliki.


                    Semarang, 17 Agustus 2018








                    Dicurigai sebagai Pemakai


                     Cerita ini berdasarkan pengalaman saya tadi malam, dan cerita ini sudah saya alami dua kali, pertama terjadi pada beberapa tahun yang lalu waktu masih buka rental komputer.

                    Tadi malam ada teman telpon saya, dia bilang jika printer di rumahnya ngadat waktu dipakai, kemudian dia jemput saya untuk memperbaikinya.
                    Singkat cerita saya sudah sampai di rumahnya, setelah saya cek dan dicoba untuk ngeprint ternyata masih jalan normal namun tidak keluar tulisan, berdasarkan analisa dan pengalaman pribadi, kemungkinan besar tintanya habis.

                    Akhirnya diputuskan untuk membeli Tinta refil (isi ulang) karena jika mau ambil ke kios saya letaknya lumayan jauh, lagian di depan jalan terdekat untuk menuju kios di tutup karena ada salah satu warga yang sedang punya hajatan (inilah susahnya hidup di lingkungan padat penduduk).

                    Setelah muter-muter cari toko penjual tinta yang masih buka pada malam hari,  akhirnya sampai di toko komputer yang masih buka, kemudian terjadi percakan berikut:

                    S: Saya
                    P: penjual

                    S: Ada tinta untuk printer merk xxxxx seri xxxx mbak? (yang jaga toko cewek)
                    P: Ada mas (tumben di panggil mas :D)

                    S: Lihat barangnya dulu boleh?
                    kemudian dia ambil botol yang berisi tinta tersebut, kemudian disodorkan dua tangannya yang memegang dua botol tinta berbeda merk, "ini mas pilih yang mana?"
                    kemudian saya pegang dan amati salah satunya (maksudnya botol tinta bukan tangannya lho :D)

                    S: ini harganya berapa?
                    P: 25ribu katanya

                    S: oke saya beli yang ini, eh ini dikasih suntikannya gak?
                    P: tidak mas, disini gak ada suntikannya,

                    Singkat cerita lagi, setelah sedikit ngobrol ngalor-ngidul, tidak lupa saling tukar kartu nama dan nomor HP, akhirnya terjadi transaksi.

                    Sekarang terjadi masalah baru, yaitu mencari suntikan untuk mengisikan tinta ke cartridge printer, seperti pengalaman sebelumnya paling mudah untuk mendapatkan alat suntik adalah di Apotik.
                    Maka saya bersama teman yang punya printer tadi mencari apotik yang buka 24 Jam, singkat cerita Apotik sudah ditemukan (padahal tidak hilang) kemudian terjadi percakapan teman saya dengan pramuniaga Apotik sebagai berikut:

                    T: Teman
                    P: Pramuniaga Apotik (penjaga apotik)

                    T: Beli Suntikan ada?
                    P: Ada mas, yang kecil atau besar

                    kemudian teman tadi malah tanya ke saya
                    "he sing gede opo cilik?"
                    saya pun jawab
                    "sing cilik ae"

                    T: yang kecil aja, harganya berapa?
                    P: satunya 2500 mas

                    T: "oke saya beli 2" kata teman saya
                    P: maaf mas bisa lihat KTPnya?
                    Teman saya bingung bukanya diminta uang, eh malah dimintain KTP,
                    saya malah ketawa sendiri, karena pernah mengalami kasus yang sama :D

                    Teman-teman coba tebak kenapa penjaga Apotik 'minta KTP' ke teman saya

                    Ini ceritaku hari ini,
                    mana ceritamu?

                    Buku Belajar Komputer Tingkat Dasar 1

                    Salam sejahtera untuk Anda semua pembaca setia blog ini, postingan ini adalah update terbaru dari buku Belajar Komputer Tingkat Dasar 1 yang telah siap terbit.

                    Saat ini di pasar buku telah banyak buku belajar komputer tingkat dasar untuk anak-anak, namun hampir semua buku itu menggunakan sistem operasi dan aplikasi perangkat lunak tidak terbuka atau proprietary, misalnya MS Paint, MS Office, InDesign, CorelDraw, dan Photoshop.

                    Beberapa contoh aplikasi proprietary di atas tidak membebaskan lisensinya sehingga pengguna perlu izin dan umumnya harus membayar biaya lisensi untuk dapat menggunakannya secara legal.

                    Dan sayangnya hingga saat ini masih banyak tenaga pendidik yang tidak peduli dengan masalah tersebut. Sebagian orang (pengajar) memang sudah tahu kalau yang mereka lakukan tidak benar, tapi tetap saja mereka mengajar dengan beberapa aplikasi tersebut tanpa membayar lisensinya atau dengan kata lain tetap menggunakan aplikasi yang tidak legal.

                    Lalu mengapa mereka tetap mengajar komputer dengan menggunakan OS dan aplikasi proprietary? Karena sampai saat ini masih jarang ada buku belajar komputer tingkat dasar yang menggunakan sistem operasi dan aplikasi berbasis FOSS (Free Open Source Software), sehingga mereka terpaksa mengajar dengan aplikasi proprietary. 

                    Secara garis besar, aplikasi yang termasuk FOSS adalah program komputer yang dapat digunakan, digandakan/dikopi, dan diubah/dimodifikasi tanpa harus membayar royalti. Siapapun dapat mengunduh sendiri dan menggunakannya.

                    Buku ini hadir sebagai salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut, karena semua materi dalam buku ini menggunakan aplikasi FOSS. Selain menggunakan aplikasi FOSS, buku ini berisi panduan pelajaran komputer tingkat paling dasar.

                    Tim penulis sengaja menyusun buku dengan materi permainan pendidikan, sehingga anak-anak bisa belajar komputer secara menyenangkan, dan tentu saja materi permainan  yang kami masukkan telah disesuaikan dengan pelajaran sekolah paling dasar yang diajarkan di sekolahan.

                    Buku ini berbeda dengan beberapa buku yang penulis telah rilis sebelumnya yang mana pembaca jika ingin membacanya harus membeli terlebih dulu, misalnya buku Menulis Buku dengan LibreOffice yang harganya Rp.65.000,- untuk versi Hardcover dan Rp.40.000,- untuk versi Softcover. Untuk buku ini penulis bagikan secara gratis berupa buku digital (e-book) dengan format PDF, tujuannya adalah siapa pun dapat memilikinya dan kemudian mencetaknya sendiri.

                    Untuk mengunduh buku digital tersebut silakan pilih salah satu tautan berikut

                    Pembaca boleh menyebarkan buku versi digital ini ke masayarakat yang membutuhkan baik secara online ataupun offline, juga dipersilakan untuk membuat mirror di berbagai web atau server yang pembaca miliki.
                    -
                    Demikian, terima kasih

                    Kehidupan dan Cobaan/Ujian

                    Mudik kali ini terasa berbeda, saya bisa melihat sudut pandang lain. Saya menyempatkan bertemu dengan beberapa keluarga utama dari ayah dan ibu. Menyempatkan menemui keluarga adik saya. Kurang satu, tidak ketemu adik kecil saya yang memang sepertinya tidak berminat untuk ketemu saya.

                    Dari pertemuan-pertemuan tersebut, biasanya saya hampir tidak mendapatkan hikmah yang banyak selain dari cerita-cerita mereka. Namun kali ini berbeda. Saya mengingat ujian/cobaan masing-masing terhadap kehidupan mereka.

                    Ada yang diuji dengan bayang-bayang kesalahan masa lalunya, jauh dari anaknya, dikucilkan saudaranya; ada yang dicoba dengan kemampuan dan kelebihannya, sehingga apapun yang diingikan selalu terpenuhi; ada yang diuji dengan ketidak mampuan ekonomi; ada yang diuji dengan kondisi kesehatannya. Ada yang diuji dengan harus merawat orang tuanya yang sudah tua renta. Ada juga yang harus terus bekerja keras agar anak-anaknya bisa sekolah sampai jenjang yang tinggi. Ada juga yang diuji harus tetap berbakti kepada kedua orang tuanya, sehingga dia tidak bisa bekerja di luar kota.

                    Ada juga para orang tua-orang tua yang diuji dengan perilaku buruk anak-anaknya; ada yang anaknya bercerai; ada yang diusia tua masih harus membantu anak-anaknya untuk merawat cucu-cucunya; ada yang tidak memiliki anak dan hidup sendiri; ada yang memiliki anak yang sudah berkeluarga namun masih menggantungkan hidup ke orang tuanya dan beraneka ragam lainnya.

                    Saya mudik memang sengaja “terlambat”, hampir dua minggu setelah lebaran, hampir bertepatan dengan Haul Sunan Prapen. Saya sengaja melakukannya biar orang tua saya tidak kebingungan karena saya membawa istri (baru) setelah pernikahan sebelumnya kandas dikarenakan keegoisan saya.

                    Mudik sendiri bagi saya tidak berlaku, karena saya sering kali mengunjungi orang tua di beberapa tahun terakhir. Paling lambat dua bulan sekali. Namun mudik kali ini berkesan bagi istri yang orang Jakarta asli. Orang jakarta asli tidak memiliki kampung. 🙂

                    Istri juga jadi mengetahui sejauh mana tingkat kemiskinan bapak ibu saya. “Tidak terbayangkan sejauh itu”, katanya. Ya begitulah, tapi alhamdulillah anak-anak mereka sudah bisa mandiri semua, sehingga tinggal anak-anaknya membalas budi orang tua walau tidak akan pernah mencukupi.

                    اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

                    Buku Inkscape versi Digital Gratis

                    Bulan ini kurang lebih sudah dua tahun penulis menerbitkan dan mengedarkan buku Inkscape versi cetak, setelah melalui berbagai pertimbangan, hari ini penulis membagikan buku tersebut dalam versi digital (ebook).

                    Buku versi digital ini sengaja penulis bagikan secara gratis agar masyarakat umum yang tidak punya niat belum memiliki uang lebih untuk membeli buku versi cetak tetap bisa belajar menggunakan Inkscape.
                    Walau demikian penulis tetap menerima dengan senang hati jika ada pembaca yang mau memberi sedikit donasi sukarela.
                    Penulis menerima donasi berupa uang atau pulsa, tata cara melakukan donasi silakan baca halaman Kata Pengantar pada buku yang penulis bagikan.



                    Unduh Buku Inkscape versi Digital Gratis


                    Pembaca boleh menyebarkan buku versi digital ini ke masayarakat yang membutuhkan baik secara online ataupun offline, juga dipersilakan untuk membuat mirror di berbagai web atau server pembaca miliki. Jika mirror yang pembaca buat ingin dicantumkan di blog ini, silakan tulis mirror tersebut di bagian komentar blog ini.

                    Demikian, terima kasih
                    Semarang, Satu Februari Dua Ribu Tujuh Belas

                    Install WordPress di Docker

                    Ceritanya kemarin daftar Free Trial Google Cloud Platform, dan hari ini nyoba-nyoba sesuatu, salah satunya cara install WordPress di atas Docker, gampang banget ternyata… Langkah pertama, jalankan container mariadb, ganti “rahasia” dengan password yang diinginkan Kemudian jalankan container wordpressnya Akses ke http://ipaddress_vminstance

                    Dukungan Video MP4/H.264 di openSUSE Leap 15.0

                    openSUSE Asia Summit 2015

                    Setelah memasang Leap 15.0 di x260, ternyata saya tidak bisa memainkan gif ataupun video dari Facebook. Peramban yang saya gunakan adalah Firefox 60.0.1. Di lain sisi, memutar youtube tidak ada masalah. Dari hasil pengecekan https://www.youtube.com/html5 didapat bahwa format MP4/H.264 belum didukung oleh sistem operasi dan peramban.

                    Membaca wiki openSUSE ditautan https://en.opensuse.org/SDB:Firefox_MP4/H.264_Video_Support, masalah ini dapat diatasi dengan:

                    1. Pasang repo packman,
                    2. Pasang libav, sekalian memasang VLC
                      $ sudo zypper in vlc libavcodec56 libavcodec57 libavformat56 libavformat57 libavdevice56 libavdevice57
                      
                    3. Restart firefox, dan test kembali dukungan video di https://www.youtube.com/html5

                    Selesai. Horeee.

                    Estu~

                    GPD Pocket with openSUSE Tumbleweed

                    I’ve been curious and interested with GPD Pocket since last year, when first time it announced (https://www.indiegogo.com/projects/gpd-pocket-7-0-umpc-laptop-ubuntu-or-win-10-os#/).

                    I bought this tiny machine 3 weeks ago on aliexpress. Shipping take only a day, but custom clearance takes almost two weeks.

                    First impression about this laptop was cute and good built quality.

                    Tiny

                    Installing It with Linux

                    This machine preinstalled with Windows 10, I think it’s original but who cares. I need running linux on it.

                    I try Leap 15 for first time. Screen rotated -1 and wifi not working. Then I tried Ubuntu 18.04 and similar thing happen. I use iso from gpd site, Ubuntu 16.04 that already customized for GPD Pocket but not working (stuck at boot).

                    Ubuntu 16.04

                    I read some documentation at https://github.com/stockmind/gpd-pocket-ubuntu-respin to rebuild Ubuntu 18.04 iso, but not working enough. So I use another methode, installing it then use update.sh to reconfigure all. It’s working. But I’m not satisfied in it. I wanna Tumbleweed on this machine.

                    I download openSUSE-Tumbleweed-DVD-x86_64-Snapshot20180520-Media.iso and dd-ing it to usb flashdisk then install. Of course when installing process, my screen was rotated -1. I choose GNOME Desktop. But after reboot, GNOME works fine except:

                    1. wifi not working
                    2. no battery applet, and system not recognize battery

                    Patch

                    Kukuh Syafaat, President of openSUSE-ID told me that Richard Brown (@sysrich) use GPD Pocket. So I ask Richard on twitter and he gave me clue in https://github.com/sysrich/salt-states/blob/master/opensuse/laptop.sls.

                    I use few lines from laptop.sls and it’s working well. I translated that salt script into plain bash script at https://github.com/princeofgiri/gpd-pocket-patch.

                    After reboot, Tumbleweed still not detecting the battery.

                    Use Another Kernel

                    I remember that Leap 15 can recognize the battery. So I download the kernel and installing it. Yes it’s work, but there’s new problem, when in charging mode, battery applet seems not know if that time is in charging mode.

                    So I decide to compile kernel by my self. Got the source from https://github.com/jwrdegoede/linux-sunxi.git and the result was cool. It’s works.

                    Let’s Work

                    Notes

                    • I write this post using GPD Pocket
                    • I will write kernel compilation in another post
                    • Plymouth still rotated -1
                    Plymouth

                    Menjadi BlankOn

                    Hai, saya Estu.

                    Kali ini sedang mencoba menjadi manager rilis BlankOn XI dengan nama kode Uluwatu. Rilis kali ini pengerjaan dimulai 8 Feb 2017.

                    Apa yang terjadi dalam kurun waktu menuju Uluwatu?

                    Setelah rilis BlankOn X Tambora, hampir semua koordinator tim mengundurkan diri, tak luput beberapa pengembang veteran pun ikut gantung papan ketik.

                    Saya sendiri mungkin hanya sebagian pengembang lawas yang masih ikut. Mari bikin tim baru. Kenyataan pertama yang dari dulu sudah menjadi momok adalah baru sadar bahwa tidak ada dokumentasi yang memadai pada Infrastruktur dan aplikasi utama. Kedua hal itu biasanya merupakan tugas turunan untuk menjadi pawang mesin dan pawang aplikasi tanpa tau bagaimana kedua hal itu dibangun. Momok itu baru sadar ketika beberapa service tidak berjalan baik.

                    Selama perjalanan menjahit Uluwatu, ada beberapa kejadian yang menjadi catatan saya.

                    Milestone:

                    1. Perawatan Mesin BlankOn
                      • Waljinah, penambahan hardisk | Maret 2017
                      • Perawatan Rani, penambahan hardiks | Maret 2017
                      • Perawatan Alynne, penambahan CPU dan RAM | April 2017
                    2. Laporan kerusakan pada lumbung Tambora | April 2017
                      • Backup service, Alynne install ulang
                    3. Rekontruksi Pabrik CD, Pabrik Paket (IRGSH), dan Pabrik Repo | Maret – Juni 2017
                      • Inisiasi ananda | mesin baru di Digital Ocean untuk riset rekontruksi
                    4. Alynne gagal hidup dan bekerja akibat MotherBoard yg rusak | Desember 2017
                    5. Penyalahgunaan Maskot Boni untuk komersial

                    Pada rilis Uluwatu ini, tidak banyak yang berubah dari segi isi dan fitur. Beberapa hanya menaikan versi aplikasi. Namun beberapa kerjaan selesai yang saya anggap sebuah pencapaian dalam rilis kali ini ada banyak, diantaranya:

                    1. Dokumentasi bagaimana membangun layanan BlankOn.
                      Rilis kali ini saya ikut membidani rekontruksi infra BlankOn akibat beberapa catatan kejadian diatas.

                      • Dokumentasi Pabrik Repo menggunakan reprepro
                      • Dokumentasi Pabrik CC, service yg menjahit ISO BlankOn
                      • Dokumentasi Pabrik Paket (irgsh server dan irgsh worker)
                      • Isu-isu yang sering muncul di layanan dan bagaimana menangani
                    2. Pemindahan Repository dari dev.boi yg menggunakan bzr ke github dengan scm git.
                    3. Pemindahan Wiki oleh tim Dokumentasi dari Trac di dev.bo ke github pages.
                      • Tim Dokumentasi kali ini memberikan lompatan yg besar. Karena mayoritas anggota bukan dari latar belakang IT, setelah bergabung. Belajar bagaimana menulis dokumentasi dalam format Markdown dan menggungahnya ke github melalui baris-baris perintah git.
                    4. Perilisan Kode Etik berkomunikasi
                    5. Pendaftaran Sponsor dan Mitra dirilis
                    6. Kegiatan Translasi GCompris edisi Bahasa Indonesia
                    7. Kegiatan Pameran di Habibie Festival dan Libroffice Conference Indonesia

                    Beberapa catatan lain.

                    9 Februari 2018, kami kehilangan kawan, sahabat, jiwa muda di tim pengembang BlankOn.
                    Muhammad Rafi, koordinator Humas, berpulang setelah seminggu dirawat pasca kecelakaan.
                    Sebuah kehilangan yang sangat besar bagi kami. Semoga dilapangkan jalannya, Amin.

                    Diawal bulan Mei ini, setelah melalui perjalanan panjang, pasang surut. Tim Pengembang sepakat.
                    “Merilis BlankOn XI Uluwatu”

                    Selamat rilis kawan, tetap semangat menuju kemandirian perangkat lunak bersumber terbuka.
                    Mohon maaf belum dapat menjadi manager rilis yang baik.

                    Tabik
                    Estu – tuanpembual

                    GNOME yang Jelek atau Akhlak Kalian yang Buruk?

                    GNOME 3.28 beberapa waktu lalu baru rilis, cukup memancing banyak komentar. Tanggal 26 April kemarin, Ubuntu 18.04 meluncur dengan menyertakan GNOME 3.28 sebagai Desktop Environment baku. Unity sudah tidak dipergunakan lagi, mungkin tim Ubuntu sudah lelah.

                    Berawal dari move on-nya si Ubuntu, banyak penggemarnya kecewa, dan merasa GNOME itu jelek, tanpa bisa menunjukkan kejelekannya. Mari kita mundur beberapa waktu lalu.

                     

                    Awal muncul GNOME 3, saya termasuk orang yang tidak suka, antar mukanya aneh. Lebih nyaman dan sederhana GNOME 2. Saya yang saat itu masuk di tim pengembang BlankOn, bersama rekan-rekan membedah kejelekannya sehingga muncullah bibit-bibit pemberontakan dengan dimulainya BlankOn Panel yang berujung pada Manokwari.

                    Manokwari sendiri perlu dibuat karena kedepannya, semua pustaka GNOME 2 akan ditinggalkan dan beralih ke GNOME 3. Tapi saya dan teman-teman tidak siap untuk sepenuhnya menggunakan GNOME 3 karena beberapa kejelekannya.

                    2014, saat GNOME Asia di Beijing, saya ngomong sendiri bahwa GNOME jelek ke pimpinan desainer UI/UX, Allan Day, dan berujunglah diskusi panjang. Saya pasti kalah sama mereka dalam hal penjelasan, saya cupunya minta ampun. Tapi saya menang dengan menceritakan bahwa GNOME 3 membutuhkan sumber daya komputer cukup besar (misal RAM 1 GB) di mana masyarakat Indonesia tidak banyak yang bisa memenuhinya. Sedangkan Manokwari, bisa bekerja (waktu itu) pada RAM 256 MB. Toh Manokwari masih menggunakan pustaka GNOME.

                    Sekitar 2011, Ubuntu merilis Unity, banyak yang komplain dan gak nyaman. Pindah ke KDE juga takut gengsinya turun lantara KDE di masa itu (sampai masa kini sih) mirip MS Windows dan banyak kutu (sekarang udah jauh mendingan).

                    Kita terbiasa ngedumel dan menjelek-jelekkan tanpa bisa menunjukkan apa yang bisa dilakukan untuk memperbagus hal tersebut. Mental kita lebih banyak sebagai pencela dari pada penebar “Rahmatan Lil Alamin”.

                    Saya dulu, mantab pindah ke GNOME 3.x saat memiliki layar dengan resolusi di atas FHD (3K) dan layar sentuh. Banyak perabotan GNOME bisa berfungsi dengan baik, seperti:

                    • di Yoga 3 Pro, di layar ada logo jendela, saat disentuh, akan bisa menampilkan Activities. Pada DE lain tidak bisa
                    • di layar sentuh, on screen keyboard sangat mudah tampil saat kita merasa memerlukannya (atau pada tablet mode). Tentunya hal ini tidak terjadi jika komputer kalian masih konvensional.

                    Jadi, sebelum mencela GNOME, lebih baik kopdar, ngopi-ngopi dulu dengan teman-teman komunitas GNOME. Saya traktir!

                    Catatan: saya belum nemu orang komplain dengan DE-nya Endless OS. Kalau komplain terkait tidak bisa booting dan sampai mencela saya tidak beretika sih ada.

                    Buku Inkscape Versi Cetak Tidak Tersedia

                    Sejak penulis meluncurkan Buku Inkscape versi Digital secara Gratis, hingga hari ini penulis masih menerima banyak pesan, baik lewat Surel, Japri, maupun SMS/WA, yang isinya kurang lebih menanyakan harga buku tersebut versi cetaknya.

                    Ini yang menurut agak aneh, dulu waktu masih dijual tidak pada mau pesan atau beli, eh begitu diberikan secara gratis malah pada mau beli, terus selama dua tahun ini pada ngapain?
                    Ada sih beberapa orang ingin membeli buku dengan alasan sebagai bentuk penghargaan kepada penulis buku tsb agar semangat menulis buku lagi.

                    Untuk memberi penghargaan kan tidak hanya berupa uang saja kalau ada yang mau kasih juga mau sih atau membeli buku tersebut, sudah mau membaca dan menyebarkan buku tersebut dalam versi digital juga suatu bentuk penghargaan kok


                    Maka melalui postingan ini, penulis umumkan bahwa; "mulai hari ini Buku Desain Grafis dengan Inkscape versi cetak sudah tidak dijual lagi".


                    Sebenarnaya masih ada sisa beberapa eksemplar buku, tapi penulis sudah berniat tidak untuk menjualnya, namun akan dibagikan secara gratis pada event atau acara-acara yang berhubungan dengan Open Source.

                    Demikian Pengumuman mengenai Buku Desain Grafis dengan Inkscape yang saya tulis
                    Terima kasih

                    Buku LibreOffice Gratis

                    Seperti sudah kita ketahui bersama, saat ini penggunaan aplikasi Open Source di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan aplikasi proprietary, dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah  aplikasi proprietary yang digunakan sebagian besar adalah ilegal (bajakan atau hasil crack).
                    -
                    Untuk mendukung dan mengenalkan aplikasi Open Source ke masyarakat luas di Indonesia, terutama di bidang pendidikan, saya menyediakan beberapa eksemplar buku Menulis Buku dengan LibreOffice secara GRATIS untuk komunitas yang mengadakan acara Seminar atau Lokakarya (workshop) yang berhubungan dengan aplikasi Open Source.


                    Bagaimana cara mendapatkan buku gratis tersebut?
                    Kirim proposal kegiatan yang akan dilakukan minimal dua minggu sebelum acara dilaksanakan

                    Berapa buku yang tersedia?
                    6 (enam) buku setiap bulannya.

                    Sampai kapan berlaku?
                    Selama persediaan buku masih ada.

                    Apakah 6 buku tersebut untuk satu komunitas?
                    Bisa iya, bisa tidak, penjelasannnya begini; misalnya dalam satu bulan hanya ada satu kegiatan komunitas yang mengirim proposal, maka buku tersebut akan diberikan semua ke satu komunitas tersebut, tapi jika dalam satu bulan ada lebih dari satu kegiatan komunitas, maka akan dibagi untuk beberapa komunitas yang mengadakan kegitan tersebut.

                    Apakah semua komunitas yang mengirim proposal akan mendapatkan buku?
                    Tidak,  proposal tetap saya seleksi untuk dipilih komunitas mana/apa saja yang akan mendapatkan buku.

                    Siapa yang menanggung ongkos kirim buku?
                    Ongkos kirim buku ditanggung oleh komunitas yang akan mendapatkan buku, namun tidak menutup kemungkinan saya yang menanggungnya.

                    Kemana proposal dikirim?
                    Ke surel istanalinux@gmail.com

                    Demikian Tata cara Mendapatkan Buku LibreOffice Gratis yang dapat saya sampaikan, jika masih ada  yang kurang jelas, jangan sungkan untuk menyampaikannya lewat kolom komentar.

                    Buku LibreOffice Untuk Meramaikan LOCI 2018

                    Di postingan saya beberapa waktu lalu dengan judul Cerita Di Balik LibreOffice Conference Indonesia 2018 sudah saya bahas mengenai awal mula acara tersebut, walau hanya sedikit. Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan tersebut. 
                    Di tengah-tengah istirahat makan siang pada acara Penerjamahan GCompris, kami membahas mengenai adanya Mini Conference dari salah satu foto yang dibagikan oleh teman penggiat dan kontributor F/LOSS  di Jepang sana, dari foto tersebut maka kami punya inisiatif untuk membuat acara serupa di Indonesia, ide ini berasal dari pak Ahmad Haris.

                    Awalnya kami hanya akan membuat mini konferensi yang dihadiri oleh kurang lebih 50 orang saja seperti yang sudah dilakukan di beberapa negara sebelumnya (Jepang, Jerman, Italia, dll.), namun seiring berjalannya waktu, acara ini menjadi acara Open Source terbesar di Asia pada awal tahun 2018 (bisa jadi terbesar di tahun 2018).

                    Buku LibreOffice
                    Untuk mendukung acara tersebut agar lebih meriah dan terlihat keren, maka beberapa orang dari kami punya agenda yaitu dengan launching suatu produk nyata, sebagai contohnya adalah pak Iwan Tahari (Sepatu FANS) membuat boneka imut yang diberi nama Bimbim, sedangkan tugas saya yang hobi menulis, maka dapat jatah merillis salah satu buku yang sedang saya kerjakan.

                    Jika pada acara Gnome Asia Summit tahun 2015 beberapa tahun yang lalu saya meramaikan acara tersebut dengan buku Desain Grafis dengan Inkscape, maka pada acara LibreOffice Conference Indonesia 2018 saya akan merillis buku lain sesuai dengan tema acara yang akan berlangsung. 

                    Awalnya saya bingung memilih buku yang akan saya rillis karena saya sedang menulis beberapa buku hampir secara bersamaan, diantaranya Scribus, GIMP, Blender, dan Krita. Pilihan pertama jatuh pada Scribus karena beberapa tahun yang lampau ketika saya kerja sebagai editor dan layouting di salah satu penebit sering menggunakan Adobe InDesign yang konsep dan fiturnya hampir sama dengan Scribus.

                    Nah, ketika sedang berusaha keras untuk menyelesaikan buku Scribus, tidak sengaja saya buka-buka folder lama di flashdisk jadul saya yang kapasitasnya hanya 512 MB, di flashdisk tersebut saya menemukan naskah OpenOffice yang pernah saya tulis beberapa tahun lampau. Naskah tersebut saya beri judul Menulis & Menyusun Buku dengan OpenOffice org.
                    Naskah tersebut pernah saya kirim ke salah satu penerbit yang ikut jadi sponsor acara BlanKonf#3 di semarang. Penerbit tersebut sering menerbitkan buku-buku komputer berbasis Open Source. Nah, kebetulan salah seorang teman saya pernah jadi editor di penerbit tersebut, atas rekomendasinya, maka saya mengirimkan naskah buku Menulis & Menyusun Buku dengan OpenOffice org.

                    Singkat cerita saya mengirim sample naskah buku dengan format PDF, buku saya diterima oleh penerbit tersebut dan layak untuk diterbitkan (senangnya seperti penulis pemula yang naskahnya baru pertama kali diterima penerbit). Namun sayangnya, salah satu syarat dari penerbit tersebut adalah saya harus mengirimkannya dalam format Doc. Tentu saja syarat tersebut saya tolak, karena saya tidak bisa menggunakan Microsoft Office.
                    Lagian buku tersebut isinya adalah cara menulis dan menyusun buku dengan OpenOffice kok saya disuruh ngirim yang formatnya aplikasi lain, dan apa susahnya sih install OpenOffice. Membaca email balasan dari penerbit yang syaratnya seperti di atas, membuat saya menjadi tambah geram sabar dengan satu tekad, suatu saat saya bisa menerbitkan sendiri buku-buku aplikasi OpenSource.

                    Kembali ke masalah buku yang akan saya rillis pada acara LibreOffice Conference Indonesia 2018, setelah saya menemukan naskah buku OpenOffice di flashdisk jadul, maka saya buka naskah tersebut dan bisa dibuka dengan lancar tanpa kendala yang berarti.

                    Singkat cerita saya edit dan modifikasi naskah tersebut secara besar-besaran sehingga menjadi buku yang kelak membuat saya capek harus tanda tangan dan foto-foto di stan LibreOffice.

                    Demikianlah cerita mengenai Buku LibreOffice Untuk Meramaikan LOCI 2018, cerita ini masih bersambung lagi ke cerita yang lebih menarik, silakan tunggu dengan sabar kelanjutannya.

                    Bersambung lagi

                    Konfigurasi LB gRPC Service dengan HAProxy

                    Kemaren diminta setting load balancer di HAProxy untuk gRPC Service.
                    Panduan ini saya nyomot dari https://grpc.io/blog/loadbalancing dan https://gist.github.com/thpham/114d20de8472b2cef966

                    Desain service kira-kira seperti ini:

                    Springboot-Service(API) <—> HAProxy <—-> gRPC Server 1 & gRPC Server 2

                    Kasusnya adalah:

                    • Traditional setup – Many clients connecting to services behind a proxy
                    • Need trust boundary between servers and clients
                    • Metode pembagian beban adalah roundrobin
                    • HAProxy dipasang dimesin yang sama dengan gRPC server 1.

                    Solusi yang diambil:

                    • L3/L4 LB with haproxy.

                    Installasi dan Konfigurasi

                    $ sudo apt install haproxy
                    

                    Berikut konfigurasi yang saya gunakan dengan perubahan seperlunya termasuk mengatur status load balancer (Dashboard HAProxy).

                    global
                      tune.ssl.default-dh-param 1024
                    
                    defaults
                      timeout connect 10000ms
                      timeout client 60000ms
                      timeout server 60000ms
                    
                    ## Pengaturan Dashboard HAProxy
                    listen stats
                      bind :1936
                      mode http
                      log  global
                    
                      stats enable
                      stats uri /stats
                      stats refresh 15s
                      stats show-node
                      stats hide-version
                      stats realm Haproxy\ Statistics
                      stats auth user:password
                    
                    frontend fe_http2
                      mode tcp
                      ## alamat binding gRPC yg akan diakses oleh Springboot-Service
                      bind 192.168.33.100:6668 npn spdy/2 alpn h2,http/1.1
                      ## alamat routing backend
                      default_backend be_grpc
                    
                    backend be_grpc
                      mode tcp
                      balance roundrobin
                      ## daftar gRPC service yang akan menerima LB dari HAProxy
                      server prod-service-020 127.0.0.1:6667
                      server prod-service-021 192.168.101:6667
                    

                    Setelah konfigurasi dirasa cukup, lakukan testing konfigurasi HAPRoxy dengan perintah berikut.

                    $ sudo haproxy -c -f /etc/haproxy/haproxy.cfg
                    

                    Jika udah ijo, lakukan restart haproxy.

                    $ sudo systemctl restart haproxy
                    

                    Demikian.
                    Estu yg lagi dolanan Mattermost

                    Umroh

                    Belasan tahun lalu, saya tidak yakin akan bisa datang ke Haramain dan selalu kagum ke orang-orang yang bisa berhaji atau umrah di usia muda.

                    Semenjak kehidupan saya lebih baik, orang tua saya memaksa agar saya daftar haji. Namun saya masih menolak dengan banyak dalih (terutama terkait carut marutnya pengurusan haji). Saya juga melihat mereka seperti merindukan Makkah dan Madinah (walaupun belum pernah ke sana) dikarenakan tiap hari yang ditonton adalah TV Kabel yang menyiarkan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi secara langsung. Tiap pulang ke Gresik, yang terpikir adalah segera memberangkatkan mereka umroh dan alhamdulillah sudah terpenuhi.

                    Sepulang dari umroh (saya kebetulan mendarat dari Singapore langsung menuju Bandara Juanda untuk menjemput mereka) mereka selalu menceritakan kesenangan dan kebahagiaan selama di sana. Yang paling sering terdengar adalah mereka merasa “ingin kembali ke sana”. Saya termasuk orang yang skeptis dengan hal-hal seperti ini. Sampai akhirnya saya merasakannya sendiri.

                    Akhir tahun lalu saya mengutarakan keinginan untuk melaksanakan umroh ke om Edwin, barangkali dia juga mau berangkat bersama dan kebetulan dia punya banyak relasi yang siapa tahun salah satunya punya travel yang menangani umroh. Dan memang benar tebakan saya.

                    Kenapa sama om Edwin? hmmm, saya ini tidak punya seorang saudara yang lebih tua, jadi sampai hari ini, dia lah yang saya anggap saudara tua sekaligus teman. Dan dalam kaitan dengan banyak hal yang bersifat pribadi dan emosional, saya percaya ke dia. Entah dia percaya ama saya apa enggak. Hahaha.

                    Kami resmi mendaftar pada APM Travel dan mengurus semua persyaratan saat awal tahun 2018 dan alhamdulillah semua lancar dan bisa berangkat 31 Januari 2018. Travelnya juga terpercaya!

                    Persiapan

                    Tidak ada persiapan yang super khusus selain hanya membeli baju-baju yang tahan dipakai untuk udara dingin. Karena kabarnya di Madinah suhunya cukup rendah. Persiapan personal, saya menahan diri untuk tidak gampang emosi sebelum berangkat.

                    Saya cukup beruntung karena bisa tidak memikirkan membeli oleh-oleh dikarenakan bapak dan ibu saya sudah pernah umroh, adek saya sudah pernah berangkat haji dan yang paling kecil sudah mampu untuk umroh sendiri. Jadi tidak ada beban untuk belanja oleh-oleh.

                    Tidak lupa saya juga menulis wasiat ke keluarga (ini kebiasaan jika pergi ke luar negeri).

                    Perjalanan

                    Rute yang diberikan memungkinkan saya transit di Kuala Lumpur dan para jamaah diajak keliling Kuala Lumpur secara singkat. Saat di bandara, barangkali karena tampang saya yang tidak islami (bercelana jeans, bersepatu kets serta berambut panjang dan warna merah), banyak orang yang “agak gimana” gitu ke saya. Entah takut ato apa. Saat di bandara Kuala Lumpur, saya memberikan ke arahan ke beberapa orang (terutama yang belum pernah ke luar negeri) terkait rute pengambilan bagasi namun banyak yang tidak percaya/tidak mau menurut. Jadinya ya ada beberapa grup orang yang tersesat. Puyeng!

                    Rombongan dapat kesempatan ke Menara Kembar Petronas dan Masjid Putrajaya. Saya tidak tertarik untuk banyak tingkah kali ini, karena khawatir niat ibadahnya terganggu. 😀

                    Twin Towers

                    Saat menuju Jeddah, saya mengalami sakit kepala dikarenakan rasa capek dan ngantuk yang super.

                    Tiba di Jeddah

                    Saat mendarat, drama dimulai, saya yang biasanya cuek dengan hal-hal yang berbau “sok religius” tiba-tiba merasakan hal yang berbeda. Yang sangat terasa adalah saya bersangat bersyukur akhirnya bisa menjejakkan kaki di Jeddah dan beberapa jam lagi bisa berkunjung ke kota Makkah.

                    Para rombongan mengambil miqat (memakai pakaian ihram dan niat umrah) di bandara. Selanjutnya rombongan menuju Makkah dengan menggunakan bus. Dengan perkiraan sampai Makkah dini hari.

                    Selama perjalanan, muthawwif memberikan banyak arahan dan penjelasan. Saya memutuskan untuk tidur saat muthawwif selesai memberikan arahan dan tiba-tiba terbangun karena tubuh saya terasa merinding.

                    Makkah

                    Saya terbangun saat muthawwif bilang bahwa kita sudah memasuki kota Makkah. Di situ perasaan saya bercampur aduk tidak karuan. Takut, senang, tidak bisa digambarkan. Saat masuk Masjidil Haram dan melihat Ka’bah pertama kali, saya merasa lemas. Padahal di hari-hari biasa, saya tidak membayangkan akan terjadi seperti ini. Ibu saya sendiri takut kalau saya tidak bisa melihat Ka’bah, mungkin dikarenakan kenakalan-kenakalan saya di masa lalu yang cukup bikin beliau menangis.

                    Saya menyempatkan melihat sekitaran Masjidil Haram, mempelajari situasi terutama arah balik ke hotel dari berbagai sisi. Biar kalau ada yang hilang atau tersesat, bisa membantu memberi petunjuk. Dan memang benar, ada yang tersesat.

                    Saya bersyukur memiliki teman sekamar orang-orang yang baik, setidaknya yang paling brengsek dan iseng mungkin saya. Tentunya saya yang paling muda. Kami sangat terkoordinir dan saling mengingatkan.

                    Oh iya, di Makkah, kartu gsm (roaming) yang paling sip adalah Telkomsel, om Edwin menggunakan Indosat namun berkali-kali sering tidak bisa terhubung internet. Penggunaan internet cukup membantu terutama buat acuan peta (google maps) serta komunikasi dengan jamaah lainnya. Untuk pribadi, saya biasanya melakukan video call sepulang jamaah shalat subuh dengan keluarga.

                    Suhu Makkah awal Februari cukup kondusif, panas pada siang hari, cukup sejuk/dingin di malam hari. Tapi tubuh ini masih bisa bertahan. Saya juga mencoba merasakan thawaf di lantai dua, yang menurut saya jaraknya mirip dengan kita mengitari stadion Pakansari di Cibinong. Bahkan saya dua kali thawaf di lantai dua. Yang terakhir gegara om Edwin. hahaha.

                    Alhamdulillah di Makkah semua berjalan lancar. Saya sempat merasakan shalat diimami oleh Syeikh Abdurrahman as-Sudais. Suaranya itu lho, legendaris!

                    Saya juga bisa melaksanakan beberapa ritual ibadah bersama rombongan, juga ritual ibadah sendiri (karena memang ingin menyendiri). Tidak banyak halangan berarti. Kendala terbesar saya adalah tumit dan beberapa bagian telapak kaki rasanya kayak terbakar. Mungkin karena sering “terbentur” marmer, atau juga “diperingatkan” karena jarang ke masjid.

                    Madinah

                    Kesan pertama saat tiba di Madinah adalah “keren”. Kota ini tertata rapi. Selanjutnya, suhunya dingin. Saya sampai di hotel sekitar isya’. Tidak bisa berjamaah isya’ di Masjid Nabawi, namun saya dan teman sekamar kabur setelah makan malam (makan malam di Makkah dan Madinah adalah setelah shalat isya’) untuk ke Masjid Nabawi. Sightseeing-lah serta ingin berkunjung ke makam Nabi.

                    Saya melihat salah satu peristiwa seorang kakek tua yang menggunakan dua tongkat untuk menyangga tubuhnya, dipersilahkan untuk masuk Raudhah tanpa antrian oleh para tentara penjaga masjid. Para tentara tersebut menanyai orang tua itu apakah sudah berkesempatan ke Raudhah atau belum, jika belum, dibantu/diantarkan ke sana. Kita semua tahu bahwa untuk masuk ke Raudhah, harus antri, antrinya jauh lebih tertib dibandingkan antri untuk mendekati Ka’bah atau mencium Hajar Aswad. Di hari berikutnya saya juga melihat kejadian yang mirip.

                    Saat shalat subuh, beneran maknyus dinginnya. Saya sampai menggunakan baju rangkap dan menggunakan mantel musim dingin. Mungkin sekitar 5 derajat celsius. Siangnya, sekitar jam 11, saya memantau suhunya berkisar antara 10 sampai 12 derajat celcius.

                    Di Madinah, karena saya punya rekan-rekan yang baik-baik, banyak hal-hal yang dimudahkan. Kami bisa di Raudhah kurang lebih dua jam, bisa berjamaah dzuhur di sana, serta saya sendiri sempat bersalaman dengan salah satu imam masjid Nabawi. Sepulang dari masjid, saya bisa tersenyum dan pamer ke teman-teman rombongan lainnya. Hehehe.

                    Saat di Makkah, saya tidak berminat sekalipun untuk membeli minyak wangi. Di kehidupan sehari-hari, saya juga tidak terbiasa menggunakan minyak wangi. Sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Namun saat saya berhasil menyentuh Ka’bah, saya ingat betul harum baunya. Bahkan masih nempel di kain ihram saya saat sudah di Madinah. Beruntung, saat ngobrol dengan penjaga toko di depan Masjid Nabawi, secara tidak sengaja penjaga tersebut menyemprotkan minyak wangi yang harumnya sama dengan yang di Ka’bah. Saya dan om Edwin membelinya. Yang menarik adalah komposisinya terdiri dari bunga mawar Madinah, air zamzam dan zat pengawet tentu saja.

                    Apalagi Ya?

                    Hmm… Semoga bisa kesana lagi deh!

                    Memperbaiki Daemon ScreenSaver di BlankOn Uluwatu

                    Yaps x260 saya isinya Uluwatu dan gado-gado lainnya. Lebih seringnya makai repo SID dari Kartolo. Beberapa hari ini, setelah jalankan upgrade paket dari SID, beberapa fitur ngambek.

                    Salah satunya screensaver g jalan. Akibatnya laptop jadi tambah boros. Layar idup selalu meski udah ditinggal lama ( g mau dim).

                    Yuk dibenerin. Kata Pak Sofyan cukup ubah file desktop gnome-screensaver:

                    $ sudo vim /etc/xdg/autostart/gnome-screensaver.desktop
                    

                    Cari baris ke 157.
                    Ganti OnlyShowIn=GNOME-Flashback menjadi OnlyShowIn=GNOME

                    Setelah itu, logout dan login kembali ke Manokwari. Tadaaa… Sukses

                    Estu yang lagi nunggu rilis.

                    LibreOffice Conference Indonesia 2018

                    The Original Story Behind This Conference

                    Yes, Sokibi and Rania already write the story about how we starting the conference. It’s true but not complete one. The original one was before I have dinner with Sokibi and Rania. I have lunch with Kukuh and Moko in Soto Betawi Restourant near my house.

                    Soto Betawi

                    We’re thinking that in 2017 there’s no FOSS Conference in Indonesia. So we decide to organize conference about LibreOffice but small one (we can call it mini conference). But time flows, and we kick out “mini” and become normal conference.

                    The Document Foundation

                    Since Franklin Weng becoming board in TDF, he often pursuade me to joining TDF Membership. Well, I’m thinking that I less contribution on LibreOffice and little experience in that (except for personal/daily use). I have lot of experience in OpenOffice, an era before LibreOffice.

                    So, with organizing this conference, it’s my starting point to contribute to LibreOffice and of course I apply the membership and TDF will process my submission this month.

                    Start Organizing Conference

                    We start work in December 2017, preparing the proposal and choose which city and university for the venue. We asking two universities and good will comes from PENS (Politeknik Electronika Negeri Surabaya). We start working on Januari 4th, and prepare everything daily.

                    We have 9 members of organizer in first place, but then one member just gone away not active, so I kicked him out. Our member was come from different cities, luckly it’s still in one timezone. So we just have 8 powerfull members. In last week near the event, there’s about 25 students from university that joining us as local community organizer.

                    My main role is as coordinator and fundraiser. It’s easy but not easy. But I have good team members. In the event it’s self I was complicated busy, make sure everything work and run perfectly. But me and others are happy.

                    Honorable mention Rania, Moko, Kukuh, Joko, Darian, Ummul, and Tamara. The last one can’t attend the conference.

                    Day #-1

                    I arrived at Surabaya on Thursday, one day before workshop. I need to come early to make coordination with local organizer and pickup Franklin and Eric. Both of them are my old friends.

                    Mr. Ardi (lecturer from PENS who also local organizer) told me in telegram chat, that in Day#1, I need to have speech to open the conference with some professor. I bought batik shirt for this special moment. 😀

                    Day #0

                    This is workshop day. I visited the venue and meet Mr. Ardi. I see the workshop for couple minutes and then at lunch time, I have meeting with Franklin, Eric, Andika, Noor, Darian, Estu and Lecturer/Professor from PENS.

                    In that meeting we have introduce our self and have small discussion. The Director of PENS also open the conference, because on Day#1 he can’t attending it.

                    I stay in Rumah Kertajaya Hostel, same with Franklin, Eric and Italo. I choose this because Italo already book this place and I need to have better communication and coordination with them.

                    Day #1

                    This is my special day. It’s rare to see me use formal shirt, especially batik shirt. I have opening speech as coordinator of organizer.

                    Batik

                    I spent this day to meet other speaker, have small discussion and make sure everything works smoothly. Also must sign many documents related to sponsorship from government.

                    Souvenir for Italo Vignoli

                    I’m not attending any class this day. Only for Keynote.

                    Day #2

                    This day, I use spiderman t-shirt. Hahaha. I wanna make this day little bit more relax. I attend one class, about LibreOffice for Writing Scientific Work in Arabic by Rizki Fauzi. Yes I able to read and type in Arabic.

                    I also becoming moderator for Q&A with TDF before closing ceremony. Becoming moderator is not easy (it’s true) because Italo are person who love to tell his experience and good story teller. I can’t stop him many times.

                    The closing ceremony was cheerful, you can see it on LibreOffice Conference Indonesia 2018 group.

                    Day #3

                    Day #3 was city tour day. We have mini bus contain foreigner speaker, few local speaker and local organizer. We going to neighboor city of Surabaya, Mojokerto, which still have ancient Majapahit museum and temple.

                    Brahu Temple

                    We’re also going to Sampoerna Museum and Mirota Batik Store. Italo need to buy many of them. 😀

                    Day #4

                    Me, Italo, Eric and Franklin have discussion session with PENS. It talk about curriculum and implementation in IT world.

                    In afternoon, Italo and Franklin become Guest Lecturer.

                    Guest Lecture

                    In evening, I also become Guest Lecturer. My class talking about Ridon.id.

                    Ridon Class

                    Day #5

                    This day Franklin, Eric and Italo departed from Surabaya in the morning. In evening I also departed using night train.

                    Dinner

                    We actually have dinner sponsored by LibreOfficeID since Day #-1. Delicious dinner and have good stories from each other. Take a look at flickr if you want to see the picture.

                    Summary

                    Here my personal summaries about this conference:

                    • This conference is biggest FOSS conference in 2017 and 2018 in Indonesia
                    • Many people still doesn’t know about LibreOffice
                    • It’s quite difficult to get sponsorship from IT company
                    • Organizing conference outside JABODETABEK is different. Also the participant, many issues such as ticket price, transportation and hotel
                    • Collaboration with students are difficult in the beginning, but at the end, there’s few students are good and joining community
                    • Many student in PENS able to speak English. It’s opposite from last two conference (GNOME Asia and openSUSE Asia) in Indonesia
                    • Meet other/community members are good for your helth
                    • There’s a lot of chance to contribution and travel arround the world

                    Cerita Di Balik LibreOffice Conference Indonesia 2018

                    Ini adalah cerita di balik acara  LibreOffice Conference Indonesia 2018  versi saya, cerita dimulai dari awal mulanya akan diadakan acara tersebut hingga selesai dilaksanakan.
                    Pada tanggal 7 s/d 13 Agustus 2017, BlankOn dan Ridon mengikuti acara BEKRAF HABIBIE FESTIVAL Teknologi & Inovasi di JIEXPO Kemayoran, Jakarta.
                    Pada acara tersebut beberapa Pengembang dan Pensiunan Pengembang BlankOn, serta perwakilan Sepatu FANS bertemu dan punya rencana untuk mempromosikan aplikasi Open Source ke masyarakat luas.
                    Saya datang terlambat ke acara tersebut, yaitu pada tanggal 12 Agustus 2017, yang artinya saya hanya bisa mengikuti acara keren tersebut dua hari saja, maklum saya hanya dapat ijin dari kantor pada tanggal itu.
                    Beberapa hari sebelumnya (sebelum tanggal 12 Agusrus 2017), saya sering melihat beberapa gambar yang diunggah oleh teman-teman pengembang BlankOn penjaga stan, dari pengamatan yang saya lakukan, ternyata banyak anak-anak yang berkunjung ke acara tersebut.


                    Maka saya punya ide untuk membuat beberapa video yang berisi permainan anak, pilihan jatuh ke permainan yang berorientasi pendidikan, yaitu GCompris.
                    Singkat cerita saya berhasil membuat beberapa video permainan GCompris dengan cara melakukan rekam desktop permainan yang saya lakukan. Dan, pada tanggal 12 Agustus 2017 saya tampilkan video tersebut pada display LED di stand BlankOn dan Ridon.
                    Dengan ditampilkan video permainan GCompris, stand BlankOn & Ridon semakin banyak didatangi oleh pengujung, bukan hanya anak-anak saja yang tertarik dan antusias untuk mencoba permainan GCompris, tapi banyak juga orang-orang yang sudah bukan anak-anak mencoba permainan tersebut.
                    Di hari terakhir acara BEKRAF HABIBIE FESTIVAL Teknologi & Inovasi yaitu tanggal 13 Agustus 2015, stand BlankOn dan Ridon masih ramai didatangi pengujung, sehingga beberapa pengunjung harus antri untuk mencoba permainan GCompris di laptop yang tersedia di stand BlankOn.

                    Permainan GCompris yang digunakan saat itu, baik yang ditampilkan di display LED maupun terpasang di Laptop merupakan versi lama, dan terjemahannya bahasa Indonesia tidak lengkap, mengingat terjemahan GCompris yang digunakan terakhir dilakukan tahun 2009.
                    Dari permasalahan terjemahan  GCompris yang sudah terlalu Old tesebut maka terbesitlah ide untuk menerjemahkan GCompris versi Now ke Bahasa Indonesia yang lebih modern. Obrol sana, obrel sini, maka disepakatilah untuk membuat acara penerjemahan GCompris. 
                    Singkat cerita, acara penerjamahan diagendakan untuk diselenggarakan pada tanggal 16-17 September 2017, di markas Kode Kraetif, Jl. Graha Kartika Pratama Blok A3 No 10 Bojonggede.

                    Berdasarkan agenda di atas, saya datang ke tempat diselenggarakannya Penerjemahan GCompris satu hari sebelum acara dilaksanakan, yaitu datang pada tanggal 15 September 2017, saya datang sebagai anggota penerjemah.
                    Di bawah ini adalah beberapa foto yang berhasil saya ambil ketika acara Penerjemahan GCompris berlangsung.
                    Proses penenentuan jatah halaman yang akan diterjemahkan
                    Acara Penerjemahan hari pertama (peserta yang dapat duduk dan meja)
                    Uji coba microphon sebelum melakukan perekaman untuk suara permainan GCompris
                    Kordinator acara Penerjemah GCompris adalah senior penerjemahan Gnome dan aplikasi Open Source, salah satu aplikasi yang beliu terjemahkan adalah LibreOffice

                    Obrol sana, obrol sini, maka disepakitilah untuk membuat acara menerjemahkan LibreOffice, yang kemudian kelak disuatu hari menjadi acara keren bernama LibreOffice Conference Indonesia 2018.

                    Demikianlah Cerita Di Balik LibreOffice Conference Indonesia 2018 versi saya, cerita ini masih bersambung lagi ke cerita yang lebih menarik, silakan tunggu dengan sabar kelanjutannya.
                    Bersambung
                     



                    Membangun GNOME Recipes dan Menjalankan dengan Antar Muka Indonesia

                    Tulisan ini masih sedikit melanjutkan pengalaman GNOME Recipes Hackfest 2018, namun sedikit ditambahkan atas pesanan Pak Andika (Koordinator Penerjemahan GNOME) terkait bagaimana cara menguji aplikasi dengan antar muka bahasa Indonesia (dengan file .po yang sudah kita terjemahkan).

                    Mari kita mulai!

                    Pasang GNOME Builder Nightly
                    • Unduh flatpakref untuk GNOME Nightly dari https://sdk.gnome.org/gnome-nightly.flatpakrepo dan pasang

                    flatpak –user remote-add gnome-nightly gnome-nightly.flatpakrepo

                    • Unduh flatpakref untuk GNOME Builder dari https://raw.githubusercontent.com/GNOME/gnome-apps-nightly/master/gnome-builder.flatpakref dan pasang

                    flatpak –user install –from gnome-builder.flatpakref

                    Jalankan Builder dan Ambil Kode GNOME Recipes
                    • Jalankan Builder dan pilih tombol Clone untuk kloning kode sumber
                    • Kloning dari https://gitlab.gnome.org/GNOME/recipes.git
                    Kloning Kode
                    • Kode akan otomatis dibangun oleh Builder
                    Build
                    Detil Build
                    • Jalankan!
                    Jalankan!
                    GNOME Recipes
                    Mengubah Antar Muka ke bahasa Indonesia

                    Seperti gambar di atas, antar muka aplikasi yang kita jalankan menggunakan antar muka baku (bahasa Inggris). Untuk kasus teman-teman yang mengerjakan terjemahan, perlu menguji dan membuat antar mukanya ke bahasa Indonesia. Adapun langkahnya sebagai berikut:

                    • tambahkan “–env=LC_ALL=id_ID.utf8” pada bagian “finish-args” di berkas org.gnome.Recipes.json.
                    org.gnome.Recipes.json
                    • Jalankan lagi!
                    Berbahasa Indonesia

                     

                    Selamat Mencoba!

                     

                    Attending GNOME Hackfest 2018

                    This Hackfest are focused on GNOME Recipes and venues in AMIKOM university in Yogyakarta. https://en.m.wikipedia.org/wiki/University_of_Amikom_Yogyakarta

                    In last year,  I know there will be GNOME Hackfest in Yogyakarta and possibly in March. And I thought it wil be at end of March until Nuritzi tell in Endless Ambassador Telegram Group that it will be start from February 28th until March 2nd. I know this on February 25th. So I ask Kukuh Syafaat to go together and help since he also GNOME Foundation Members.

                    Actually at February 27th, there’s an outreach event at the local university. But I can’t manage to go because I arrived at Yogyakarta at 17:00 and it already finished. But I have dinner with few GNOME Developer (but no Mattias and Emel) for that day.

                    #1st Day

                    This is my first time joining GNOME Hackfest and I don’t know about Recipes at all. So I just learning for this day.

                    There’s two application, GNOME Recipes and Endless Recipes. We (actually I just silent becase I became student this time 🙂 define our goals in this hackfest.

                    Then continue with demo of GNOME Recipes and Endless Recipes. And this time I understand how both work. It’s make me interesting to learn about creating basic GNOME applications.

                    When Phillip gave demonstration, I was amazed by few tools from Endless, there’s Ingester who can collect data and download it to locals then preview it with Hatch Preview.

                    And from this first day, I understand how different about data between those two applications.

                    Apps Demo - Endless DemoApps Demo – Endless Demo

                    For first day dinner, I meet Endless CEO (Matt Dalio) for first time and we have dinner with all developer in Taj (India) Restaurant. Endless paid all food. Thank’s Endless.

                    Indian Restaurant

                    Note for first day can be read in https://wiki.gnome.org/Hackfests/Recipes2018/Day1.

                    #2nd Day

                    This day starting by Emanuelle explaining about constraints-based layout which is also first time for me to know it. There’s Autolayout.js and Emeus to help manage the layout.

                    Emanualle explain about constrain-based layoutAutolayout.js

                    In this day we have some question that Rama and Emel need to ask to “real life” students. Rama became coordinator for collection recipes from Indonesia’s side. It’s decided on first day.

                    After lunch Martin got the recipes data and started converting it into a shard. Matthias debugged some issues that showed up during demoing of recipes earlier. Me, personally I’m learning about building Recipes from source and understanding ingester.

                    After hackfest, I meet with Renato from Endless. Actually we already meet at first time dinner but he thinking that me and Kukuh are GNOMErs, not Endless Ambassador. We discuss about marketing stuff and strategy and also he told me that Endless will have office in Bali.

                    Dinner for this day, I help them to choose. You can guess where is it? The owner come to us and ask take picture with us.

                    Guess where is it?Guess where is it?

                    Endless also take care this dinner. Thank’s Endless (again).

                    You can read official notes from 2nd day in https://wiki.gnome.org/Hackfests/Recipes2018/Day2.

                    #3rd Day

                    This last day seems like demo/conclution day. Like yesterday discussion that Endless Recipes will use GNOME Recipes’s data, Martin demoed his recipes shard in several endless templates, and it basically worked. The shard was hacked to make the recipes data show up in the endless data model. For a proper conversion, we need a data model that is appropriate for recipes and chefs.

                    Cosimo showed a karaoke app that he found on github, working as flatpak. It make this day little bit more fun.

                    Then Philip took Martin’s shard and plugged it into his recipe app lookalike and more beautiful.

                    Matthias showed the Halal category that he added to GNOME recipes. Yes as a moslem, this is very important and I would like to say thank you to all GNOME and Endless Developer for concerning about this.

                    Siska brought recipes and seasoning for foreigner and make the day more noisy. Different from two days before. Hahaha. There also Kiki (from Mozilla) in this day.

                    Busy 🙂

                    Last day dinner was also paid by Endless.

                    Note:

                    Todo:

                    • Collecting recipes and translating to it
                    • Translating and understanding Ingester how to that wrote by Phillip

                    Thanks to Matthias, Cossimo, Jonathan, Emel, Philip, Martin, Emanuelle, Umang and Ekta. Well, see you all soon guys.

                    Thanks to GNOME Foundation and Endless.

                    Modifikasi Tombol Pintas Pada LibreOffice Writer

                    Untuk mempercepat pekerjaan dalam mengolah sebuah dokumen atau naskah penulis sering mengunakan tombol pintas pada papan tik. Secara baku LibreOffice Writer sudah menyediakan berbagai tombol pintas yang siap digunakan. Namun kadangkala dalam kebutuhan tertentu tombol pintas yang sudah disediakan secara baku tersebut belum memenuhi keinginan penulis.


                    Menambahkan Tombol Pintas
                    Berikut ini langkah-langkah cara menambahkan tombol pintas pada LibreOffice Writer:

                    • Arahkan kursor ke Bilah Menu, klik Perkakas => Kustomasi...

                    Pada jendela Gubahan yang tampil pilih tab Papan Tik, kemudian lakukan langkah berikut:

                    Tombol Pintas

                    • Pilih tombol pintas yang belum digunakan (contoh: Ctrl+9).

                    Kategori

                    • Pilih kategori yang akan dibuatkan tombol pintas (contoh: Sisip).

                    Fungsi

                    • Pilih fungsi untuk menerima perintah dari tombol pintas yang akan ditambahkan (contoh: Simbol).
                    • Jika semua pengaturan yang dilakukan sudah sesuai, klik tombol Ubah untuk menyelesaikan penambahan tombol pintas. Lebih jelasnya lihat Gambar di bawah ini:


                    • Lakukan cara yang sama untuk menambahkan tombol pintas pada perintah lainnya.
                    Klik tombol Oke untuk menyelesaikan pengaturan Tombol Pintas.


                    Hapus Tombol Pintas
                    Tombol pintas yang sudah ditambahkan jika sudah tidak dibutuhkan dapat dihapus, berikut cara menghapus tombol pintas:

                    • Pilih tombol pintas yang akan dihapus pada menu Tombol Pintas, kemudian klik tombol Hapus.

                    Catatan:

                    • Ketika membuka dokumen dengan LibreOffice Writer pada sistem operasi lain maka tombol pintas yang telah ditambahkan tidak berfungsi.

                    Sumber: Buku Menulis Buku dengan LibreOffice Bab 12