Tektok Gede Pangrango

Dulu saya sempat berpikir untuk berhenti naik gunung, jadi kerilnya saya kasihkan ke teman, tendanya saya gulung erat-erat. Tapi ternyata itu cuma omong kosong.

Halo lagi,

Ini pertama kalinya saya :

  • Mendaki gunung Gede Pangrango
  • Bertemu langsung dengan pengkayuh pedal dari KPCI (selama ini cuma baca-baca di blognya)
  • Mendaki satu tim dengan seorang wanita

Ini tentang gunung. Saya hanya pernah mendaki gunung Rinjani dan Tambora, jadi sudut pandang saya diambil dari pengalaman saya yang sedikit ini. Catatan ini ditulis dua bulan setelah pendakian tersebut, jadi ingatan saya tidak begitu jelas tentang beberapa hal, misal jarak tempuh dari titik A ke B itu berapa jam.

Saya belum sampai dua bulan berada di Bogor, satelit ibukota yang terlalu sering kehujanan dan nomor angkotnya membingungkan. Ini masih berkaitan dengan acara GnomeAsia2015 yang diselenggarakan di UI, Depok. Mas Yanuar Arafat ikut hadir di acara itu dan langsung nyeletuk ngajak nanjak Gede Pangrango, persis setelah GnomeAsia2015 berakhir. Butuh beberapa waktu buat saya untuk menentukan apakah akan mengiyakan atau tidak, terkait beberapa pekerjaan yang belum selesai, tapi akhirnya berangkat juga.

Saya packing kilat dan menemani Mas Yan belanja logistik kesana kemari. Saya belum pernah mempersiapkan pendakian gunung dengan daftar belanja yang serumit ini. Banyak, harus ini dan harus itu. Ini pasti jadi makanan yang enak di atas sana!

Diantar saudaranya Mas Yan, kami tiba di daerah yang bernama Seuseupan, mirip nama warung "Bakso Seuseupan" di dekat Btech. Kami disambut oleh Mang Koboi, penggemar sepeda kayuh dan alam bebas, yang juga membantu kami mengurusi surat-surat izin terkait pendakian. Saya tidak menduga aturan TNGGP seketat ini. Di Rinjani dan Tambora, mau nyusup tanpa lapor juga bisa (mungkin sekarang berbeda). Surat izin ini dicetak di lembaran khusus dengan mesin cetak dot matrik, menandakan urusan ini agak serius. Belakangan saya jadi paham mengapa.

Rumah Mang Koboi adalah rumah sederhana gaya lama, dikelilingi banyak sekali tumbuhan, dipenuhi perabotan lawas dari kayu padat. Ini. Ini pertama kalinya tumbuh keinginan saya untuk memiliki sebuah rumah (setidaknya, semacam dan sesederhana ini) dan berkeluarga. Di sini saya dikenalkan dengan Mang Ogi dan Mang Mandoe yang berdomisili di dekat gunung Salak, yang akan menemani kami. Sekarang kami berempat. Mang Koboi meminjami kami beberapa peralatan dan perlengkapan pendakian yang sangat berguna (terima kasih!). Terutama lampu illuminAid itu keren sekali. Mas Yan bilang mestinya ada tiga orang lagi, namun satu sedang cidera (Mbak Ocid) dan dua orang akan menyusul (Mang Cliff Damora dan Mbak Dian). Setelah nenggak kopi, malam itu juga kami cabut dari Seuseupan menuju desa Putri, salah satu pintu masuk menuju TNGGP.

Tetiba di pos pintu masuk, kami istirahat dan musti siap berangkat esok pagi atau siang. Esoknya saat bangun, saya sudah menggigil saja dan jadi luar biasa malas, menunggu matahari naik. Kemudian Mbak Dian tiba menyusul kami. Kami sekarang berlima.

Sebelum lanjut, mari saya beberkan beberapa kesalahan / pelanggaran saya terhadap peraturan TNGGP :

  • Tidak bawa jaket
  • Tidak pakai sepatu

Untungnya, saya dipinjami jaket sama Tante Dian. Sebenarnya "Dipinjami" bukan kata yang bagus. Setiap pendaki mestinya mempersiapkan diri sendiri dengan matang.

Secara pribadi, saya lebih suka mendaki gunung dengan sepatu sandal. Lebih ringan dan ringkas, asyik dipakai lari. Saya terbiasa mendaki dengan sepatu sandal di gunung Rinjani dan Tambora. Tapi Gede Pangrango adalah gunung yang sangat berbeda di beberapa aspek. Gunung ini pendek, sangat dingin dan basah. Pokoknya, pelajaran penting : pakai sepatu, terutama sepatu hiking.

Ngomong-ngomong, kedua pelanggaran tersebut sebenarnya adalah hal serius. Gunung Gede Pangrango adalah salah satu gunung yang banyak memakan korban dikarenakan ketololan pendaki. Jadi, maafkan ketololan saya ini. :D

Kami mulai nanjak kira-kira pukul 10 dan saya mulai menerima kenyataan dari perkataan teman-teman sebelumnya bahwa jalur Gede Pangrango itu kebanyakan nanjak mulu. Tapi asyik!

Pada sore hari, kami tiba di Surya kencana, lembah kecil di antara deretan bukit dan gunung Gede. Sisi kiri (dari arah saya datang) Surya Kencana dipenuhi semak Edelweis. Surya Kencana adalah lembah yang indah, tapi ada yang lebih indah di atas sana.

Ngomong-ngomong lagi mengenai Edelweis, aturan di sini juga ketat. Dulu saya juga pernah memetik beberapa tangkai bunga Edelweis. Saat itu saya tidak tahu mengapa ini mestinya tidak dilakukan. Pendakian saya yang pertama dan kedua, saya masih memetik. Tapi pendakian saya yang berikutnya, saya sudah mulai paham mengapa. Eh, tetap saja saya sempat memetik buah gak jelas (yang ternyata tidak bisa dimakan) sesaat sebelum tiba di Surya Kencana.

Karena pernah melakukan tindakan kriminal ini dan pernah merasa tidak tahu atau terlalu bodoh untuk tahu alasannya, saya kurang setuju kalau mereka-mereka yang melanggar hal-hal semacam ini dibully, seperti yang sering terjadi di sosmed. Mending disapa dan ditegur pelan-pelan. Halooo. Petik-memetik ini masih marak terjadi lho, termasuk saat saya masih berada di Alun-alun Suryakencana.

Lanjut deh.

Di Surya Kencana, saya dan Mas Yan (setelah sebelumnya doi dikalahin bule Korea) sempat bertaruh sut, yang kalah bawain keril yang menang selama 5 menit. Kami impas, sama-sama kalah sekali. Taruhan paling tolol yang pernah saya ambil. Capek banget bawa tas-tas itu. Kami bermalam di sini, di samping parit alami kecil yang airnya sedingin es dan bisa diminum langsung. Sore itu kami menggelar tenda dan malamnya saya kedinginan seperti orang lemah. Saya cuma bisa meringkuk sambil menggigil. Malam itu terlalu dingin bagi saya jadi saya tidak membantu teman-teman membuat makanan. Saat tulisan ini ditulis, saya masih kesulitan mengingat makanan apa yang saya makan malam itu. Hangat dan enak. Tidur tidak terlalu nyenyak karena dingin sekali.

Paginya, kami dibangunkan oleh alam, Mang Ogi tidur lagi karena belum cukup tidur, tenda yang satunya sempat tembus embun. Saya sudah mulai bisa beradaptasi dengan suhu dinginnya.

Kami packing agak siang, kemudian beranjak ke puncak Gede. Treknya biasa saja dan saya belum terkesan dengan puncak Gede. Puncak terbentuk sebagai tebing, seolah-olah setengah dari gunung itu terpotong dan ambrol. Di sini tidak terlalu aman karena tebing tersebut. Kita masih bisa mencium aroma belerang. Kami mengambil beberapa foto di sini sebelum beranjak turun ke Kandang Badak.

Trek turun ke Kandang Badak tidak terlalu jelas, terpisah dalam beberapa jalur, namun akhirnya menyatu (rombongan kami sempat terpisah). Setelah beberapa waktu, kami tiba di Kandang Badak.

Ramai sekali! Dan (seperti juga Rinjani) lumayan kotor. Kami sempat membersihkan sebindang tanah yang sedianya akan kami tempati untuk membangun tenda. Namun karena tidak puas (kotor banget), kami pindah lagi. Satu hal yang bikin saya terkejut di Kandang Badak adalah, toiletnya lumayan dan berfungsi penuh.

Kemudian datanglah Mang Cliff Damora. Tinggi dan ceking, lelah dan bersemangat. Mang Cliff sebelumnya sudah nyari-nyari rombongan kami, sudah naik ke Pangrango juga, tapi malah ketemu di sini. Setelah makan sore (atau malam?) dan bincang-bincang, tercetus ide untuk mendaki puncak Pangrango malam itu juga. Ini sebenarnya ide yang tidak oke karena cuaca saat itu tidak menyakinkan. Mendung gluduk-gluduk dan Tante Dian menggumam tidak setuju. Tapi saya sudah gatal-gatal pengen nanjak lagi. Maka berangkatlah kami : Mas Yan, Mang Cliff, Mang Ogi dan saya. Bu Dian dan Mang Mandoe menjagai tenda. Kami bawa tenda sendiri.

Di tengah perjalanan ke puncak, tiba-tiba hujan turun. Ini pertama kalinya saya mendaki gunung dan kemudian turun hujan di tengah perjalanan. Tapi persiapan Mang Cliff itu oke pake banget. Setelah menggelar "apa mungkin namanya" dengan sigap, kami berteduh dan nyemil sedikit, menunggu hujan reda. Setelah reda, kami lanjut.

Kami tiba di puncak dan kemudian...

Terpujilah ingatan saya yang lemah ini, sampai di sini saya kurang ingat betul. Kami ngecamp di pinggir pepohonan. Kalau tidak salah esoknya kami sarapan dengan makanan yang asin banget karena sama Mang Cliff satu balok keju dicampur dengan keju. Hahahaha.

Di sini saya menghabiskan sekitar 2 jam untuk bengong-bengong di Mandalawangi. Jauh-jauh kesana cuma bengong-bengong? Ya, memang itu "tujuannya". Ini salah satu dari sedikit tempat yang saya tandai sebagai "mesti kesini lagi, mesti".

Kemudian kami turun. Jumpa lagi dengan Mbak Dian dan Mang Mandoye. Lanjut turun ke arah Cibodas. Kaki saya (tanpa sepatu) tercebur di air panas. Berpas-pasan dengan dedek-dedek pulen (enggak ku sapa lho). Tante Dian sudah mulai terlihat tidak sehat. Jalan gelap berbatu. Daaan akhirnya sampai di cibodas. Berpisah dengan Teteh Dian, terus makan malam. Terus...

Saya kurang ingat lagi. Pokoknya seperti itulah perjalanan ini. Sampai jumpa lagi, O Gede Pangrango.

Foto?

Menggambar Logo dengan mudah menggunakan Inkscape

Saat ini saya sudah mulai bosan menulis, baik menulis blog maupun buku, tapi di hati kecil ini tetap ingin berbagi ilmu pengetahuan. Salah satu cara berbagi ilmu adalah berupa Video, terutama Video Tutorial.

Pada postingan kali ini  saya berusaha membuat video tutorial sederhana cara membuat logo dengan mudah, adapun contoh logo dalam video ini adalah cara membuat logo Ubuntu. Sebelumnya sih saya ingian membuat video tutorial cara membuat logo Blankon Linux, namun karena video tersebut terlalu mudah akhirnya saya urungkan.


Dalam video ini saya menggunakan beberapa fitur dan trik yang sangat mudah dipahami dan tentunya dengan konsep dan rumus sederhana juga.

Semua fitur, trik dan kosep dalam video ini sudah tertulis di buku Desain Grafis dengan Inkscape yang saya terbitkan, jadi buat Anda yang sudah memiliki buku tersebut pasti akan langsung memahaminya. 

Berikut beberapa fitur, tool, dan konsep yang digunakan dalam membuat logo Ubuntu:
  1. Circles Tool, digunakan untuk membuat Lingkaran.
  2. Rectangles Tool, untuk membuat garis kotak memanjang.
  3. Fitur Create Tiled Clones, digunakan untuk menggandakan object dengan jarak dan ukuran sesuai keinginan.
  4. Guides, digunakan untuk snapping object antara object satu dan lainnya.
  5. Align & Distributte, digunakan untuk mengatur object satu dan lainnya supaya selaras.
  6. Difference, digunakan untuk memotong object satu dengan object lainnya.
  7. dll.
Selain itu, saya juga menggunakan aplikasi Calculator yang digunakan untuk menghitung pembagian lingkaran dengan rumus derajat.

Silakan langsung nikmati saja videonya di bawah ini

NB: 
Dalam video tutorial ini sengaja tidak saya sertakan cara membuat warna berbeda pada logo Ubuntu, silakan oprek sendiri untuk menyempurnakan logo tersebut.




Install NodeJS di Debian

Tutorial Nodejs



Node.js adalah platform perangkat lunak pada sisi-server dan aplikasi jaringan. Ditulis dengan bahasa javascript dan bisa dijalankan pada WindowsMac OS X dan Linux tanpa perubahan kode program. Node.js memiliki pustaka server HTTP sendiri sehingga memungkinkan untuk menjalankan webserver tanpa menggunakan program webserver seperti Apache atau Lighttpd.

Pasang dependensi:
sudo apt-get install git-core curl libssl-dev build-essential g++ nginx make


Buat direktori baru untuk lokasi install nodejs
$ mkdir ~/local


Tambahkan fullpath direktori ~/local
$ echo 'export PATH=$HOME/local/bin:$PATH' >> ~/.bashrc


Reload Konfigurasi .bashrc
$ source ~/.bashrc


Tentukan versi nodejs yang akan diinstall
$ export NODE_VERSION='0.10.36'


Unduh kode sumber nodejs
Extraks nodejs
$ tar xvfz node-v$NODE_VERSION.tar.gz


Masuk ke dalam direktori hasil extraks nodejs
$ cd node-v$NODE_VERSION


Setting lokasi install nodejs
$ ./configure --prefix=~/local


Install nodejs
$ make -j4 install
$ cd ~/


Hapus kode sumber nodejs
$ rm node-v$NODE_VERSION.tar.gz
$ rm -rf node-v$NODE_VERSION

Solusi Mount Partisi di.BlankOn.in

samba mount
PolicyKit

Bagi pengguna BlankOn rote sudah tak asing lagi dengan tampilan gambar diatas, muncul saat melakukan mount partisi/drive. Setiap melakukan mounting (mengaitkan) partisi selalu diminta untuk melakukan pengisian password user. Emm... kadang bagi sebagian user ini bisa merasa terganggu dengan permintaan pengisian password setiap melakukan mounting melalu nautilus.

Untuk mengakalinya, bisa dilakukan dengan cara seperti dibawah ini :
  • Buat group mounter dengan perintah :
sudo addgroup mounter
  • Tambahkan user (akun anda) kedalam group mounter, sebagai contoh :
sudo adduser dotovr mounter
  • Buat script baru :
gksudo gedit /var/lib/polkit-1/localauthority/10-vendor.d/com.manokwari.desktop.pkla

         Isi dengan script berikut :

[Mounting, checking, etc. of internal drives]

Identity=unix-group:admin;unix-group:sudo;unix-user:*;
Action=org.freedesktop.udisks.filesystem-*;org.freedesktop.udisks.drive-ata-smart*
ResultActive=yes

  • Simpan dan keluar, buka nautilus coba lakukan mounting partisi

Semoga bisa membantu

BlankOding : Linux Bahasa Aceh

Bulan Puasa Ramadhan kali ini, Aceh mengambil bagian membuat BlankOding Linux Bahasa Aceh yang diselenggarakan oleh HMIF Unsyiah dan bekerjasama dengan BlankOn Linux, juga didukung oleh TRC, MLC Unsyiah, ADOC Unsyiah dan APTIKOM. Acara yang semula dijadwalkan tanggal 14 Juli 2013 di undur ke tanggal 21 juli 2013.

Linux Bahasa Aceh


Salut dengan antusiasme peserta yang awalnya cuma ditargetkan 50 peserta, daam 1 minggu pendaftaan peminat mencapai 130 peserta sehingga harus mengambil gedung lain yang lebih besar mengingat gedung sebelumnya haya sanggup menampung 60 peserta.

Peserta pada umumnya adalah mahasiswa TI dan ada juga dari kalangan luar kampus juga ada beberapa dosen juga ambil bagian untuk mengikuti acara hingga usai, mengingat ini adalah BlankOding perdana yang kami buat di Aceh dan mengenai bahasa Aceh itu  menjadi daya tarik bagi peserta dimana dalam BlankOding diajarkan alih bahasa BlankOn Linux ke bahasa Aceh.

BlankOding dimulai dari pagi hingga menjelang berbuka puasa, antusiasme peserta mengikuti BlankOding sangat tinggi dari awal sampai acara selesai. Banyak harapan yang diinginkan oleh peserta salah satunya mengenai Bahasa Aceh resmi masuk disetiap rilis BlankOn Linux.

BlankOding dibagi dalam 4 sesi, BlankOding dibuka oleh Ketua Jurusan Informatika FMIPA Unsyiah, Dr. Taufik Abidin, M.Tech. Sesi pertama Pengenalan Proyek BlankOn, disesi pertama banyak dipaparkan tentang sejarah BlankOn, Produk BlankOn dan Misi Proyek BlankOn. Banyak peserta yang baru tau ternyata BlankOn dikembangkan oleh para pengembang yang kebanyakan para pengembangnya bukan berlatar belakang IT.

Pada sesi kedua, peserta sangat serius menginstall BlankOn Linux ke Laptopnya masing-masing dan banyak peserta yang terkagum-kagum dengan tampilan BlankOn-Installer yang berbasis HTML5 dan kecepatan instalasinya. Sesi kedua berlangsung hingga istirahat Shalat Zuhur.

Sesi ketiga dimulai setelah istirahat Shalat Zuhur, disesi ketiga BlankOding masuk dalam pelatihan Pelokalan Blankon Linux ke Bahasa Aceh. Peserta lebih antusias mengikuti berjalannya pelatihan BlankOding. Banyak peserta yang mula-mula menerka-nerka tentang pelokalan BlankOn Linux yang sebelumnya banyak peserta yang mengira bahwa pelokalan akan sulit mengingat kabanyakan dari peserta belum banyak yang pernah terjun langsung dalam hla terjemahan di Linux. Saat dipaparkan tentang terjemahan ini banyak peserta yang terkesima melihat bahwa portal penerjemahan BlankOn berbasis web atau tepatnya aplikasi open source transifex.  Peserta dipandu membuat akun OpenId id BlankOn hingga memulai penerjemahan. Harapannya semoga BlankOn Linux resmi berbahasa Aceh mulai rilis BlankOn 9.

Sesi terakhir juga tidak kalah seru, pada sesi terakhir di pandu oleh Razinal untuk mempercantik desktop Manokwari.

BlankOding berjalan lancar, walau di sesi ketiga sempat terhenti 15 menit saat portal penerjemahan BlankOn ngadat.

BlankOding kali ini merupakan pengalaman pertama bagi saya sendiri, mengingat ini adalah kali pertama saya menjadi pemateri.




Panduan Pemaketan Debian dan turunannya

Panduan Pemaketan Debian dasar


Panduan pemaketan dasar ini ditujukan bagi Anda yang ingin membuat atau mengelola paket BlankOn. Walaupun beberapa konsep dalam panduan ini dapat digunakan untuk membuat paket binary untuk penggunaan pribadi, panduan ini untuk mereka yang ingin mendistribusikan paket ke, dan, untuk orang lain. Walau panduan ini ditulis untuk digunakan pada distribusi BlankOn Linux, namun panduan ini dapat berguna untuk distribusi lain yang berbasis dari Debian.

Mungkin ada beberapa alasan yang mendasari Anda ketika belajar cara memaketkan program untuk BlankOn:

  • Membuat dan memperbaiki paket BlankOn adalah salah satu cara untuk berkontribusi bagi komunitas BlankOn.
  • Cara ini merupakan cara yang baik untuk mengetahui bagaimana BlankOn dan aplikasi yang telah Anda instal dibangun.
  • Mungkin Anda ingin menginstal sebuah paket yang tidak ada di repository BlankOn atau paket khas yang anda kembangkan sendiri.
  • Kenapa panduan pemaketan ini diperlukan?
Karena cara ini tepat untuk membuat suatu paket yang belum ada direpository, mungkin selama ini kita hanya mengenal cara manual dalam hal menginstall paket baru yang belum ada di repository ./configure (./autogen.sh), make dan sudo make install. Sayangnya cara manual ini hanya bersifat sementara disaat kita menginstallnya dan tidak bisa kita share ke distro (debian dan turunannya) lain.

Semoga setelah selesai membaca panduan ini Anda memiliki perkakas dan
pengetahuan yang cukup untuk melakukan semua itu.
                                         
Prasyarat
Panduan ini mengasumsikan bahwa pembaca sudah memiliki pengetahuan yang cukup untuk membangun dan menginstal perangkat lunak dari kode sumber pada suatu distribusi Linux. Panduan ini juga menggunakan Command Line Interface (CLI) di seluruh bagian, jadi Anda harus nyaman untuk menggunakan terminal. Anda juga bisa mempelajari hal berikut:

make: GNU Make adalah perkakas yang sangat penting untuk membangun perangkat lunak. Digunakan untuk mengubah tugas kompilasi yang kompleks menjadi mudah. Sangat penting untuk tahu bagaimana menggunakannya, karena kami akan menyimpan informasi mengenai proses pembuatan paket di dalam Makefile. Dokumentasi tersedia pada situs GNU

➢ ./configure: Skrip ini disertakan di hampir semua source GNU/Linux, khususnya di perangkat lunak yang ditulis menggunakan bahasa kompilasi seperti C/C++/Vala atau bahasa pemograman lainnya. 

Apt/Dpkg: Selain digunakan untuk menginstal program, apt dan dpkg memiliki banyak fitur yang berguna untuk pembuatan paket.

  • apt-cache dump - menampilkan daftar setiap paket dalam cache. Paket ini sangat berguna apabila digunakan bersama grep pipe seperti apt-cache dump | grep foo untuk mencari paket yang nama atau dependencies-nya menyertakan “foo”.
  • apt-cache policy - menampilkan informasi paket.
  • apt-cache show - menampilkan informasi paket lebih lengkap.
  • apt-cache showsrc - menampilkan informasi mengenai paket source.
  • apt-cache rdepends - menampilkan reverse dependensi untuk sebuah paket (yang dibutuhkan paket untuk melakukan query).
  • dpkg -S - menampilkan daftar paket binary yang dimiliki oleh suatu berkas tertentu.
  • dpkg -l - menampilkan daftar paket yang baru saja diinstal. Perintah ini mirip dengan apt-cache dump tetapi hanya untuk paket yang sudah diinstal.
  • dpkg -c - menampilkan daftar isi dari paket binary. Berguna untuk memastikan bahwa berkas sudah terinstal di tempat yang benar.
  • dpkg -f - menampilkan berkas control untuk paket binary. Berguna untuk memastikan bahwa dependencies sudah benar.
  • grep-dctrl - mencari informasi khusus di dalam paket. Merupakan penggunaan khusus dari paketgrep (tapi tidak terinstal secara baku)
  • diff: Program diff dapat digunakan untuk membandingkan dua berkas dan membuat patch.
  • patch : Program patch digunakan untuk menerapkan suatu patch.

Memulai

  • Kode Sumber

Sebagian besar pengguna distribusi berbasis Debian seperti halnya BlankOn tidak akan pernah berurusan dengan kode sumber yang digunakan untuk membuat aplikasi di komputer mereka. Kode sumber telah dikompilasi menjadi paket binary dari paket source yang berisi kode sumber itu sendiri dan aturan untuk membuat paket binary. Pemaket meng-upload paket source dengan perubahan yang telah mereka lakukan untuk sistem build lalu mengkompilasi paket binary untuk setiap arsitektur komputer. Sebuah sistem yang terpisah lalu mendistribusikan berkas .deb binary dan source yang telah berubah ke repository mirror.

  • Peralatan Pemaketan
Ada banyak perkakas yang dibuat khusus untuk pemaketan di sistem berbasis
Debian.
Daftar paket berikut berguna untuk memulai pemaketan:
build-essential adalah metapackage yang bergantung pada libc6-dev, gcc, g++, make, and dpkg-dev. Paket yang mungkin kurang Anda kenali adalah dpkg-dev. Paket ini mengandung perkakas seperti dpkg-buildpackage dan dpkg-source yang digunakan untuk membuat, membongkar, dan membangun paket source dan binary.
devscripts memuat banyak skrip yang membuat pekerjaan pengelolaan paket menjadi mudah.
Beberapa yang sering digunakan adalah debdiff, dch, debuild, dan debsign.
debhelper dan dh-make adalah skrip untuk mengotomatisasi tugas pembuatan paket. dh-make dapat digunakan untuk membuat "debianization" dan menyediakan banyak berkas.
diff dan patch digunakan untuk membuat dan menerapkan patch, berturut-turut. Kedua aplikasi tersebut sering digunakan dalam pembuatan paket karena lebih mudah, bersih dan efisien untuk menampilkan perubahan kecil sebagai patch daripada harus menggunakan banyak salinan berkas.
gnupg adalah pengganti dari PGP yang lengkap dan bebas untuk digunakan
menandatangani berkas secara digital (termasuk juga paket).
fakeroot mensimulasi cara menjalankan perintah dengan hak akses root. Hal ini sangat berguna bila Anda ingin membuat paket binary dari pengguna biasa.
lintian membedah paket Debian, pelaporan bug, dan pelanggaran Kebijakan. Paket ini berisi pemeriksaan otomatis untuk banyak aspek dari Kebijakan Debian seperti halnya error umum.
pbuilder membangun sistem chroot dan membuat paket di dalam chroot. Merupakan sistem yang ideal untuk digunakan jika sebelumnya sebuah paket diperiksa apakah telah memiliki dependency yang tepat serta membangun paket yang bersih dan siap untuk diuji serta didistribusikan.

Install peralatan :
$ sudo apt-get install devscripts build-essential fakeroot debhelper gnupg pbuilder dh-make dpkg-dev ubuntu-dev-tools

Mulai membangun paket

• Informasi pribadi :
$ nano ~/.bashrc
(isi pada baris terakhir)
export DEBFULLNAME=”Dotovr” 
export DEBMAIL=”dotovr@di.blankon.in”

Catatan: Sesuaikan dengan informasi pribadi

• Memeriksa informasi pribadi yang talah dibuat
$ source ~/.bashrc 
$ export | grep DEB

• Membuat kunci pribadi
$ gpg –gen-key
Isi dengan informasi pribadi
Real name: Dotovr 
E-mail address: dotovr@di.blankon.in 
Passphrase: password

Catatan: Sesuaikan dengan informasi pribadi
                                          I.
Selanjutnya mulai membangun paket dengan dpkg-buildpackage, cara ini harus menginstall dependensinya terlebih dahulu secara manual
$ sudo apt-get build-dep ed
Sebagai contoh, unduh kode sumber di GNU:
$ wget ftp://ftp.gnu.org/pub/gnu/ed/ed-1.6.tar.gz
$ tar zxvf ed-1.6.tar.gz
$ cd ed-1.6
$ ls
$ dh_make -e isiemailkita -f ../ed-1.6.tar.gz
Type of package: single binary, multiple binary, library, kernel
module or cdbs?
[s/m/l/k/b] s
(Pilih "s")
cd debian
$ ls
rm *.ex *.EX docs info README.*

Masih di direktori debian, jalankan perintah berikut untuk membuat/mengubah changelog:
$ dch -e
Isi seperti berikut:
ed (1.6-1) unstable; urgency=low
  * Initial release (Closes: #nnnn)
-- Dotovr <dotovr@di.blankon.in> 20:36:22 +0700 Tue, 29 May 2012
                                         
Ubah seperlunya:
$ nano control
Lengkapi seperti berikut:
Source: ed
Section: editors
Priority: extra
Maintainer: Dotovr <dotovr@di.blankon.in>
Build-Depends: debhelper (>= 8.0.0), autotools-dev
Standards-Version: 3.9.2
Homepage: http://www.gnu.org/software/ed/
Package: ed
Architecture: any
Depends: ${shlibs:Depends}, ${misc:Depends}
Description: classic UNIX line editor
 The ed is a line-oriented text editor. It is used to create,
 display, modify and otherwise manipulate text files.

Copyright ubah seperlunya:
$ nano copyright
Lalu isi sebagai berikut:
Format: http://svn.debian.org/wsvn/dep/web/deps/dep5.mdwn?
op=file&rev=174
Upstream-Name: ed
Source: http://www.gnu.org/software/ed/
Files: *
Copyright: 1993, 1994, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011 Free
Software Foundation, Inc
2006, 2007, 2008, 2009 Backus <ericb@lsid.hp.com>
1993, Karl Berry <kb@cs.umb.edu>
1994, 2011 Theo Deraadt <deraadt@newt.fsa.ca>
2006, 2007 Kaveh R. Ghazi <ghazi@noc.rutgers.edu>
2010, 2011 Mike Haertel <mike@ichips.intel.com>
2011 Francois Pinard <pinard@iro.umontreal.ca>
1993, 1994 Rodney Ruddock <rodney@snowhite.cis.uoguelph.ca>
License: GPL-3.0+
Files: debian/*
Copyright: 2012 Dotovr <dotovr@di.blankon.in>
                                          License: GPL-3.0+
License: GPL-3.0+
This program is free software: you can redistribute it and/or
modify
it under the terms of the GNU General Public License as
published by
the Free Software Foundation, either version 3 of the License,
or
(at your option) any later version.
.
This package is distributed in the hope that it will be useful,
but WITHOUT ANY WARRANTY; without even the implied warranty of
MERCHANTABILITY or FITNESS FOR A PARTICULAR PURPOSE. See the
GNU General Public License for more details.
.
You should have received a copy of the GNU General Public
License
along with this program. If not, see
<http://www.gnu.org/licenses/>.
Pindah ke direktori sebelumnya dengan cara ketik:
$ cd ..

Jalankan perintah untuk membangun paket:
$ dpkg-buildpackage -rfakeroot
jika diminta Passphrase, isi dengan Passphrase yang anda buat tadi. Tunggu sampai proses selesai.
     

Install Riak Cloud Storage

Cloud Storages


Riak CS (Cloud Storage) adalah perangkat lunak yang mudah digunakan untuk penyimpanan data dan dibangun di atas Riak. Riak CS dirancang untuk memberikan kesederhanaan, tersedia, penyimpanan awan yang dapat didistribusikan pada skala apapun, dan dapat digunakan untuk membangun cloud arsitektur untuk publik atau swasta atau sebagai infrastruktur penyimpanan untuk aplikasi dan layanan-tugas besar. Riak CS Api juga kompatibel dengan Amazon S3

Pemasangan Riak
Unduh Riak
$ sudo dpkg -i riak_1.4.12-1_amd64.deb

Lakukan konfigurasi sebagai berikut:
$ sudo nano /etc/riak/app.config
Hapus baris berikut:
{riak_kv, [
%% Delete this line:
{storage_backend, riak_kv_bitcask_backend},
]}

Tambahkan:
{riak_kv, [
%% Other configs
{add_paths, ["/usr/lib/riak-cs/lib/riak_cs-1.5.4/ebin"]},
{storage_backend, riak_cs_kv_multi_backend},
{multi_backend_prefix_list, [{<<"0b:">>, be_blocks}]},
{multi_backend_default, be_default},
{multi_backend, [
{be_default, riak_kv_eleveldb_backend, [
{max_open_files, 50},
{data_root, "/var/lib/riak/leveldb"}
]},
{be_blocks, riak_kv_bitcask_backend, [
{data_root, "/var/lib/riak/bitcask"}
]}
]},
%% Other configs
]}

Tambahkan script berikut:
{riak_core, [
%% Other configs
{default_bucket_props, [{allow_mult, true}]},
%% Other configs
]}

Simpan dan jalankan riak
$ sudo riak start

Pemasangan Stanchion
Unduh Stanchion
$ sudo dpkg -i stanchion_1.5.0-1_amd64.deb

Jalankan stanchion:
$ sudo stanchion start

Pemasangan Riak-CS
Unduh Riak-CS
$ sudo dpkg -i riak-cs_1.5.4-1_amd64.deb

Aktifkan pengguna untuk membuat akun:
$ sudo nano /etc/riak-cs/app.config
{riak_cs, [
%% Other configs
{anonymous_user_creation, true},
%% Other configs
]}

Simpan dan jalankan Riak-CS
$ sudo riak-cs start

Buat akun yang nanti digunakan oleh pdweb dan pdfwebapi
$ curl -H 'Content-Type: application/json' -XPOST http://localhost:8080/riak-cs/user --data '{"email":"admin@admin.com", "name":"admin"}'

Hasilnya seperti berikut:
{"email":"admin@admin.com",
"display_name":"admin",
"name":"admin",
"key_id":"61HQGH7N22FSGTVYJI5Z",
"key_secret":"JCPZ2kE4q6hHliiwxKoJReX0mWrSLsk0LIvgPQ==",
"id":"ccdc30ccad74d47f5312294c091a1a1438fc6e802931fbd94f929b7bbc69c8e3",
"status":"enabled"}

Tai

Karena suatu hal dan hal lain, saya tidak menyebutkan nama tempat yang saya kunjungi kali ini. Biarlah tidak usah jadi mainstream. Biarlah tempat ini menjadi tidak ramai. Jika kamu merasa tahu tentang tempat ini, ya silakan menebak-nebak sendiri.

Tempat ini dikelola oleh Sembalun Development Community Center. Selain membayar restribusi, kami diberi kantong plastik untuk sampah dan beberapa peringatan lisan, tidak boleh ini dan itu. Sepertinya dikelola dengan baik. Terima kasih!

Terlepas dari definisi tempat ini (Gunung atau bukit? Kami sempat memperdebatkannya, hihihi.), jalurnya oke, sepertiganya nanjak 45 derajat. Lumayan buat menjajal sepatu baru yang bekas. Kami butuh 3 jam mendaki. Karena sedang musim panas, penuh debu. Pemandangannya? Oke pake banget. Bisa lihat gunung Rinjani secara bugil, dari atas sampai bawah. Plus panorama Sembalun. Bening. Suasana sunset maupun sunrise sama-sama worth buat ditungguin. Dari tempat ini bisa lihat laut juga. Suhunya dingin standar gunung. Di sana sini banyak tai sapi tapi sapinya sendiri tidak kelihatan. Ramai? Lumayan. Tapi katanya saat itu masih mendingan ketimbang saat ramai puncak (malam minggu di hari-hari non cuti bersama). Jadi saya rasa saya cukup beruntung. Kami hanya semalam di sini. Hemat waktu libur.

Hanya saja, bukit ini kotor sekali, sungguh. Banyak yang mengabaikan pesan kawan2 pengelola di bawah. Kotor karena tai sapi masihlah wajar, tapi sampah plastiknya tidak keruan, random sana sini, di tempat ngecamp maupun jalan setapak. Jadi saat turun, saya punguti sebisanya seperti biasa. Aktifitas memulung ini sebenarnya sungguh mengasyikkan sampai sepatu gunung The North Face yang dibeliin Estu dan saya pakai perdana, menginjak tai manusia yang masih hangat saat saya sedang mengambil botol plastik bekas. Baunya? Sama dengan bau tai saya sendiri, hanya saja yang ini gak cuma menusuk hidung, tapi langsung ke hati.

Tai! Siapa yang boker di pinggir jalan setapak ini? Dasar tai kamu! Saya jadi tahu kenapa ada botol air di dekat tai itu. Air dalam botol itu buat minum, bukan buat cebok, goblok! Terus kenapa bokernya di pinggir jalan setapak? Tai! Semua yang naik bukit ini dan ninggalin sampah, tai! Kalian semua tai! Yang ke sini cuma buat selfie terus buang puntung rokoknya di sini, tai! Hei kamu, tai! Kamu yang ngegaya pakai kaos natgeo tapi bakar-bakar plastik di sini, kamu tai! Heh kamu yang bela-belain bawa kertas buat ditulis "aku cinta kamu" terus kertasnya kamu buang di sini, tai kamu! Cinta macam tai itu! Dan kamu-kamu yang berhubungan intim di tendamu itu terus buang kondomnya sembarangan di sini, kalian taiii! Kampret bin tai! Alasan-alasan yang kamu bikin buat naik ke sini, tai semua itu, tai! Bukit ini juga tai! (Literally, banyak tai sapi). Saya juga tai! Blog ini juga tai! Pokoknya semuanya tai!

Hi, Pendix, kamu juga tai.

Saya terus marah-marah sampai di bawah (padahal mestinya tidak ada kolerasi antara sampah dan tai), cuma dapet sekantong plastik gede penuh sampah. Persisnya setelah nginjek tai manusia, saya otomatis berhenti mungut. Ndongkol atas ketololan saya sendiri.

"Mas dari mana?"

"Mataram"

"Berapa orang mas?"

"Cuma bertujuh"

"Banyak banget sampahnya ya?"

"(Tai! Ini saya mungut! Tai! Tai semua!) Oh nggak mas, mungut kok."

Tolong, siapa pun kamu yang pergi ke tempat yang lebih tinggi dari batok kepalamu, pun tempat itu bukan milik kamu atau saya, tolonglah bawa turun lagi sampahnya. Sampahmu aja deh, gak usah yang lain. Tolong. Gak berat kok ketimbang beban hati kami-kami ini yang masih ingin melihat alam bebas yang bersih. Tolonglah.

Mudah-mudahan mas-mas pengelola tempat ini hatinya tegar bukit mereka jadi tempat sampah.

Dan yang terakhir, mohon maaf lahir batin.

Saya dan BlankOn X Tambora

Halaman ini berisi video tentang saya dalam menggunakan komputer dengan salah satu OS GNU/Linux yang masih dalam tahap pengembangan yaitu BlankOn X Tambora (beta).


Video di atas saya rekam dengan aplikasi RecordMyDesktop, kemudian sedikit diedit menggunakan OpenShot.


Aplikasi yang saya coba diantaranya: Gedit dan LibreOffice Writer untuk mengetik tulisan sederhana, Chromium; untuk membuka web dan Presentasi, VLC; untuk memutar video, RecordMyDesktop dan OpenShot; untuk membuat dan edit Video, Gimp; untuk membuat garis lingkaran sederhana,  dan Inkscape; untuk mencoba menulis aksara nusantara.

Sudah itu saja keterangan singkat mengenai video ini, silakan langsung lihat sendiri, Anda pasti sudah tahu cara melihat video tersebut, jadi tidak perlu saya jelaskan caranya

-


Cara membeli buku Desain Grafis dengan Inkscape

Setelah buku Desain Grafis dengan Inkscape edisi Pre-Order berakhir maka mulai saat ini Anda dapat memesan versi regulernya langsung kepada saya dengan harga resmi yaitu Rp.145.000,- plus ongkos kirim ke masing-masing alamat pemesan.


Cara memesan buku Desain Grafis dengan Inkscape
Berikut ini adalah tata cara untuk memesan buku edisi reguler:

  • Pemesanan buku dimulai tanggal 10 Maret 2015
  • Pemesanan buku dilakukan dengan mengisi Formulir Pemesanan Buku Inkscape.
  • Jumlah buku edisi reguler yang dijual sebanyak 900 eksemplar (setelah jumlah tersebut terjual habis saya akan lepas buku ke publik secara gratis berupa E-Book).
  • Satu orang dapat memesan buku sebanyak-banyaknya selama stok masih ada, jika memesan banyak saya sarankan untuk menjadi distributor atau reseller.
  • Pemesan yang dianggap telah membeli buku adalah mereka yang telah melakukan pembayaran sesuai harga yang telah disebutkan di atas.
  • Pembayaran buku dapat dilakukan dengan sistem transfer ke nomor rekening BRI 3788-01-019373-53-8 a/n SOKIBI, setelah melakukan transfer silakan konfirmasi melalui sms ke 085727528266.

Informasi lebih lanjut
Untuk info seputar buku Desain Grafis dengan Inkscape, Anda bisa menghubungi beberapa kontak di bawah ini selama jam kerja:

  • Facebook: Sokhibi Imgos
  • SMS: 085727528266
  • Email: istanalinux@gmail.com
  • Workshop: Jl. Kokrosono Raya Blok B Lantai 2 No.8-9 Semarang Utara - Jawa Tengah 

Pembelian dari Jabodetabek

  • Untuk Pembelian dari wilayah Jabodetabek dapat menghubungi Ahmad Haris melalui email: ahmadharis1982@gmail.com


Ongkos Kirim

  • Ongkos kirim buku ditanggung pemesan, buku yang dipesan dikirim dari Semarang menggunakan jasa JNE atau Pos Indonesia, sebagai acuan ongkos kirim, berat 1 (satu) buku dihitung 1 Kg atau 1000 gram.
Catatan:
  • Saat ini saya hanya melayani metode Tunai, yaitu Distributor atau Reseller membayar buku yang dipesan terlebih dulu sesuai harga pesanan setelah itu barang saya kirim.


-
Info selanjutnya akan saya update sesuai perkembangan yang ada
-
Terimakasih

Dengan BlankOn Kita Move On

Akhir bulan Juni 2015 Sahabat BlankOn Semarang bekerjasama dengan Universitas PGRI Semarang mengadakan acara Talk Show dengan tema Ngoprek Linux Dengan BlankOn kita Move On yang dilaksanakan di Gedung Pascasarjana lantai 5 Pendidikan Teknologi Informasi Universitas PGRI Semarang.



Adapun materi yang dibahas pada acara ini antara lain adalah: Perkenalan Komunitas BlankOn Semarang, pengenalan BlankOn Linux, Aplikasi Office, dan Aplikasi Grafis.

Di bawah  liputan singkat yang berhasil saya rangkum

Acara dimulai pukul 14,03 WIB yang dibuka oleh panitia Universitas PGRI Semarang dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim


Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Kajur PTIK UPGRIS yang disampaikan secara langsung oleh Bapak Wijanarko yang pada intinya beliau sangat mendukung acara semacam ini, beliau juga berharap acara tersebut ke depannya dapat berjalan secara berkelanjutan dengan tema yang lebih mendalam dan spesifik lagi.

Sebelum acara di lanjut ke tema utama, seperti biasa, yang mana pihak kampus memberikan Cindera mata kepada kami Komunitas BlankOn Semarang, seperti gambar di bawah ini

Acara berikutnya adalah perkenalan Sahabat BlankOn Semarang yang dibwakan oleh Om Mas Mahardhika Nugraha, pada sesi ini beliau memperkenalkan apa itu Sahabat BlankOn Semarang, apa saja  kegiatannya, bagaimana cara bergabung menjadi anggota komunitas ini, dan apa saja keuntungan jika menjadi anggota komunitas.

Pada acara ini, Selain menjadi pembicara Om Mas Mahardhika Nugraha sekaligus sebagai moderator acara.


Sesi selanjutnya adalah pengenalan BlankOn Linux yang dibawakan oleh bapak Suntoro, pada sesi ini beliau menjelaskan apa itu BlankOn Linux, bagaimana distro ini dikembangkan, siapa saja yang mengambangkannya, pada sesi ini tidak lupa beliau juga menjelaskan secara singkat cara bergabung menjadi pengembang dan apa saja syaratnya untuk jadi pengembang BlankOn Linux.



Setelah sesi pengenalan BlankOn linux selesai dibawakan oleh pak Suntoro, maka acara dilajutkan oleh Mas Mustofa yang mana pada sesi ini beliau menjelaskan aplikasi perkantoran (office) dalam hal ini tentanga LibreOffice.

Pada sesi ini mas Mustofa menjelaskan bahwa penggunaan aplikasi office pada berbagai sistem operasi pada dasarnya sama, agar peserta yang mengikuti acara ini lebih yakin lagi maka beliau meminta salah seorang peserta untuk memperagakan (praktek langsung) menggunakan aplikasi LibreOffice, dan hal ini terbukti dengan lancarnya peserta dapat menggunakan LibreOffice seperti menggunakan Aplikasi Office milih OS sebelah.

Di bawah ini adalah beberapa gambar peserta yang sempat kami abadikan



Eh ternyata ada juga peserta dari luar Semarang yang menyusup jadi peserta acara ini, mereka adalah tim GrombyangOS, di bawah ini adalah gambar desktop Linux mereka


Sesi terakhir pada acara ini adalah pengenalan Aplikasi Grafis yang di sampaikan oleh ketua Sahabat BlankOn Semarang, pada sesi ini pembicara mengenalkan dan menjelaskan berbagai Aplikasi Grafis di BlankOn Linux yang dapat digunakan, tidak lupa pembicara juga menampilkan berbagai contoh hasil karya desainer dunia yang dibuat dengan aplikasi Grafis berbasis OpenSource.



Di sesi ini pembicara juga menjelaskan bahwa di Indonesia masih jarang ditemukan buku panduan penggunaan Aplikasi Grafis OpenSource dalam bahasa Indonesia sehingga pembicara akhirnya punya ide untuk menulisnya sendiri, salah satu buku yang sudah diterbitkan adala buku Desain Grafis dengan Inkscape.

Pukul 17.59 WIB acara Talk Show dengan tema Ngoprek Linux Dengan BlankOn kita Move On selesai di laksanakan dengan ditutup ucapan Alhamdulillah oleh panitia yang diikuti oleh semua peserta.

Seperti acara lain pada umumnya, setelah acara selesai bak orang-orang penting kami juga tidak lupa foto bareng.

Oh ya, karena acara ini dilaksanakan pada bulan Ramadhan, maka pihak panitia mengajak kami untuk buka bersama, acara buka bersama dilaksanakan setelah Sholat Maghrib bertempat di Waroeng Steak & Shake (jalannya saya gak tahu)


 Demikian liputan singkat acara Talk Show dengan tema Ngoprek Linux Dengan BlankOn kita Move On yang dapat saya tulis kali ini, sampai jumpa pada liputan lainnya.

Membuat Frame Foto dengan GIMP

Mulai hari ini sampai beberapa bulan ke depan mungkin tulisan saya di blog ini akan didominasi dengan tutorial yang membahas aplikasi Grafis pengolah Foto yaitu GIMP, hal ini saya lakukan sekedar berbagi beberapa pengetahuan saya pada penggunaan GIMP, isi dari tutorial yang saya tulis hanyalah sebagian kecil dari Buku Manipulasi Gambar dengan GIMP yang sedang saya tulis, mudah-mudahan bisa selesai dengan cepat sehingga dapat rillis akhir tahun 2015.

Pada Tutorial yang saya tulis kali ini membahas cara mudah membuat Frame untuk Foto, langsung saja kita praktek. Dalam tutorial kali ini saya menggunakan GIMP bawaan BlankOn 8 Rote, maka langkah pertama yang saya lakukan adalah membuka gambar atau foto yang akan diberi frame atau bingkai, cara yang saya lakukan adalah klik Menu Utama BlankOn => Lokasi => Pictures karena pada folder tersebut saya lebih sering menyimpan file berupa gambar, saya pilih salah satu gambar yang akan diberi Frame, kemudian klik kanan => Buka Dengan => pilih GIMP.


Tunggu beberapa saat hingga Foto yang akan kita beri frame dapat dibuka oleh GIMP dengan baik. Jika gambar yang digunakan ukurannya besar maka secara otomatis tampilan gambar terlihat terpotong atau melebihi jarak pandang pada canvas, untuk mengatasinya masalah ini lakukan pengaturan zoom menjadi lebih kecil, misalnya 25% atau 50%


Sebelum kita lanjut ke langkah berikutnya lakukan penyimpanan project yang sedang dikerjakan pada direktori atau folder tertentu, hal ini sebenarnya sudah merupakan standard dalam suatu pembuatan project dan wajib dilakukan, fungsi dari langkah ini adalah untuk jaga-jaga bila sewaktu-waktu terjadi gangguan pada komputer yang sedang digunakan, misalnya; listrik padam, komputer ngadat, dll.

Suatu aplikasi biasanya sudah menyediakan fitur autosave yang fungsinya untuk melakukan penyimpanan secara otomatis setiap beberapa menit sekali pada perubahan yang kita lakukan.

Untuk membuat frame dengan ukuran yang sesuai dengan gambar maka kita perlu mengetahui ukuran gambar tersebut, untuk mengetahui ukuran sebuah gambar pada GIMP dapat dilakukan dengan klik Image => Scale Image (dalam contoh gambar berukuran; 1920 X 1322 px)

Pada jendela pengaturan Scale Image Anda dapat mengubah ukuran gambar sesuai keinginan (jika ukuran gambar tidak perlu diubah biarkan saja), setelah Anda mengetahui ukuran gambar, silakan tutup jendela pengaturan Scale Image untuk melanjutkan ke langkah berikutnya.

Dalam Tutorial ini kita akan membuat frame atau bingkai dengan bentuk persegi panjang karena bentuk ini yang paling ideal untuk sebuah frame gambar. Untuk membuat frame dengan bentuk persegi panjang maka kita meminjam Rectangles Select, berikut langkahnya
  1. Arakhan kursor ke Tool Box, pilih dan klik ikon Rectangles Select 
  2. Pindahkan kursor pada Image Windowklik => tahan dan seret hingga membentuk selections segi empat, setelah itu lepas.
  3. Lakukan pengaturan letak dan ukuran Rectangles Select sesuai ukuran gambar melalui Tool Options, dalam contoh saya melakukan pengaturan berikut; Position: 0 X 0 px, Size: 1920 X 1322 px.



Langkah selanjutnya adalah mengubah Retangles Select menjadi Path, caranya arahkan kursor ke Menu Bar, klik Select => To Path

Sekarang kita sudah memiliki Path dengan bentuk persegi panjang yang berasal dari Rectangles Select, dengan menggunakan teknik di atas maka secara otomatis Path tersebut masih memiliki Fill, untuk itu kita perlu menghilangkan Fill pada Path tersebut, caranya klik Select => None

Dengan melakukan langkah Select => None maka secara otomatis Path yang sudah dibuat sebelumnya tidak aktif, untuk itu kita perlu mengaktifkannya lagi melalui Dockable Dialogs, jika menu Path belum aktif secara otomatis pada Dockable Dialogs maka kita harus  harus menambahkan terlebih dulu secara manual, caranya; klik Windows => Dockable Dialogs => Paths



Sekarang kita aktifkan kembali Path melalui Dockable Dialogs, lakukan cara berikut:

  1. Klik ikon Path pada Dockable Dialogs
  2. Klik ikon Mata pada menu di Dockable Dialogs
  3. Klik ikon Path pada Tool Box
  4. Arahkan kursor pada Image Window, klik Path berbentuk persegi panjang yang sudah dibuat sebelumnya



Langkah selanjutnya adalah mengubah bentuk dan ukuran Path, caranya arahkan kursor pada Tool Options, klik Path stroke, maka segera muncul jendela pengaturan Path stroke, lakukan pengaturan yang sesuai, dalam contoh saya melakukan pengaturan berikut: Stroke line => Pattern, Line width: 100 px

Setelah semua pengaturan selesai klik tombol Stroke, maka hasilnya akan seperti gambar dibawah ini


Sekarang Frame yang kita buat sudah jadi, Anda sudah dapat mencetaknya secara langsung pada mesin cetak (printer) yang Anda miliki, atau Anda dapat mengekspornya menjadi format Bitmap sesuai keinginan Anda, di bawah ini contoh hasil gambar setelah di eksport menjadi *.png

Selain menggunakan Pattern (pola), kita juga bisa membuat Frame berupa garis tanpa pola, caranya pada menu Stroke line pilih Solid color. Di bawah ini adalah Frame pada gambar dari kombinasi antara Pattern dan Solid color.


Contoh Frame dengan kombinasi Solid color berbeda pada foto bersama setelah acara Traning GIMP di Pabrik Sepatu FANSbentuk frame tengah sudutnya agak bulat

Contoh Frame dengan kombinasi Pattern dan dua Solid color berbeda, bentuk frame tengah terdiri dari dua buah Solid color dengan warna berbeda dan bentuk pada sudutnya agak bulat.

Contoh Frame dengan Pattern dan Solid color yang ukurannya sedikit kecil pada foto lainnya

Demikian tutorial singkat yang dapat saya tulis kali ini, sebenaranya secara garis besar untuk membuat Frame pada GIMP hampir sama dengan cara pada Inkscape, bagi Anda yang sudah membeli Buku Desain Grafis dengan Inkscape maka tidak begitu banyak mengalami kesulitan waktu mempraktekkan tutorial yang saya tulis ini karena konsep dan beberapa istilahnya hampir sama.


PITUTUR ADILUHUNG PORO LELUHUR

Rejeki iku ora iso di tiru, senajan podo lakumu, senajan podo dodolanmu, senajan podo kerjomu, hasil sing ditompo bakal bedo,  iso bedo ning akehe bondho, iso ugo ono ning roso lan ayeme ati yo iku sing jenenge nasib. Kabeh iku soko  trisnane  Gusti kang Maha kuwasa, sopo temen bakal tinemu sopo wani rekoso bakal Gayuh […]

Ramadhan, di sini dan di sana

Di sini, saat berbuka langsung mendadak adzan.

Di sana, menjelang waktu berbuka, masjid-masjid saling bersahutan menyuarakan tilawah. Saat sampai pada "Shadaqallahul adzim..." (semua menunggu ini, terutama anak-anak), itu adalah saat dimana piring-piring berkelontang, Periuk nasi dikeruk, sirup dan sop buah ditumpahkan ke gelas-gelas.

Di sini, jeda antar shalat tarawih tidak ada shalawat.

Di sana, shalawat disuarakan dengan lantang bersama-sama, membuat anak-anak bersemangat kembali bangkit untuk mendirikan tarawih berikutnya.

Di sini jarang tercium aroma mesiu.

Di sana jalanan malam hari berkelap-kelip oleh petasan anak-anak, dari blok ke blok lain.

Di sini begitu shalat tarawih selesai, masjid menjadi sepi.

Di sana setelah tarawih usai, masjid masih ramai. Tadarus diisi sebagian besar oleh anak-anak dan remaja. Semua berebut memegang mikrofon dan membaca ayat. Katanya sih biar kalau pulang ke rumah nanti anak-anak itu bolehlah berkata, "Ayah, tadi aku sempat tadarusan. Dengar tidak suaraku tadi?"

Di sini, saat sahur masjid menyuarakan ajakan untuk bangun dan sahur.

Di sana, selain suara masjid, ada anak-anak yang berkeliling dari rumah ke rumah. Mereka berteriak "Sahuuuur! Sahuuuur!". Kalau bukan memukul ember atau galon, tiang listrik dipukul keras-keras menggunakan batu. Kadang-kadang, petasan yang suaranya memikik, diluncurkan ke langit.

Di sini saya tidak tahu batas imsak jika tidak melihat jadwal dan jam. Masjid langsung menyuarakan adzan.

Di sana, kami sedang menyeruput kopi dan kemudian masjid menyapa, "Assalatu wassalamu alaiiik..", kami langsung tersedak. Puasa dimulai.

Saya merasa kehilangan suasana yang biasa. Terlepas dari perbedaan-perbedaan faktor lingkungan dan sebagainya, mendadak saya rindu Lombok.

Hae kamu yang di sana...

Buku-buku Tua

Sejak pindah ke ibu kota, saya beberapa kali menyempatkan diri untuk membeli buku bekas di Pasar Senen. Butuh sekitar 3 jam dari Bogor untuk tiba di sana. Sampai saat ini, saya baru mengunjungi tiga tempat penjualan buku bekas. Di dekat stasiun Pondok Cina, Pasar Senen, dan Pasar Senen Impres. Buku-buku yang paling menarik rasanya ada di Pasar Senen Impres, sekaligus buku-buku yang paling mengenaskan kondisinya. Di beberapa lapak di sana, buku-buku tersebut ditumpuk di atas alas kayu, kemudian ditutupi terpal seadanya. Tanpa atap peneduh hujan dan bau kencing kucing. Saya mendapatkan salah satu buku favorit saya dari tempat seperti itu. Ada juga beberapa tempat di sosmed dimana kita bisa membeli buku-buku bekas berkualitas bagus. Tapi membongkar-bongkar buku berdebu di lapak beneran lebih seru. Lebih berseni!

Setiap saya tiba di tempat itu (atau pun tempat lain yang menjual buku-buku bekas) saya tidak berhasil menyembunyikan wajah yang penuh rasa tertarik dan semangat (yang mungkin berpengaruh terhadap harga yang dipatok oleh penjual, "Wah ini anak kepengen banget. Naikin aja lagi harganya."). Maksud saya, ya ampun, buku sebagus ini cuma lima belas ribu rupiah? Saya juga belajar seni membeli buku bekas (tentang bagaimana mendapatkan harga yang lebih murah dan hal lain tentang buku) dari kawan saya yang juga mengoleksi banyak buku klasik.

The Hobbit oleh JRR Tolkien, terbitan Unwin edisi keempat tahun 1983 "The Hobbit oleh JRR Tolkien, terbitan Unwin edisi keempat tahun 1983"

Namun ketika saya membayar buku-buku tersebut, timbul perasaan lain. Sebuah pikiran lain. Beberapa pertanyaan.

Mengapa pemilik sebelumnya menjual buku-buku itu? Apakah mereka kehilangan minat terhadap buku? Apakah kemampuan finansial mereka jatuh secara finansial kemudian terpaksa menjual habis semua buku mereka (saya pernah, seluruh koleksi keluarga)? Apakah mereka pindah rumah dan merasa berat hati membawa semua buku-buku mereka? Apakah buku-buku tersebut diwariskan kepada keturunannya yang sama sekali tidak menyukai buku kemudian buku-buku tersebut dijual? Apakah itu dari tempat penyewaan buku yang sudah bangkrut?

Jika nanti saya jatuh lagi secara finansial, apakah saya akan menjual lagi buku-buku saya? Jika saya punya anak dan mereka tidak menyukai buku, apakah saya rela mewariskan untuk mereka? Apakah saya cukup rela untuk mendonasikan semua koleksi? Apakah masih ada yang membaca buku-buku seperti ini?

Barangkali pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak penting untuk dijawab. Saya punya mimpi akan sebuah perpustakaan pribadi yang terbuka. Bebas dan gratis.

Dan yang terakhir. Misal, biarkan saja imajinasi saya sedikit ngawur. Ada naskah Mata Pusaran-nya Pak Pram di salah satu lapak yang dikelola oleh penjual yang kurang paham dengan buku, diletakkan ditumpukan paling bawah, di lapak yang paling kotor dan tak terawat. Naskah dengan halaman lengkap. Tanpa cacat huruf. Calon menjadi sampah oleh kondisi yang paling dimusuhi oleh buku; terik matahari, hujan dan pipis kucing.

Oke mungkin itu khayalan yang tidak bisa dimaafkan. Saya hanya berharap semoga para penjual buku bekas lebih memperhatikan kondisi buku-buku yang mereka jual. Jangan menyerah Pak Bapak!

Selamat malam Senin.

Catatan mengenai qemu-kvm

Pasang libvirt dan qemu.

qemu-img create hda.img 10G # buat hdd virtual ukuran 10GB, kosong
-m 2048  # RAM
-cdrom img.iso # berkas ISO
-hda hda.img # hdd virtual
-hdb hdb.img # hdd virtual kedua
-boot d # booting ke hdd
-boot c # booting ke cdrom
-enable-kvm # aktifkan kvm
-vnc :1 # akses via vnc
vncviewer :1 # akses vnc

Jika ingin berkomunikasi dengan host, gunakan IP 10.0.2.2.

Masuk ke monitor mode : Ctrl + Alt + 2

https://en.wikibooks.org/wiki/QEMU/Monitor#sendkey_keys

Gnome Asia yang tidak hanya Asia.

gnomeasia

Ya, itulah logo Gnome Asia Summit 2015, keren kan Gunungan Wayang Cap Kaki, entah apa maknanya? Yang jelas acara keren oleh Glib Untuk Gnome Mania, meski yang ngadain Glib tetapi acara diadakan di Universitas UI depok,  7-9 Mei 2015.

Acara yang diikuti tidak hanya dari benua Asia, tapi Eropa dan Amerika, yang jelas acara ini sukses karena ada orang keren dibelakangnya:

utian

Ini lah mentor orang-orang keren itu yang jadi super keren. Utian Ayuba. saya salut sama ini teman, yang keren plus banyak pengorbanannya.

Yang jelas di acara ini saya ketemu orang-orang keren diantaranya adalah mentor saya dalam penerjemahan. Andika Triwidada, yang sekaligus penasehat infrastruktur BlankOn.

andikaIni dia, super multi talenta dan Drektur Executif BlankOn MDAMT

mdam

Dan masih banyak lagi, disamping itu acara ini memang keren dan yang terkerSen adalah Pak Dwi

dwiTerus terang saya penggemar gambarnya pak dwi, sayang saya belum sempat digambar oleh beliau :D. dan yang jelas multi talentanya itu yang bikin ngiri sama beliau.

Dan karena Acara ini keren ada lagi yang tidak bisa terlupakan, pecel di belakang masjid UI. eh kok yang jualan pak Anwari sih? 10662105_10152880970892849_3994983426739524633_oHahahaham itulah beliau yang mengaku sebagai penjual pecel, ini aslinya ibu penjual pecel. ibu-pecelSayang sekali pak Astrojim yang semula ikut tetapi batal gara-gara pengamdian kepada negara, tapi rasa itu cukup terobati oleh session Princeofgiri

haris
Dan akhirnya terima kasih semuanya, inilah presentasi saya di Gnome Asia Summit 2015 yang tidak saya kerjakan sendir dan dicplik dari beberapa slide pak mdamt, pak fajran. dan terima kasih pak estu yang telah mendaftarkan saya, dan pak azis, pak MHY, pak Shokhibi, cho2, priyess, yang telah membuatkan saya presentasi.

Selamat berjuang kawan
1stdaysummit

 

Dan yang jelas keren, keren, dan Linux Perlu IDOL.

sponsored-badge-shadow

Catatan: Foto diambil dari foto jepretan panitia, Foto Pribadi Pak Mdamt, dll.


GNOME Asia Summit 2015 – English

I write this post on personal point of view. I already write similar post in Indonesia Language in here. I’m not only translating, but change little bit of sentence.

Backgrounds

Last year, when I’m attending GNOME Asia Summit 2014 in Beijing, Utian (since two years ago) wanna bring GNOME Asia Summit to Indonesia. I try to help as much as I can to chat with GNOME friends and the GNOME Board. Utian him self has Lightning Talk to explain his idea.

IMG_8925

Utian at GNOME Asia Summit 2014 – Beijing

In last two years, here are no activities related to FOSS that large enough in Indonesia. FOSS feels sluggish. Only a few communities that were active but nothing big happens. So it felt just so-so alone and boring.

We need to pull the trigger for local FOSS community with big event, cool and international class. It can rise their will to contribute again. After that, there will be a lot of event that have purpose to improve FOSS movement in this country.

Where am I?

It’s complicated actually. Daily, I’m BlankOn Developer. BlankOn is Indonesia linux distribution based on Debian and GNOME. I’m also fan of OpenSUSE, so I helped OpenSUSE community in Indonesia. I’m also Local Committee of GNOME Asia Summit 2015. And I’m also one of two GNOME Members in Indonesia.

re_workshop_DSC_5132

I’m one of GNOME Members

In this post, I will play as GNOME Members and Local Committee.

What I’m doing?

As local committee, my role job is sponsor finder and supervisor. I did not want to be a leader because I want to train younger friends to create events. To make them more experience. Generally, friends that live as IT person, was a bit difficult to manage some events. And local committee this time are younger than me and deserve to have a chance to manage it.

Being a developer of BlankOn in a long time (seven years), it is very much helpful in getting sponsors. Because I was already known as activist of FOSS in Indonesia.

re_workshop_DSC_0063

Special Shoes & Limited Edition from Sponsor

Me and Utian, being supervisor in some activity in local committee such as accounting, agenda, workshop, toolkit, documentation and consumption. I do not get involved too much and detailed, but always ready and willing to be asked for suggestions / advice and, if necessary, be a problem solver.

An example, I always be around the current location of the speakers until 11:00 pm. I assume that the speaker come from Indonesia or another country need some guide or help, while other friends already rest or sleep after being busy organizing the event whole day.

One of the undesirable things happen, Kate, David and Alexandre, failed to get the hotel. The place that already booked, given to others. It was after 10:00 pm. Fortunately, I’m still hanging out with my friends who came from Taiwan. I help them to get another hotel, I also guide them to get local food. It’s not easy to get local food at that time for foreigner. Mostly, only street food and the seller can’t speak English.

resized_IMG_4875

That’s David, Alexandre and Kate. :)

My point is, I want the event going well. Nothing happen that can break the event. I must make sure all runs smoothly. So, yes, I’m very busy that time.

What I expect and get from this event?

One of the speakers in GNOME Asia Summit 2015, Eric Sun (he is my first foreigner friend), is an old friend of mine. A friend who I know since 2008 when I was working in Banda Aceh. We met again when GNOME Asia Summit 2014 in Beijing with Franklin Weng and planned to meet again in GNOME Asia Summit 2015. Eric Sun and Franklin Weng, are developer of Ezgo Linux (distributions based on education and funded by the Ministry of Education of Taiwan). They held a special discussion related to cooperation with BlankOn. BlankOn will help EzGo to manage their distribution. It’s possible that EzGo based on BlankOn. I’m really happy because of that.

resized_IMG_5038

My Taiwanese Brothers

When I was attending GNOME Asia Summit 2014 in Beijing, I meet lot of GNOME Members. Mostly they’re attend this event. We have a lot of discussions. Not only talk about GNOME, but talking about food, place, and culture. And also meet new friends. Amazing.

DSC00282w

Eat Sate

GNOME Asia Summit 2015 is also a event for a reunion of few friends, like the BlankOn developers, community OpenSUSE-id, FreeBSD community, SLiMS, KLAS and several other communities that I do not know. : D

BIN_2755w

OpenSUSE from Indonesia and Other Country

Actually there are interesting things related to sponsors. Mostly their world are not directly related to information technology or FOSS. Such as the shoes industry, tile industry and stock trading. Yet, many of them exactly know what that means of FOSS and how to contribute, not only with code but also supporting FOSS event. Big appreciate for them, without them, this event would not happen.

In the end, me and several other communities are already planning movement. Such as GNOME Translation Workshop with the KLAS, GNOME Release Party in Jogjakarta, Indonesia Linux Conference in Tegal, EzGo Collaboration with BlankOn, SLiMS Debian Packaging Workshop, and  possibility of OpenSUSE Asia Summit 2016 in Indonesia.

Finale

In terms of contribution, the Asia, Indonesia in particular, has a different style between Europe or America. Indonesian people is not easy to start to contribute. They should be introduced first, approached until they know that the contribution was very pleasant and bring benefits both for himself and others. Perhaps Social Engineering is greatly needed in this section.

It is certainly very different from those in Europe or America. If they want to contribute, so just follow-up activities and contribute.

It is very grateful that Indonesia have lot of communities. Such as local linux distribution communities, both developers and users. They can learn to contribute locally if they not feel confident to contribute at the international level.

And, Keep Moving Forward. ^_*

team_in_house2

Notes:

Pictures taken from: https://www.flickr.com/groups/gnomeasia2014 and https://www.flickr.com/groups/gnomeasia2015


GNOME Asia Summit 2015 – Indonesia

Saya kali ini akan menulisnya dari sudut pandang pribadi, karena ini blog pribadi. :)

Latar belakang

Tahun lalu, saat mengikuti GNOME Asia Summit 2014 di Beijing, Pak Utian (yang sedari dulu) berkeinginan untuk membawa GNOME Asia Summit ke Indonesia. Saya berusaha membantunya sebisa mungkin dengan ngobrol-ngobrol bareng teman-teman GNOME dan GNOME Board. Pak Utian sendiri waktu itu dapat jatah Lightning Talk untuk memaparkan idenya.

IMG_8925

Pak Utian di GNOME Asia Summit 2014 – Beijing

Indonesia dalam 2 tahun terakhir, menurut saya tidak ada kegiatan-kegiatan terkait FOSS yang cukup besar. FOSS terasa lesu. Hanya beberapa komunitas-komunitas yang terlihat aktif namun gaungnya kurang menggelegar. Jadi kesannya hanya begitu-begitu saja.

Komunitas FOSS yang ada, perlu dipancing dengan sebuah kegiatan yang besar, keren, internasional, agar semangat kontribusi kembali timbul. Sehingga memicu keberagaman kegiatan lain demi kemajuan FOSS di negeri ini.

Saya berada di mana?

Sebetulnya saya berada di lingkaran yang rumit. Sehari-hari saya adalah Pengembang BlankOn, tim hura-hura OpenSUSE-id, Panitia Lokal GNOME Asia Summit 2015 dan GNOME Member.

re_workshop_DSC_5132

GNOME Member Cuiy

Tapi, kali ini saya akan berlaku sebagai GNOME Member dan Panitia Lokal.

Apa saja yang saya kerjakan?

Di kepanitiaan, saya bertugas sebagai pencari sponsor dan supervisi. Saya sengaja tidak mau jadi ketua karena ingin melatih teman-teman yang lebih muda untuk membuat kegiatan. Umumnya, teman-teman IT itu agak susah dalam mengelola sebuah kegiatan. Dan teman-teman panitia lokal kali ini masih muda-muda dan sangat layak untuk diberikan kesempatan.

Menjadi seorang pengembang BlankOn dalam waktu yang cukup lama (7 tahun), sangat banyak membantu dalam mendapatkan sponsor. Karena sudah terlanjur dikenal khalayak umum dalam dunia FOSS di Indonesia.

re_workshop_DSC_0063

Sepatu Spesial

Saya bersama Pak Utian, menjadi supervisi di beberapa kegiatan kepanitiaan lokal GNOME Asia Summit 2015. Mulai dari keuangan, acara, workshop, peralatan, dokumentasi serta konsumsi. Saya tidak terlibat terlalu jauh dan mendetail, namun selalu siap bersedia untuk dimintai saran/nasehat dan kalau diperlukan, menjadi pemecah masalah yang ada.

Salah satu contohnya, saya memposisikan untuk selalu berada di sekitaran lokasi saat para pembicara mulai berdatangan sampai batas jam 11:00 malam. Saya berasumsi bahwa teman-teman pembicara yang datang, pasti suatu waktu butuh bantuan sedangkan teman-teman yang lain sudah istirahat karena seharian sudah kelewat sibuk mengatur acara.

Salah satu hal yang tidak diinginkan terjadi, rombongan Kate, David dan Alexandre, gagal mendapatkan penginapan. Tempat yang sudah dibooking diberikan orang lain. Saat itu sudah lewat jam 10:00 malam. Yang kebetulan, saya sedang nongkrong bareng teman-teman yang datang dari Taiwan. Saya bantu carikan penginapan, juga saya antar cari makan.

resized_IMG_4875

Trio Keren

Intinya, saya mau acaranya lancar jaya. Tidak ada kendala yang terlalu berarti. Makanya saat acara, saya sibuk memastikan semua berjalan dengan lancar. Jadi ya sok sibuk banget.

Apa yang saya harapkan dan dapatkan dari acara ini?

Salah satu dari pembicara GNOME Asia Summit 2015 adalah teman lama saya. Teman yang saya kenal sejak 2008 saat saya bekerja di Banda Aceh. Kami bertemu lagi saat GNOME Asia Summit 2014 di Beijing dan merencanakan untuk bertemu lagi di GNOME Asia Summit 2015. Teman tersebut, Eric Sun dan Franklin Weng, adalah developer Ezgo Linux (Distro berbasis pendidikan yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Taiwan). Mereka mengadakan diskusi khusus terkait kerjasama dengan BlankOn Linux. Ezgo akan menginduk ke BlankOn Linux.

resized_IMG_5038

Teman Lama

Saat GNOME Asia Summit 2014 di Beijing, saya mengenal banyak GNOME Member. Mayoritas mereka datang ke acara ini dan kami semua ngobrol-ngobrol lagi. Selain bertemu dengan teman-teman lama, saya juga jadi berkenalan dengan banyak teman-teman baru yang cukup beragam. Benar-benar menyenangkan.

DSC00282w

Makan Sate

Acara GNOME Asia Summit 2015 ini juga jadi bahan reuni beberapa teman-teman, seperti para Pengembang BlankOn, Komunitas OpenSUSE-id, Komunitas FreeBSD, SLiMS, KLAS dan beberapa komunitas lain yang saya sendiri tidak tahu. :D

BIN_2755w

Yang paling kanan itu dari Indonesia lho!

Sebenarnya ada hal yang menarik terkait para pihak yang jadi sponsor. Mayoritas mereka bukan dari dunia yang terkait langsung dengan Teknologi Informasi ataupun FOSS. Seperti dari industri sepatu, industri genteng dan perdagangan saham. Namun banyak dari mereka paham betul apa artinya itu FOSS dan bagaimana bentuk-bentuk kontribusinya. Terima kasih banget buat mereka, tanpa mereka, acara ini tidak akan terwujud.

Di akhir acara, saya dan beberapa komunitas lain sudah merencanakan pergerakan. Seperti Lokakarya Penerjemahan GNOME dengan pihak KLAS, Pesta Rilis GNOME di Jogjakarta, Indonesia Linux Conference di Tegal, Kolaborasi EzGo dengan BlankOn, Pelatihan Pemaketan SLiMS oleh Pengembang BlankOn dengan Pengembang SLiMS serta kemungkinan OpenSUSE Asia Summit 2016 di Indonesia.

Penutup

Dalam hal kontribusi, orang Asia, Indonesia pada khususnya, memiliki gaya yang berbeda dengan orang-orang Eropa ataupun Amerika. Orang Indonesia tidak mudah memulai untuk kontribusi. Mereka harus diperkenalkan terlebih dahulu, didekati sampai mereka tahu bahwa kontribusi itu sangat menyenangkan dan membawa manfaat baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Mungkin Social Engineering memang sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Hal tersebut tentunya sangat berbeda dengan orang di Eropa atau Amerika. Mereka jika ingin berkontribusi, ya langsung saja ikutan kegiatannya dan berkontribusi.

Bersukur bahwa di Indonesia banyak komunitas-komunitas lokal, baik komunitas pengembang distro linux maupun komunitas pengguna distro linux. Mereka bisa belajar berkontribusi secara lokal terlebih dahulu jika belum merasa percaya diri untuk kontribusi di tingkat internasional.

Dan, Teruslah Melangkah Ke Depan. ^_*

resized_IMG_5762

Catatan:

Foto-foto diambil dari https://www.flickr.com/groups/gnomeasia2014 dan https://www.flickr.com/groups/gnomeasia2015


Memonitor atau Mengatur Service Linux di systemd

Setalah acara gnome.asia kemarin, ada aura tambahan untuk oprek dan mengupgrade mesin saya yang sebelumnya masih BlankOn 9 Suroboyo yang menganut paham sysvinit, mau saya upgrade ke BlankOn X Tambora yang menganut paham systemd. Proses upgrade tersebut tidaklah berjalan mulus, masih ada beberapa paket yang konflik, semua jurus (ajaran bapak Azis dan teman2 pengembang BlankOn) … Continue reading Memonitor atau Mengatur Service Linux di systemd