Journey to West (English version)

The first trip to the west and second chance as speakers in the GNOME Asia Summit Call for Papers first before traveling to the west or the opportunity to attend the event classmates GNOME Asia Summit as speakers i first do apply my presentation enrolment as speakers. I fill the overall formnya until and after … Lanjutkan membaca Journey to West (English version)

Journey to West (Indonesia version)

Perjalanan pertama ke barat dan kesempatan kedua sebagai dalam GNOME Asia Summit Call for papers Pertama sebelum melakukan perjalanan ke barat atau kesempatan untuk menghadiri acara sekelas GNOME Asia Summit sebagai pembicara, saya pertama kali melakukan apply presentasi saya saat pendaftaran sebagai pembicara. Saya isi formnya secara keseluruhan sampai dan setelah saya apply saya mendapatkan konfirmasi … Lanjutkan membaca Journey to West (Indonesia version)

Journey to The West (GNOME Asia Summit 2016) – Delhi, India

This is third time GNOME Asia Summit that I attended. My contribution in this summit as Asia Committee. I help everything that I can, such as:

  1. getting sponsor
  2. designing web (Asep, Piko and Kukuh also help on this)
  3.  designing posters (Kukuh and Aris also help on this)
  4. coordinating with other Asia Committee, GNOME Board and Local Committee
  5. hand carry FANS Shoes (sponsor) from Jakarta to Delhi

I was excited actually when this year summit happen in India, it’s because Indonesia has similar culture with India and it’s common that Indonesia people watch Bollywood movie (my father still love Bollywood movie, but me, only Shakhrukh Khan and some others).

Personally, I also dreamed to visiting few historical place. I’ve been on Great Wall of China when attended GNOME Asia Summit 2016 in Beijing. And this year, we have Taj Mahal.

Submit Talk

I submitted talk and approved about Contributing to GNOME In Indonesia. But I kick out my self (because I’m one of person who choose which one topic is better for conference). I would like to see locals talk than my self.

Ticket and Visa

I bought AirAsia ticket (because it’s cheaper than others) arround 400 USD from Jakarta – New Delhi and New Delhi – Jakarta. I got travel subsidy from GNOME (thanks to GNOME). For Visa, I use e-Visa. It’s easy and fast. It’s cost about 49 USD.

Arrived at India

I arrived at India about 10 pm local time. It’s take near an hour to pass immigration. And magically, easy to pass custom (fyi, I bring 30 shoes and 21 tshirt). I’m with Moko and Syaimif at that time.

Getting taxi and go straight to Manav Rachna University. The taxi driver very friendly. He tried to speak with us even his English not good enough. Arrived at university about 1 am and have difficulties because security of university can’t speak English. Luckily, our taxi driver help us. So we can get our room that local committee provide and have rest.

Anyway, I will not talk about technically thing here.

Day 0

I getting late to the venue just because I don’t know where the venue. The University is huge enough, lot of building and wide area. They already starting opening speak at that time. My first impression is, I’m happy because I meet lot of friends.

The good thing in here are people love to talk with foreigner, maybe because mostly they speak English in daily life. I enjoy talk with all people, because it makes my English better and better.

I was amazed with participants. Many participants love technically things. Especially when GStreamer workshop, many people follow it. This not happen in Indonesia last year.

https://www.flickr.com/photos/kitty-kat/26296528570/in/pool-gnomeasia2016/

Day 1st

I was little bit shocked actually, just because me and Bin Li must have opening speech with Locals such as some Professor/Dean. Not preparing about that. But the opening is also great, that’s new experience for me.

DSC00643

Day 1 was amazing because it’s feel reunion and meet new friend. But for me, I can talk with another GNOME Board Director, Cosimo Cechi.

In this summit, we also has local foods and local tea, very delicious. And the foods it’s self was great and not weird for me since me as personal, little bit difficult for getting food in another country.

DSC00699

The good news from Day 1st, there are lot of female participant. It’s good because mostly, IT Summit has less female participant. They also active.

DSC00820

Day 2nd

Second day summit also interesting, personally I’m attend to Bugzilla Class with Andre Klapper as speaker. I missed this class last year in GNOME Asia 2015.

DSC00730

And I was also on Mr. Iwan’s Class, talking about FOSS in Tata Logam Lestari.

DSC00739

But I’m lost at Moko’s Class. Day 2nd make me busy. Me, Kat, Cosimo and Bin Li being famous here. We invited to visiting lot of university department. And has honor to meet Director of the Manav Rachna University. Me, Kat and Cosimo also has On Air at Radio that belong to Manav Rachna University and aired on Faridabad area. That’s my first time on foreign radio. Hahaha.

Last Day, One Tour Day

Last day was journey. I can’t explain in text, but this was amazing trip. I really enjoy this since this is my first time in India. We go to Agra (Taj Mahal).

BIN_6248s

IMG_20160424_162250

You can see, all of us are enjoy this trip event I feel too much wefie. Hahaha.

Extra Day

Monday night is my flight, so I still have few hours to take look around New Delhi. I’m going with Moko, Syaimif, Bin Li, Michael, Jonathan, Eric, Johan Chi and Raju, also Amisha, but she left at afternoon for family business.

Our target is Delhi Gate.

DSC01037

After all, we can contribute many things to GNOME. Just which one that you interested.

Note : you can see all group picture at https://www.flickr.com/groups/gnomeasia2016/pool/

Disponsori oleh Gnome Foundation

Disponsori oleh GNOME Foundation

 

 

 


Nyinyiran pada Buku TIK SD

Beberapa hari lalu saya share ulang tulisan lama saya di Facebook adapun judul dari tulisan itu adalah; Mengapa Buku TIK Berbasis Open Source Perlu Ada?
Kemudian beberapa teman Facebook reshare ulang disertai komentar yang baik, namun ada juga komentar yang isinya kurang baik (ngawur), mungkin saja yang komentarnya ngawur tersebut belum baca isi dari buku yang saya tulis
Yang membuat saya prihatin adalah; di tahun 2016 ini masih saja ada orang yang langsung komentar dengan ngawur sebelum membaca isi dari yang ia komentari.
Di bawah ini adalah contoh komentar yang kurang baik:


-

Memang benar buku yang saya tulis tersebut masih sangat jauh dari kata bagus dan sempurna, namun setidaknya saya sudah berusaha berkarya untuk negri ini terutama dibidang pendidikan.
-

Untuk Anda yang memang sudah pintar dari sononya saya ada pertanyaan di bawah ini yang harus segera dapat jawaban
  • Apakah teknologi harus dicegah?
  • Apa solusi Anda jika menjumpai seorang guru SD yang kebingungan ketika mau mengajar komputer?
  • Ketika orang tua memiliki komputer/laptop kemudian si anak mau ikut makai apakah harus dilarang?
  • Bagaimana cara agar anak SD tidak kecanduan Game GTA?
  • Jawaban apakah ketika Anda ditanya oleh orang yang mau mengajari komputer pada anaknya, sedangkan orang tua tersebut tidak bisa komputer?
-
Ditunggu jawabannya di kolom komentar

Trik Menggambar Spiral di GIMP

Beberapa minggu lalu saya diminta menjadi pemateri untuk mengenalkan aplikasi Desain Grafis berbasis Open Source di salah satu LPK yang tidak terkenal di Semarang. Rencananya LPK tersebut akan migrasi menggunakan Aplikasi OpenSource untuk kelas Office dan Desain. Saya pun mengenalkan dan demo beberapa aplikasi Desain Grafis, misalnya Inkscape, Krita, GIMP, dll.
-
Selesai demo acara dilanjut dengan sesi tanya jawab, salah seorang peserta yang ternyata sudah mulai membiasakan diri menggunakan aplikasi OpenSOurce dalam hal ini menggunakan Inkscape dan GIMP mengalami masalah, dia pun cerita kalau sudah lumayan mahir menggunakan Corel Draw dan Photoshop untuk menggambar dan edit foto namun karena ingin tobat akhirnya dia belajar menggunakan Inkscape dan GIMP, berikut isi dari tanya jawab pada acara tersebut:
-
P: Penanya
S: Saya

  • P: Dalam penggunaan GIMP, saya sedikit kesulitan jika membuat gambar yang agak rumit
  • S: GIMP kan diciptkan untuk edit gambar, bukan untuk menggambar.
  • P: Ya pak, tapi dalam mengedit gambar kita kan sering mengalami kasus dimana harus menambahkan gambar tertentu.
  • S: Baik, saya paham maksud Anda, contoh menggambar apa yang sulit di GIMP?
  • P: Contohnya gambar bintang, spiral, dan beberapa bentuk lainnya.

Waduh...... ternyata pertanyaan tingkat dewa nih, tapi sebagai pemateri abal-abal saya tidak kehilangan akal menghadapi pertanyaan seperti ini, kemudian saya balik bertanya, biasa sebagai pancingan biar peserta lain tidak pada ngantuk

  • S: Jika di photoshop untuk membuat gambar bintang dan spiral mudah ya?
  • P: Sama sulitnya pak, makanya saya pindah menggunakan GIMP, ternyata sama aja, kalau sama aja, jadinya percuma dong saya bela-belain pindah aplikasi, mending tetap pakai Photoshop bajakan aja

Lhaiske.... nek ngene terus aku kudu jawab piye jal :D
  • S: Untuk membuat object atau gambar yang rumit di GIMP bisa menggunakan Tool Path, tapi memang betul untuk membuat gambar yang kelewat rumit susah dilakukan, solusinya adalah; kita bisa meminjam aplikasi lain untuk membuat gambar tersebut, dalam hal ini bisa meminjam Inkscape, kemudian gambar yang dibuat dengan Inkscape tersebut diimpor dengan GIMP.
  • P: Perasaan di GIMP tidak ada fitur Import File deh pak, adanya cuma Open File, itupun hasilnya tidak berupa garis yang bisa diedit?
  • S: Memang tidak ada fitur Import file secara langsung, tapi GIMP memiliki fitur Import Path lho
  • P: Tambah bingung saya pak, langsung contohin saja pak caranya
Lhadalah..... saiki bingunge dadi pindah myang peserta :D
-
Akhirnya singkat cerita saya terpaksa demo secara singkat cara membuat gambar spiral di GIMP dengan bantuan Inkscape, yang kemudian diakhiri dengan tepuk tangan oleh sebagian peserta yang hadir dalam acara tersebut, yang tidak tepuk tangan mungkin sedang tidur atau malah gak paham apa yang sedang dibahas.
-
Di bawah ini tutorial sederhana yang saya tulis berdasarkan studi kasus di atas
  • Jalankan GIMP sesuai sistem operasi yang Anda gunakan, buat halaman baru dengan klik File => New atau tekan Ctrl+N, tentukan ukuran halaman yang akan dibuat sesuai kebutuhan (contoh; 640 x 480). Buat gambar spiral dengan menggunakan Path Tool atau Pencil Tool seperti gambar di bawah ini

Ternyata memang sulit ya menggambar spiral menggunakan GIMP, berarti peserta yang bertanya tadi tidak bohong dong
  • Jalankan Inkscape sesuai Sistem Operasi yang Anda gunakanan, atur halaman Inkscape Anda dengan cara klik File => Document Properties atau tekan Ctrl+N, dalam contoh menggunakan halaman dengan ukuran 640 x 480 px (sesuai ukuran halaman GIMP sebelumnya).

  • Buat gambar spiral dengan Spiral Tool dengan pengaturan sebagai berikut: Turns; 6,00, Divergence; 1,000, dan Inner radius; 0,000, atur agar object spiral tersebut berada di tengah-tengah halaman.

Simpan gambar yang dibuat tadi dengan format *.SVG, pada GIMP versi tertentu tidak mampu melakukan Import Path secara langsung pada object SVG yang bukan Path, maka sebelum menyimpan gambar tersebut sebaiknya ubah dulu object menjadi Path
  • Sekarang kita kembali ke halaman GIMP untuk melakukan Import Path, arahkan kursor ke kelompok docking Layers, Channels, Paths, Undo History, pilih tab Paths 


  • Klik kanan pada area kosong dalam tab Paths, pilih Import Path, lakukan pencarian pada direktori komputer dimana Anda menyimpan gambar yang dibuat dengan Inkscape sebelumnya, setelah ketemu klik Open.

  • Sekarang Di GIMP yang sedang Anda gunakan sudah memiliki Path atau gambar berbentuk Spiral, namun gambar tersebut belum terlihat secara otomatis pada halaman kerja, untuk menampilkannya klik ikon berbentuk mata disamping kiri nama path pada menu Paths, Anda juga dapat mengaktifkan menu Link yang berbentuk ikon rantai pada menu ini.

  • Untuk dapat mengedit bentuk path lakukan cara berikut; klik ikon Paths Tool pada Tool Box, kemudian pilih salah satu menu pada Tool Options

  • Untuk membuat gambar atau garis spiral berwarna dari path dapat dilakukan dengan klik Stroke Path pada Tool Options, pada jendela pengaturan Stroke Path pilih Solid color, lakukan juga pengturan  untuk ukuran garis yang akan dibuat pada menu Line width, jika semua pengaturan sudah sesuai klik tombol Stroke.
  • Maka hasilnya seperti di bawah ini

Anda juga bisa membuat gambar atau garis berbetuk spiral dengan pola tertentu dengan menggunkan fitur Pattern yang sudah disedikan oleh GIMP seperti gambar di bawah ini


Demikian tutorial Trik Menggambar Spiral di GIMP yang dapat saya tulis kali ini, sangat mudah bukan, sampai jumpa pada trik menarik lainnya.
-
Berikut adalah video sesuai tutorial di atas

Klarifikasi untuk Fanspage SMPN 1 Semarang

Tulisan ini saya buat sebagai klarifikasi pada salah satu postingan di Fanspage SMPN 1 Semarang, dengan adanya klarifikasi ini semoga tidak terjadi salah paham lagi oleh pembacanya.

Hari Rabu tanggal 16 Maret 2016 adalah jatah saya ngajar eskul Desain Grafis dengan Inkscape, hari itu adalah pertemuan kedua saya ngajar eskul di sekolah tersebut, adapun ruangan yang digunakan adalah Lab. Biologi lantai 2.
Seperti pada pertemuan sebelumnya, eskul dimulai jam 14.00 WIB dan berakhir pukul 16.00. Adapun materi pada pertemuan kali ini adalah menggambar Landscape dan sekilas mempelajari cara desain logo. Materi menggambar landscape dapat Anda baca di artikel Menggambar Pemandangan dengan Inkscape, sedangkan salah satu materi mempelajari logo dapat Anda lihat pada video di Youtube dengan judul Create tile Clones.

Di bawah ini adalah gambar postingan di di Fanspage SMPN 1 Semarang

Kemudian ada yang komentar begini "Pake windows tu masian", lebih jelasnya dapat Anda lihat pada gambar di bawah ini

Berikut kronologi sebenarnya yang terjadi
  • Pukul 14.07 WIB eskul dimulai dengan pembacaan doa sebelum acara dimulai, siswa yang resmi ikut eskul adalah 5 (lima) siswa/i, seharusnya sih 6 (enam) siswa/i, tapi yang satu siswa tidak datang. 2 Siswa menggunakan komputer desktop, sedangkan 3 siswa/siswi menggunakan Laptop. Komputer Desktop terinstall Windows dan Ubuntu (dualboot). 
  • Ketika pelajaran desain, 2 siswa yang menggunakan komputer desktop login dengan Ubuntu, sedangakn 3 siswa/i lainnya menggunakan windows di laptop masing-masing.
  • Sekitar 30 menit pelajaran desain berjalan, tiba-tiba listrik dari PLN padam sehingga siswa yang menggunakan komputer desktop terpaksa tidak dapat mengikuti pelajaran desain.
  • Sekitar 10 menit listrik nyala lagi, siswa yang menggunakan komputer desktop menyalakan komputer, karena si siswa belum terbiasa menggunakan Ubuntu maka pas pemilihan sistem operasi ia malah pilih  login ke Windows (sudah kebiasaan).  kemudian acara eskul dapat diikuti kembali oleh semua siswa/i. 
  • Sekitar Jam 15.15 WIB pihak sekolah mengambil gambar untuk dokumentasi, gambar inilah yang akhirnya diposting di Fanspage SMPN 1 Semarang kemudian dishare oleh lebih dari sepuluh orang. 
Di bawah ini adalah beberapa foto yang saya ambil menggunakan kamera HP buatan china yang saya miliki
-
-
-

Demikian klarifikasi yang dapat saya sampaikan, semoga kita tetap semangat untuk memajukan gerakan Open Source di Indonesia terutama dalam bidang Pendidikan.

Menggabungkan Dua Gambar dengan GIMP

Untuk menggabungkan dua gambar, orang sering menggunakan aplikasi Photoshop tidak peduli asli atau bajakan, tapi sampai saat ini saya masih yakin kalau pengguna photoshop di Indonesia lebih banyak yang menggunakan photoshop asli bajakan karena harganya yang memang sangat murah mahal, bahkan ada salah seorang teman yang terkenal dengan edit foto artis juga masih menggunakan photoshop versi pak tani.

Saya sebagai penggiat aplikasi Open Source tentunya tetap komitmen untuk selalu menggunakan aplikasi yang legal dan murah tapi bukan murahan. Salah satu aplikasi Open Source untuk mengolah foto adalah GIMP.

Pada Tutorial kali ini saya memberi contoh sederhana cara menggabungkan dua gambar, yaitu gambar Superman dan Patung Dirgantara, alasan saya menggunakan dua gambar tersebut adalah karena keduanya memiliki sedikit hubungan, yaitu orang yang tidak tahu nama Patung Dirgantara ada yang menyebutnya dengan plesetan (terutama ABG Alay) Patung Superman, mungkin karena mirip Superman yang sedang terbang. Sedangkan masyarakat umum lebih banyak yang menyebutnya sebagai Patung Pancoran karena letaknya di Pancoran.

Beberapa patung di Jakarta juga mengalami nasib yang sama, misalnya Patung Selamat Datang sering disebut Patung jali-jali atau Patung HI  karena letaknya di depan Hotel Indonesia, Patung Arjuna Wijaya/ Patung Asta Brata sering disebut Patung Kuda Setan atau Patung Delman karena bentuknya seperti delman, Patung Pemuda Membangun sering disebut Patung Pizza Man, Patung Pahlawan sering disebut Patung Pak Tani dan Ibu Tani atau disebut Tugu Tani karena bentuknya seperti pak tani dan ibu tani.
Masyarakat umum semakin tidak tahu nama-nama patung di atas dapat dimaklumi karena akhir-akhir ini banyak media yang sering tidak menyebut nama patung tersebut dengan nama aslinya, misalnya pas ramai-ramainya berita terjadi kecelakaan di depan Patung Pahlawan, media lebih sering menyebutnya di depan Tugu Tani, ini medianya yang malas menyebut nama asli patung tersebut atau memang tidak tahu nama aslinya.

Kembali ke Tutorial, pertama saya siapkan dua gambar yang akan dimanipulasi, yaitu gambar Superman dan Patung Dirgantara seperti di bawah ini:

Jalankan aplikasi GIMP sesuai Sistem Operasi komputer yang Anda gunakan, kemudian buka kedua gambar tersebut, caranya, klik File => Open, atau tekan tombol Ctrl+O pada keyboard, lakukan pencarian file yang akan dibuka pada direktori komputer Anda. Klik salah satu file berupa gambar untuk melihatnya pada kotak Preview, untuk menampilkan semua jenis gambar klik menu All Images, Anda juga dapat memilih opsi berdasarkan kategori gambar tertentu. Setelah gambar yang akan dibuka sesuai dengan pilihan, klik Open atau klik dua kali.

Setelah kedua gambar terbuka dengan GIMP kita pilih Tab Image View yang menampilkan gambar Superman, potong bagian gambar yang akan kita pindahkan ke gambar lain dengan Free Select (the Lasso), berikut cara sederhana penggunaan Free Select pada GIMP; klik bagian gambar untuk titik awal seleksi, lanjutkan ke bagian lain sesuai bentuk gambar yang akan dipotong dengan cara memutar mengelilingi gambar sampai ke titik awal tadi, sambungkan titik awal dengan titik akhir hingga membentuk seleksi utuh.


Jika proses seleksi yang Anda lakukan benar, maka pada sekeliling gambar akan muncul bintik-bintik kecil contohnya seperti gambar di bawah ini:
 Catatan: 
  • Agar seleksi pada gambar dapat maksimal gunakan fitur Zoom dengan nilai tertentu untuk memperbesar tampilan gambar pada bagian yang kecil dan rumit.

Langkah selanjutnya adalah menyalin gambar hasil seleksi (gambar superman) ke gambar lain (gambar patung dirgantara), gunakan metode copy-paste.
Untuk mempermudah pengerjaan ada baiknya Anda menggunakan teknik layer pada gambar yang dikerjakan yaitu dengan menambahkan layer baru pada gambar Patung Dirgantara, di dalam layer yang ditambahkan itulah gambar hasil seleksi sebelumnya diletakkan.

Sekarang tempelkan (paste) gambar hasil seleksi ke layer yang dibuat sebelumnya, maka hasilnya seperti gambar di bawah ini, jelek kan?

Ya, tentu saja gambarnya melewati batas Image Window karena kedua gambar tersebut ukurannya berbeda (lebih besar gambar yang diseleksi), untuk mengatasinya Anda dapat menggunakan tool Scale seperti gambar dibawah ini

Catatan

  • Jika gambar yang sudah diperkecil dengan tool Scale letakknya tidak sesuai keinginan Anda dapat menggesernya ke lokasi tertentu dengan menggunakan tool Move.

Sekarang kita anggap ukuran besar-kecilnya gambar sudah sesuai, namun hasilnya gambar tersebut posisi kemiringannya tidak sesuai keinginan kita, untuk mengatur kemiringan gambar pada GIMP dapat dilakukan dengan menggunakan tool Rotate

Untuk mengatur kemiringan gambar selain menggunakan tool Rotate Anda juga dapat menggunakan tool Shear.

Jika tampilan gambar masih kurang menarik atau realistis Anda dapat juga menggunakan tool Perspective untuk mengatur tampilan gambar tersebut

Salah satu masalah dalam penggabungan gambar adalah warna dan efek cahaya dari kedua gambar tersebut berbeda, sehingga akan tampak kontras jika dilihat, sehingga secara kasat mata akan terlihat bahwa gambar tersebut adalah hasil editan (padahal emang hasil editan), beberapa cara yang dapat dilakukan adalah menggunakan tool yang disediakan oleh Toolbox-Color, cara lainnya adalah dengan mengubah Opacity pada setiap layer seperti yang saya lakukan

Setelah semua manipulasi foto selesai kita dapat menyimpannya dengan format standard GIMP yaitu *.xcf, setelah itu Anda dapat mengeksportnya menjadi format lain, misalnya png, jpg, eps,dll.
Inilah hasil akhir dari tutorial di atas yaitu Superman nyasar di Jakarta
Superman nyasar di Jakarta

Sampai jumpa pada tutorial lainnya, salam Open Source.

Kembali ke Botol Beling


Ini adalah nyinyir saya mengenai plastik berbayar
Dulu jaman belum musim Internet hingga jamannya Yahoo masih menjadi mesin pencari nomor satu, hampir semua minuman instant dalam kemasan menggunakan botol dari kaca (botol beling), contoh minuman yang saya maksud adalah: Sprite, Cocacola, Pepsi, Teh Sosro, Katingdeng, Saka Gingseng, dll
Pada jaman itu sampah plastik tidak sebanyak saat ini, sehingga pengendaliannya juga lebih mudah. 
-
Jika pemerintah ingin mengurangi limbah plastik alangkah lebih baiknya jika mau memaksa pabrik pembuat minuman instant untuk menggunakan kembali botol kaca/beling sehingga limbah plastik dapat sedikit berkurang.
-
Dulu jika kita beli minuman instant tersebut umumnya kita minum di tempat, karena jika ingin dibawa pulang kita dikenakan harga untuk botolnya, misalnya (dulu) kita beli Teh Sosro seharga Rp.400,- kemudian akan membawanya pulang, maka kita harus beli botolnya (misal botol dihargai 200) maka kita bayarnya Rp.600,- (400+200=600). 
Jika kita mau beli untuk kedua kalinya kemudian ingin bawa pulang, kita tukar botol yang sudah dibeli sebelumnya sehingga kita hanya bayar cuma Rp.400,-, begitupun untuk seterusnya
-
Dulu pas saya nganggur ikut kerja jadi kuli bangunan, di situ aturannya sedikit berbeda, yaitu; jika kita beli minuman dalam botol dan ingin dibawa ke dalam proyek maka kita dikenakan jaminan seharga botol tersebut, misal beli teh sosro diharuskan bayar Rp.600,- nanti setelah habis isinya kemudain kita kembalikan botol tersebut maka uang Rp.200,- dikembalikan oleh penjual ke kita.
Ada juga kalau yang sudah langganan baik, kita diperbolehkan bawa dulu minuman tersebut beserta botolnya tanpa bayar dulu alias ngebon, nanti pas sore penjualnya nyari kita untuk ambil botolnya berikut nagih uang seharga isi minuman tersebut, kalau yang sudah langganan kelewat baik, kita bisa ngutang dulu minuman tersebut, pas gajian baru kita bayar.
-
Dulu seingat saya masih jarang minuman sachet semacam, (nutrisari, marimas, extrajos, kuku bima, hemaviton, dll.) seperti saat ini yang menjamur. 
-
Tapi sekarang, jika kita beli minuman yang kemasannya dalam botol kaca dan ingin membawanya pulang, maka oleh penjualnya; minuman tersebut dimasukkan ke dalam plastik, dan kalau dipikir-pikir ya tetap saja sampah plastik semakin banyak

Terus nek ngene kudu piye jal?

Namanya Teh Botol, tapi kok dalam kotak


Belajar Ansible

Setelah di tutorial sebelumnya kita sudah belajar melakukan instalasi Ansible versi 2.x, saatnya saat ini mengexplore beberapa percobaan dasar menggunakan Ansible. Sebelumnya kita telah membuat list server yang akan kita manage, kita beri nama “testing”. Kita juga sudah membuat folder /etc/ansible untuk melakukan semua pekerjaan yang berkaitan dengan Ansible. 1. Buat user dan password Untuk membuat […]

The Rise of RX-51

That was a long time since my beloved Nokia N900 rover was almost dead. The GSM module has a malfunction and throw this "All telephony functions disabled due to a communication error" error. But now, my rover has been combined with cho2's and able to wake up again with no problem.

Now, the hacking time. I've done this many times, and IMHO, the steps bellow should be done in this sequence.

  • Reflash
  • Update repository
  • Check Application Manager log, remove deprecated repository
  • Install CSSU-thumbs -> reboot
  • Update package
  • Install faster application manager
  • Customize and/or install more package from application manager.
  • Be aware of crucial package that related to kernel

Pendakian Terburuk

Jika sebelumnya saya pernah mengalami pendakian yang buruk, maka tulisan ini akan diberi judul 'Pendakian Terburuk II'.

Seperti catatan perjalanan sebelumnya, untuk mencegah hype yang tidak perlu, saya tidak akan menyebut destinasi perjalanannya. Hint-nya, gunung ini adalah salah satu dari sekian banyak gunung di Jawa Barat, dinamai dengan prefix 'Ci-', memiliki tinggi sekitar 2600 - 3000 MDPL. Kali ini saya juga tidak membawa barang elektronik. Tidak kamera, tidak ponsel. Gambar dibawah ini diambil oleh teman saya.

Kesalahan-kesalahan pada pendakian ini saya tandai dengan nomor. Mudah-mudahan ini bisa menjadi pelajaran untuk pendakian berikutnya.

Rencana pendakian ini dimulai dari beberapa bulan sebelumnya. Beberapa kawan di kampus yang sering sekelas (mereka cukup kompak) menawarkan ajakan mendaki ke gunung ini. Biaya 300k per orang. Mereka memasang pamflet di mading kampus, mengajak siapa pun yang berminat. Di sini saya sempat berbeda pendapat dengan mereka. Menurut saya, semakin sedikit orangnya, semakin baik dan mudah diatur. Menurut mereka, semakin ramai semakin seru. Akhirnya saya manut saja dan bilang akan mempertimbangkan kembali jika totalnya menjadi lebih dari 12 orang.

Namun ternyata totalnya jadi 16 orang dan saya jadi misuh-misuh. Saya membayarkan satu orang karena ybs ingin ikut tapi tidak punya cukup dana. Teman-teman kampus ini sebelumnya pernah melakukan pendakian bersama-sama (Gn. Gede, Gn. Papandayan), jadi saya cukup percaya dengan kesiapan dan pengalaman mereka. Kecuali bahwa sebagian dari mereka tidak punya perlengkapan yang memadai dan esential seperti sleeping bag, keril dan lainnya. Saya meminjamkan beberapa dari teman saya yang lain dan sisanya kami sewa.

Seluruh perjalanan ini dimulai dari Jumat 12 Februari 2016 dan berakhir Senin 15 Februari 2016. Kami berkumpul di rumah salah seorang peserta, packing di sana. Salah seorang yang ditugaskan menyiapkan trash bag untuk lapisan dalam keril ternyata membeli ukuran yang salah, nyaris berukuran 4 kali lipat dari yang dibutuhkan. Saya sendiri sudah membeli 10 trashbag, namun karena yang lain bilang akan membeli dari uang kas, saya hanya membawa 1 untuk diri saya sendiri. Alhasil, sebagian besar dari kami tidak melapisi tas carier-nya dengan trash bag (No. 1).

Kami berangkat agak terburu-buru, mengejar Bis di Rambutan. Seseorang (yang kesehariannya bekerja sebagai pilot dan memiliki jadwal yang padat) terlambat mengejar bis dan menyusul secara terpisah. Kami cabut dari Rambutan pukul 23.00, Tiba di kota tujuan pada hari Sabtu pukul 04.00, diturunkan di sebuah SPBU. Di sini kami sarapan sedikit, dua nasi bungkus + 1 potong daging ayam untuk 16 orang (tidak semuanya makan) (No. 2). Kami menunggui angkot yang akan membawa kami ke kaki gunung.

Angkot tiba sekitar pukul 05.30. Kami tiba di kaki gunung sekitar pukul 06.30. Beberapa dari kami membeli roti di warung untuk sarapan (tidak semua sarapan) (No. 2). Saya sudah mewanti-wanti untuk membagi orang-orang yang banyak ini ke beberapa tim. Namun saat briefing dan doa, pembagian tim ini tidak dibahas dan sepertinya tak seorang pun tertarik membahasnya (No. 3). Namun si M sempat bilang dia satu tim dengan saya, maka saya menitipkan sebagian bawaan tenda ke dia dan selalu tidak jauh dari dia saat mendaki.

Setelah mendaftar di Pos 1 (tempat kediaman ranger dan kita mendaftarkan diri), kami berangkat, dipimpin oleh si R. Seperti halnya saat saya memandang gunung Gede Pangrango pertama kali, saya merasa gunung ini pendek (takabur isshhh) (No. 4). Awal perjalanan diwarnai dengan aktivitas para petani palawija yang sibuk panen kol dan kentang, kebun palawija di kanan kiri. Trek awal adalah jalanan semen berpola yang cukup licin. Sampai Pos 2, kanan kiri masih saja terlihat kebun palawija, sampai-sampai saya jadi tidak sabar dan bertanya-tanya, "Kapan ini kita masuk hutan?"

Pos 2 adalah sebuah gubuk kecil bertingkat. Kami istirahat di sini dan memasak makan siang. Sayangnya, makan siang tidak dilakukan secara teratur dan bersama-sama. Begitu porsi A matang, semua berebut menyendok. Begitu seterusnya. Jadi tak seorang pun yakin apakah dia sudah cukup kenyang atau tidak. (No. 5). Saya sendiri makan dari ransum instan TNI (Nasi Bali Ikan) yang juga disendok secara random oleh beberapa orang.

Kemudian terjadilah musibah yang memaksa dua orang membatalkan pendakian. Seekor tawon menyengat salah seorang dari kami, persis di depan saya. Disengat di kelopak mata dan membuat wajah dan lehernya bengkak-bengkak tak keruan. Saya tidak menyangka dampaknya seserius itu. Sayangnya, kami menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mempertimbangkan ini dan itu. Akhirnya korban tawon dipulangkan bersama pacarnya pada pukul 15.00, diantar oleh seorang petani yang kebetulan sepeda motornya (sepeda motor ini dipreteli dengan keren, nanti saya ceritakan) ada di Pos 2. Kami tidak selalu waspada (No. 6).

Sekarang kami minus 2 alias ber-14. Kami siap-siap berangkat lagi karena sudah banyak waktu yang terbuang. Lanjut dari Pos 2, kami mulai memasuki hutan dan hati saya sudah semangat sekali. Gerimis turun sesekali dan saya beberapa kali pasang lepas jas hujan. Akhirnya saya memutuskan tidak akan memakai jas hujan sampai hujan benar-benar turun. Rencana awalnya, kami akan langsung mendaki terus sampai puncak. Namun karena waktu sudah berkurang cukup banyak karena musibah tawon, kami hanya akan mendaki sampai Pos 3, bermalam di sana, dan summit attack pada pukul 03.00 atau 04.00 pagi untuk mengejar sunset (dan mudah-mudahan cerah).

Namun Pos 3 tidak sampai-sampai dan karena kesalahan No. 5, sebagian besar dari kami mulai kelaparan, sementara Pos target belum tercapai. Saat itu sudah pukul 05.00. Saya tidak sabar dan mulai mendaki duluan. Saya berpapasan dengan rombongan pendaki lain dan bertanya seberapa dekatkah Pos 3. Mereka bilang, "Masih lumayan jauh".

Saat itu hujan mulai turun secara teratur dan saya berada di tanah yang agak lapang. Jadi saya mengusulkan ke teman-teman agar istirahat di sini, bentangkan flysheet dan masak untuk makan, karena setengah dari kami tidak bisa menahan lapar. Beberapa membuka mie instan dan memakan mentah (No. 7). Konsekuensinya, kami akan jalan malam (nantinya, saya menyesal mengusulkan ini karena seseorang terkena hipo).

Kami menghabiskan waktu sekitar 70 menit di sini. Dua flysheet dibentangkan, keril-keril ditutupi ponco multifungsi yang bisa jadi flysheet. Hanya 3-4 orang yang sibuk mempersiapkan makanan, yang lain berdiam diri. Saya mulai khawatir ada yang tidak bisa menahan dingin karena berdiam diri. Akhirnya si J mengaku kedinginan karena pakaiannya basah (jujur seperti ini bagus!), jadi kami menyuruhnya melepas pakaiannya dan memakai jaket saya yang cukup tebal dan waterproof. Semua mulai memakai jaket dan jas hujan kecuali saya, hanya bermodal jas hujan tipis. Setelah semua selesai makan, kami berangkat lagi.

Saya mulai ragu, apakah sebaiknya meminta si J yang kedinginan tadi untuk mengeluarkan jaketnya sendiri dari kerilnya atau saya tetap tidak usah pakai jaket sampai merasa perlu sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak pakai jaket dulu, saya takut bongkar-bongkar keril bakal buang-buang waktu lagi dan saya merasa bisa bertahan dari dingin jika saya bergerak terus (No. 8). Waktu itu hari sudah gelap dan hujan masih turun. Saya diminta berjalan paling belakang, oke.

Pola perjalanan mulai berubah. Setiap istirahat, selalu berlangsung lama (No. 9). Saya bilang tidak bagus beristirahat lama-lama dalam cuaca seperti ini. Jadi saya sering bertanya-tanya dengan tidak sabar, "Ini kenapa macet? Kenapa berhenti? Yang sakit siapa? Lanjut? Masih capek? Ini kenapa lama banget berhentinya?". Ya ampun saya cerewet juga. Berjalan paling belakang sungguh membosankan. Rombongan ini mengular sepanjang 14 orang dan sulit mengecek orang di ujung sana. Saya berkali-kali menawarkan akan membawakan keril siapa saja yang tidak kuat, yang penting jangan diam lama-lama seperti ini.

--------------- Panic Mode ON ---------------

Perjalanan makin lama makin melambat dan saya mulai jengkel. Teman-teman mulai panik dan stres karena Pos 3 tidak kunjung terlihat. Akhirnya seseorang mengaku asma (mestinya dia tidak merokok) dan seorang lagi kakinya tidak sehat (entah terkilir atau apa, saya tidak dengar), rombongan terhenti. Kami beristirahat lama sekali dan ketika seseorang bilang, "Kita turun balik saja ke Pos 2". Gila, saya mulai marah dan merangsek ke depan.

Dia beralasan, tak seorang pun dari kami (si R adalah satu-satunya yang pernah mendaki gunung ini, namun dari jalur yang berbeda) benar-benar tahu jalur pendakian ini, ketimbang lanjut namun tak pasti, lebih baik turun lagi sampai Pos 2. Logis, tapi...

Tapi Pos 2 itu sangat jauh. Sekarang gelap. Hujan. Trek terjal. Semua serba licin. Perlu berapa jam lagi?

Saya menawarkan solusi lain : biarkan saya dan seorang lagi (si R) berjalan di depan selama 15 menit, dengan 1 HT, tanpa keril (agar bisa jalan cepat). Sisanya istirahat di tempat itu. Jika dalam 15 menit kami berdua tidak menemukan Pos atau kabar gembira, kami akan kembali dan membicarakan solusi lain lagi. Ada yang menggumam keberatan tapi akhirnya pada setuju.

Saya mengingat waktu di jam tangan dan mulai berjalan berdua, sambil si R terus berkomunikasi dengan HT. Kami baru berjalan semenit sebelum akhirnya dipanggil lagi untuk kembali karena dari HT, mereka sempat mendengar si R berteriak "Ko, bukan lewat situ, bukan itu". Mereka panik dan takut kami tersesat. si R balik, saya jadi tambah marah dan stres. Namun saya sempat melihat tempat yang cukup lapang tak jauh dari titik terdepan saat itu. Cukup untuk 2 tenda, atau bisa 3 tenda jika dipaksa dengan benar. Saya kembali ke mereka.

Saat seseorang membahas lagi soal solusi 'kembali ke Pos 2', saya tidak percaya. Saya sudah capek, yang lain pasti juga sudah capek. Kembali ke Pos 2 dalam cuaca hujan begini bisa menambah masalah. Jadi saya menawarkan ke yang lain : pergilah ke atas sebentar untuk melihat tempat lapang yang saya temui dan mohon pertimbangkan lagi. Rombongan dipecah, bagi yang masih kuat dan bersikeras turun, silakan turun. Yang sakit dan capek, tolong biarkan mereka beristirahat di tenda yang akan dibangun di tempat ini.

Tidak ada yang menyukai ide 'rombongan dipecah', jadi semua naik lagi untuk melihat. Setelah semua pada setuju, saya dan beberapa teman mulai membangun tenda di salah satu bidang tanah, yang lain membangun di bidang tanah yang agak atas.

Ini pertama kalinya saya membangun tenda Consina Magnum 4 saya di cuaca hujan. Sungguh tenda yang dirancang sangat tepat untuk kondisi seperti ini, karena outter layernya bisa tegak terlebih dahulu tanpa membasahi inner layer.

Saat tenda saya hampir selesai dibangun, saya mendengar teriakan keras sekali yang membuat jantung saya berdegup kencang, bikin suasana yang sudah panik jadi ekstra panik. si A terkena hipotermia. Dia sudah dikelilingi teman-teman, si RY menampar wajahnya agar dia bangun. Saya melepas buff dari kepalanya dan melihat matanya terpejam, dipenuhi genangan airmata. Gila. Ini pertama kalinya saya menyentuh langsung orang yang terkena hipotermia. Saya bilang, bawa ke tenda, tenda saya sudah jadi. Saya mondar-mandir nyariin kompor, gas dan nesting untuk memasak air. Tersandung sana sini. Setelah api menyala, saya diminta membangun tenda lain.

Sebelum itu, saya menengok sebentar ke tenda tempat si A ditangani. Kaosnya sudah dilepas dan badannya sedang digosok-gosok dengan minyak GPU dan dipeluk oleh dua orang yang bertelanjang dada (Gimana sih rasanya dipeluk-peluk cowok?). Saya tidak lihat langsung tapi katanya bola matanya terangkat ke atas, pupilnya tidak nampak. Gila, ini serius dia nyaris tewas.

Saya tidak lihat awal kejadian si A kena hipo, saya juga kurang percaya dengan hal-hal mistis seperti kesurupan, tapi katanya si A sempat 'berpencak silat' dan meninju wajah pacarnya sendiri, sebelum akhirnya jatuh pingsan.

Seluruh rentetan kejadian hipotermia ini tidak saya perhatikan dengan baik karena sibuk dengan hal lain. Padahal saya pengen lihat langsung, gejalanya kayak apaan, ditangani seperti apa dan lainnya. Dengar-dengar si RY cakap menangani orang yang kena hipo (tapi belum tentu saya kepengen dipeluk-peluk dia).

Kacamata saya pecah, entah terinjak atau apa.

Saya mau membangun tenda kedua dan menemukan tenda kedua tersebut dirangkai tidak benar, inner layernya tergenang air hujan, dan framenya dipasang pada posisi yang tidak tepat (frame pintu dipasang sebagai frame utama). (No. 10) Saya marah sekali dan membentak-bentak (Maaf ya). Tolol banget yang bikin inner layer tenda ini sampai basah begini. Si M bilang nanti keringkan saja pakai kanebo. Saya tidak mengolah pernyataan itu dengan baik, bodo amat. Entah kenapa saya dari tadi tidak bisa menahan emosi.

Seseorang menelepon ranger di bawah meminta bantuan.

Dengan panik dan cepat, kami mulai membangun tenda kedua, merek Rei. Selama membangun tenda, yang terpikir di kepala saya adalah, betapa miripnya tenda ini dengan tenda Lafuma Summertime 3/4. Setelah tenda jadi, saya cek dalamnya, parah banget. Genangan airnya banyak. Percuma semua. Kanebo gak ada gunanya. Saya minta tenda lafuma dikeluarkan tapi jangan sampai inner layernya basah. Dugaan saya benar, inner layernya cocok dipasang di sini. Pas banget. Inner layer-nya Rei saya biarkan tertumpuk di bawah. Ini kenapa brand-brand outdoor Indonesia selalu saling contek desain? Tapi ada untungnya, saling kompatibel. Tsah.

Saya bertanya-tanya ke teman-teman, "Si A gimana? Aman? Masih hipo? Melek gak?"

Katanya aman. Sudah oke. Teman-teman mulai mencoba membangun tenda ketiga dan beberapa bilang, biar saja kita berempat belas tidur bertumpuk-tumpuk di 3 tenda, yang penting tetap hangat dan bisa beristirahat.

--------------- Panic Mode OFF ---------------

Saat itu saya mulai menggigil kedinginan. Sudah tidak bisa saya tahan lagi, saya bertanya ke si J yang tadi saya pinjami jaket, apakah jaketnya masih kering, apakah jaket saya bisa dikembalikan.

Akhirnya jaket saya dikembalikan dan dia mengenakan miliknya sendiri. Badan saya mulai drop, saya diminta beristirahat di tenda. Saya tidak bisa gerak dan mikir lagi, kemudian saya tertidur.

Saya tidak ingat saya mimpi apa, pokoknya itu mimpi yang baik dan indah.

Saat saya terbangun lagi, yang pertama kali saya pandangi adalah atap tenda, yang pertama kali saya dengar adalah obrolan sayup-sayup dari tenda sebelah. Semua ingatan tentang kondisi yang kacau ini langsung merasuki pikiran saya, bikin saya stres lagi. Saya keluar untuk pipis sebentar dan melihat seorang ranger sedang mengobrol dengan si AM. Berarti keadaan terkendali. Saat itu pukul 02.00, cepat banget dia tiba sampai ke sini. Saya kembali ke tenda, menyadari bahwa ada 6 orang (termasuk saya) yang tidur bertumpuk-tumpuk di tenda 3/4, dan tidur lagi.

Kami setenda sempat terbangun lagi karena ada babi yang gaduh di luar, mencari makan dan merusak keril. Saya sempat diminta melirik dari pintu tenda, gila gede banget babinya, kayak kambing dewasa. Bodo amat, kami tertidur lagi karena terlalu lelah.

Saya terbangun lagi saat matahari sudah terbit. Teman-teman sudah bergerak dengan pelan, rasanya lega. Beberapa mulai memasak, si hipo A aman. Ranger sudah balik. Topik yang pertama kali saya dengar pagi itu adalah, tempat ini adalah Pos 4, Pos 3 sudah terlewat tanpa kami sadari tadi malam. Busyet.

Informasi tentang kondisi pos-pos yang sempit ini tidak kami perhatikan. Seharusnya saat di bawah, kami menanyai dulu kepada ranger tentang informasi-informasi penting seperti ini (No. 11). Berarti, pendakian tadi malam berangkat dengan asumsi bawah Pos 3 itu shelter yang cukup luas untuk bermalam. Kami salah besar.

Dan ternyata, si A pernah mengalami gejala serupa pada pendakiannya sebelumnya namun tidak diceritakan ke kami. Padahal informasi ini sangat penting untuk mempertimbangkan keputusan-keputusan agar bisa melindungi yang bersangkutan (No. 12).

Akhirnya semua sudah terbangun dan mulai merangkai tempat untuk makan bersama. Kami sudah mulai bisa bercanda. Tumben saya banyak tertawa. Cuaca agak cerah. Beberapa makanan sudah dilahap babi, plus 1 daypack sobek-sobek.

Kami makan besar. Sop wortel, kentang, daging, mie goreng, pempek, abon ikan, tempe teri, sop susu jagung, dan lainnya. Pokoknya kenyang!

Setelah kenyang, kami mulai packing dan bersiap-siap turun. Hati saya pundung karena gagal muncak. Tapi demi kebersamaan, pundung-pundungan begini mesti ditahan. Karena kepanikan tadi malam, sandal gunung saya hilang entah dimana. Biasanya saya turun gunung dengan sandal gunung untuk mencegah jempol kaki lecet.

Saat mulai turun, barulah saya dapat bayangan, seperti apa sifat jalur ini. Nanjaaaaaak mulu gak ada bonus landai-landainya. Sungguh gunung kecil yang menantang. Tidak ada yang spesial selama perjalanan turun kecuali tertawa-tawa tentang kejadian tadi malam. Meskipun itu termasuk perkara serius, ada beberapa bagian yang tidak bisa tidak ditertawakan. Dari Pos 2, si Hipo diangkut duluan mengunakan sepeda motor. Curang!

Setelah melapor di Pos 1 (terima kasih, ranger!), kami diangkut mobil pickup, kemudian diangkut angkot ke terminal, kemudian naik Bis jurusan Jakarta, kemudian angkot lagi ke rumah si J, tempat ngumpul sebelum perjalanan dimulai.

Demikianlah perjalanan ini berakhir. Sudah berapa kesalahan itu? Banyak bangat.

Utang muncak saya sekarang ada dua, Tambora dan gunung ini.

Jual borongan perangkat keras dan Lunak, Server, Storage Network, VMWare dll

Dijual borongan perangkat Keras dan Lunak Server, Storage, Network, VMWare dll masih garansi sampai 2017. HP BLc7000 1 HP 6 PS 10 Fan 16 IC Plat ENCL (1 Unit) HP BLKe Nomor HP User ProfileGB Svr 2X300 GB 6G SAS 10K 2.5 inch SC ENT HDD (3 Unit) HP Store Easy 3830 GW Storage Blade (1 […]

Tarsius Gnome Themes



Tarsius is the light version and clean theme for GTK/Gnome Shell 3.18, look like yosemite themes. 

Installation:

$ mkdir ~/.themes
$ git clone https://github.com/dotovr/Tarsius.git ~/.themes/Tarsius

Peron II

Kamu berusaha mengingat-ngingat bagaimana rasanya tidak repot memikirkan kekhawatiran-kekhawatiran hidup. Kamu ingin ingat bagaimana rasanya tidak peduli terhadap siapa pun, terhadap apa pun.

Kamu hanya ingin bermain. Kamu hanya ingin berlari-lari kesana kemari tanpa tersandung (tapi akhirnya tersandung juga). Lutut lecet, rok kotor, omelan ibumu, permen, eskrim, teman-teman. Semua.

Ingatan-ingatan yang paling rabun ini membawa kamu kepada sebuah sosok yang sudah kamu lupakan tapi kamu berusaha atau berpura-pura tidak lupa. Kamu tidak terlalu yakin dahulu itu sebenarnya bagaimana dan kamu takut otakmu mulai membuat khayalan-khayalan versinya sendiri, yang mengikuti keinginanmu sendiri, yang membuat potongan-potongan ingatan menjadi lebih indah dari yang sebenarnya.

Tapi satu hal yang kamu ingat dengan yakin, bahwa sosok itu adalah orang ketiga yang kamu peluk dengan keinginanmu sendiri, setelah Ibu dan setelah Ayah.

Anak itu tidak banyak bicara. Dianggap aneh (kamu juga menganggapnya aneh) karena dia terlalu dekat dengan Ibunya. Maksudmu, dia tidak mengizinkan Ibunya meninggalkan dia di sekolah, atau dia akan menangis. Jadi Ibunya selalu duduk menunggu di taman sekolah. Ketika pertama kali mengetahuinya, kamu juga tidak merasa perlu untuk mendekatinya. Lagian, dia bukan dari golonganmu. Maksudmu, kamu dan teman-temanmu memakai rok sementara anak itu memakai celana, seperti beberapa anak yang lain.

Saat bermain, biasanya beberapa anak bermain secara berkelompok, namun anak itu selalu sendiri. Anak itu biasanya duduk tak jauh dari ibunya, memandangi anak-anak lain yang bermain bola sambil melahap kue-kue yang dibawa ibunya.

Anak itu bukan siapa-siapa sampai suatu ketika bola bekelmu (bola karet kecil yang dipantul-pantulkan ke lantai, dimainkan anak perempuan) bergulir ke arah anak itu. Kamu segera beranjak ke sana namun tidak berani mengambil bola karet itu dari kaki anak itu.

Maksudmu, dia aneh kan? Kamu takut terjadi sesuatu bila mendekati anak aneh.

Kemudian seorang Ibu menegur anak itu (kemudian kamu tahu bahwa Ibu itu adalah ibunya anak itu) agar mengambil dan mengembalikan bolamu. Kamu heran karena anak itu begitu penurut (kamu kadang-kadang bandel terhadap Ibumu sendiri).

Bola itu diambilkan dan diserahkan ke tanganmu. Tanpa mengucapkan terima kasih, kamu berlari meninggalkan mereka, kembali bermain dengan teman-teman sekelompokmu.

Kamu pikir semuanya baik-baik saja sampai ketika saat pulang, Ibumu tak kunjung menjemput. Sampai tersisa hanya tiga orang di taman sekolah : kamu, anak aneh dan Ibunya. Ibu itu bertanya kepadamu, mengapa kamu belum pulang. Apakah rumahmu jauh dan atau belum ada yang menjemput.

Kamu bilang biasanya kamu dijemput ibumu dan kali ini dia tidak datang-datang Kamu tidak bisa menyembunyikan wajah sedih.

Ibu itu mendekatimu, duduk di sampingmu. Anak itu juga ikut mendekat dan duduk. Kamu masih bersyukur karena Ibunya duduk di tengah-tengah. Setidaknya kamu tidak terlalu dekat dengan si anak aneh.

Ternyata Ibunya orang yang menyenangkan sekali. Jika kamu bertanya ini dan itu (kamu cerewet dan tidak bisa diam), Ibunya selalu menjawab dan itu membuatmu senang. Kemudian kamu merasa nyaman dan mulai bercerita tentang ini tentang itu dan Ibunya mendengarmu dengan antusias. Anak aneh itu hanya memandangmu dalam diam.

Kemudian Ibumu datang, kemudian ada sesi basa-basi ala ibu-ibu antara Ibumu dan Ibunya. Kemudian kamu diajak pulang.

"Dadah tante", dan Ibu itu membalas lambaian tanganmu.

Saat sesampai di rumah, kamu ditegur dan diperingatkan Ibumu agar jangan terlalu dekat dengan orang tidak dikenal. Kamu tidak suka dan jadi marah. Butuh beberapa hari untuk menyakinkan Ibumu bahwa Ibunya anak aneh itu orang baik.

Kemudian hari-harimu menjadi lebih menyenangkan. Ibu itu baik, sering membagi kue (yang sedianya untuk si anak aneh), suka mendengarkan cerita-ceritamu dan suka bercerita yang bagus-bagus. Kamu suka.

Jadi kadang-kadang waktu bermain kamu habiskan duduk bertiga, dengan anak aneh dan Ibunya, ketimbang bermain bola karet.

Kadang-kadang, anak itu tertawa ketika ada sesuatu yang lucu dari cerita-ceritamu. Tapi kamu tidak begitu suka dia tertawa seperti itu, maksudmu, dia pura-pura mengerti atau apa? Dia kan aneh. Jadi kamu bertanya kepada Ibu itu kenapa anak itu aneh.

Ibu itu hanya tertawa kecil. Bilang bahwa anaknya (namanya Kemal) cukup pemalu dan terlalu takut bermain dengan anak-anak lain. Ibu itu bertanya apakah kamu mau membantunya. Kamu tanya bantu apa.

Meminta kamu menjadi teman anaknya, agar dia bisa bermain seperti anak-anak lain, agar Ibunya tidak harus selalu menungguinya di taman sepanjang jam sekolah.

Pertama kalinya kamu mendengar anak aneh itu tidak menuruti Ibunya, tapi kamu mengangguk. Kamu menggenggam tangan anak itu, berusaha tidak melepaskannya dan berteriak, "Ayo main!"

Selanjutnya, hari-harimu menjadi lebih baik lagi. Anak itu ternyata cukup menyenangkan. Ibunya dan Ibumu juga mulai berteman. Jika Ibumu terlalu lama menjemput, kamu akan diajak ke rumah Kemal (tidak jauh dari sekolah), bermain di sana dan menikmati makan siang, sebelum dijemput oleh Ibumu.

Hari-hari menjadi lebih menyenangkan lagi ketika akhirnya Kemal bisa mandiri. Jadi kamu sering berjalan kaki berdua dengannya, pulang ke rumahnya. (Kemudian kamu sering berharap agar Ibumu lebih baik terlambat menjemput saja, setiap hari kalau bisa). Dan yang paling penting, kamu tidak lagi menganggap dia anak aneh. Namanya Kemal, bukan anak aneh.

Kemudian hari-hari menjadi suram ketika kamu mendengar dari Ibu bahwa keluargamu akan pindah rumah. Kamu takut kehilangan dia, maka suatu hari kamu memeluknya dan membiarkan dia memeluk balik. Inilah ujung benang merah kenangan-kenangan ini.

Selepas TK, kamu dan keluargamu pindah rumah. Dunia baru. Teman-teman baru. Kisah-kisah baru. Masalah baru. Kamu tidak pernah berjumpa lagi dengan Kemal maupun Ibunya. Hidupmu serasa dibalik, seperti martabak. Namun tangisanmu saat itu adalah tangisan anak kecil, yang mudah menguap tergantikan oleh hal lain.

Kemudian ingatanmu terkikis, sedikit demi sedikit. Sungguh kejam o waktu. Kadang-kadang kamu membantah dirimu sendiri. Jangan lupa. Jangan lupa.

Saat SD, kamu masih mengingat nama dan wajahnya. Dan apa yang kalian lakukan saat kalian bersama. Banyak dari kebersamaan-kebersamaan itu tidak bisa diulangi dengan siapa pun, dengan anak-anak manapun.

Saat SMP, kamu sudah tidak ingat lagi namanya. Kadang kamu pikir kamu ingat, tapi sesaat kemudian kamu menjadi tidak begitu yakin. Namun, kamu masih merasa ingat wajahnya. Wajah oval. Bibir kecil. Rambut lurus. Samar-samar.

Saat SMA, masa-masa yang paling penuh kenangan dalam hidupmu sekaligus masa-masa yang paling kamu benci. Hidupmu dipenuhi cinta monyet yang baru. Pemberontakan-pemborantakan tak terduga. Orang tuamu bercerai. Gairah-gairah liar. Kamu nyaris tak ingat apa-apa kecuali bahwa kamu pernah berteman dengannya, pernah memeluk dirinya. Kamu pikir kamu sudah dewasa dan mulai merasa tolol karena masih berusaha mengingat hal-hal tidak penting seperti ini. Di sisi lain, kamu tidak ingin lupa.

Saat kuliah, sudah terlalu banyak yang membebani pikiranmu. Kamu ditinggalkan oleh orang yang kamu pikir dia pacarmu. Beasiswamu tersendat. Ibumu meninggal dunia. Kamu kehilangan krisis percaya diri dan mulai kesepian. Kamu memasuki dunia kerja dengan permulaan yang tidak begitu baik.

Sekarang, di sinilah kamu. Duduk di peron menunggu kereta. Matamu terpejam, kepalamu menggulung ingatan. Merah. Hijau. Dan kuning. Dan biru. Ada juga cokelat... Kamu ingat. Kamu pernah bermain warna dengan anak laki-laki itu. Entah itu permainan apa pokoknya sesuatu tentang warna. Kalian baru saja diajari mengenal warna dengan benar di kelas. Saat berjalan pulang, kalian mulai bermain dengan warna. Saling menyebut warna. Saling tertawa. Kamu tidak benar-benar ingat tapi kamu akhirnya tersenyum. Sungguh kenangan yang manis bukan?

Kemudian kereta datang, semua tersapu lagi.

Tapi kamu tidak menaiki kereta ini. Biarlah, pikirmu. Kamu ingin mengorek ingatan sedikit lagi. Masih ada beberapa kereta lagi sebelum kereta terakhir. Ketika kereta melaju pergi, ada sesosok orang yang membuatme terpaku, sesosok orang di seberang peron.

Ini bukan kebetulan kan? Kamu baru saja memikirkan seseorang dan dia sekarang muncul di depanmu. Itu Kemal bukan? Tiba-tiba kamu teringat namanya. Tidak salah lagi.

Kamu mendadak berdiri dan siap-siap berteriak memanggil namanya, tapi sedetik kemudian niat itu kamu urungkan. Sudah lebih dari dua puluh tahun kamu tidak melihatnya. Apakah benar itu wajahnya? Seberapa yakinkah kamu?

Apakah dia ingat siapa kamu? Tentu saja tidak. Kamu sendiri pun merasa kesulitan untuk mengingat potongan kenangan ini. Kamu duduk lagi, membisu. Kamu hanya memandangi wajahnya dari kejauhan, nyaris tanpa kedip. Kamu sungguh bingung. Sebentar-sebentar yakin, sedetik kemudian ragu. Memang dia orangnya. Wajah oval itu khas sekali. Bibir kecil. Rambut lurus.

Kemudian kereta di seberang datang, menjemputnya.

Malam ini mendung. Kamu sedang duduk di peron, dan orang itu juga ada di sana. Kamu belum berani menyebutnya Kemal. Kamu memerlukan konfirmasi. Jadi kamu mencoba memandanginya lama-lama. Berharap laki-laki itu menyadarinya dan memandangimu juga. Akankah ia ingat?

Ternyata itu usaha yang tidak mudah. Lelaki itu tak kunjung menyadarimu, sampai beberapa puluh menit kemudian.

Ketika dia akhirnya menyadari dan balas menatap matamu, kamu memberikannya senyum, dan mempertahankan pandanganmu.

Ingatlah. Ini aku. Ini aku.

Wajahnya menampakkan kebingungan. Dia mengalihkan pandangan selama beberapa detik kemudian mencoba melihatmu lagi. Akhirnya dia yakin kalau kamu memang sengaja memandangnya. Kemudian dia juga tersenyum, sebentar.

Kemudian keretamu datang dan kamu beranjak pergi.

Apa yang telah kamu lakukan? Kamu memandangi bayanganmu di jendela kaca kereta. Apa yang telah kamu lakukan?

Apakah Kemal masih sendiri? Timbul harap di benakmu sambil berusaha menutup-nutupi bekas luka yang belum lama hilang. Kemudian kamu mengukur-ngukur usia, mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan dan esoknya kamu sudah melakukan sesuatu yang tidak kamu percayai bahwa kamu melakukannya dengan mudah dan sekaligus membuatmu menyesal.

Kamu mencari informasi tentang Kemal (hampir dengan segala cara) dan mendapati fakta bahwa dia sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan yang berumur 2 tahun. Kamu nyaris putus asa. Tapi mengapa kamu tidak berhenti? Mengapa kamu masih membiarkan matamu menatap matanya? Mengapa kamu masih menyengajakan hal ini? Mengapa kamu masih berharap ia mengingatmu? Mengapa kamu tidak bisa bangkit dari keterpurukan ini?

Begitulah hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, kalian berdua saling bertatap mata selagi sempat, kadang-kadang saling bertukar senyum. Mengapa kamu masih melakukan hal bodoh ini?

Tidak sampai suatu hari dimana kamu mendadak menyadari bahwa dia sedang menuju ke arahmu. Sejenak kamu tidak bisa bergerak. Apakah ia kesal ditatap oleh 'wanita yang tidak ia kenal'? Apakah kamu sudah bertindak terlalu berlebihan? Apakah ia marah? Apakah kamu bodoh?

Jantungmu berdetak kencang. Ini seharusnya tidak terjadi. Dia seharusnya tetap di sana. Kamu mulai berlari mengejar kereta yang perlahan melambat. Sesaat sebelum kamu menaiki kereta, kamu melihatnya di peron yang sama, sejarak satu gerbong. Kamu menerobos orang-orang yang berusaha keluar dari kereta. Kamu tidak peduli.

Ketika kamu sudah berada di atas kereta, kamu melihatnya dari jendela. Dia tidak menyerah, masih berusaha menyusulmu. Ketika kakinya telah menapak di gerbong, kamu membalikkan badan dan berusaha melawan kepadatan gerbong. Kamu pikir jika kamu berada di gerbong wanita, dia tidak akan berusaha mengejarmu lagi.

Kamu pernah melewati fase-fase sulit dalam hidupmu. Namun, dalam aspek fisik, tak pernah seberat ini. Menerobos ratusan orang yang berdesakan dengan panik. 3 gerbong. Menyulut kekesalan orang-orang. Kamu terlalu takut. Ketika tiba di gerbong wanita, kamu terus berjalan sampai di ujung gerbong, di belakang pintu masinis.

Kamu benar. Dia tidak menyusul. Kamu berdiri dalam diam, membiarkan pergerakan lampu-lampu kota dari jendela kereta menenangkan dirimu.

Stasiun demi stasiun, kamu tidak berani turun dari kereta.

Kamu seharusnya tidak turun di sini. Hujan tidak turun hari ini tapi Bogor dingin. Kereta berhenti. Orang-orang berhamburan keluar kereta. Tanganmu masih menggenggam handel untuk penumpang yang berdiri. Gerbong mulai kosong, pikiranmu ikut kosong. Ada keinginan deras untuk menangis dan kamu tidak bisa menahannya.

Lihat? Lihat dirimu sendiri. Kamu berdiri di gerbong kereta yang kosong, mengangisi sepi sejadi-jadinya. Kamu ingin duduk tetapi emosimu menahannya. Rasa sakit dari emosi itu menjalar ke seluruh tubuh, timbul tenggelam. Di dadamu. Di jemarimu. Di lututmu yang kelelahan.

"Kamu siapa?"

Kamu terhenyak, mundur selangkah.

Gerbong kosong kecuali kalian berdua. Dia sudah berdiri persis di depanmu. Kusut. Kelelahan. Kamu tidak bisa menebak-nebak wajahnya, apakah ia marah atau bingung.

"Kenapa nangis?"

Kamu ingin sekali lagi melakukannya. Kamu mendadak memeluknya, membenamkan wajahmu yang basah ke bahunya.

Satu detik.

Dua detik.

"Ima?"

Dia memegang kedua bahumu, melepaskan pelukan. Wajahnya terperangah setengah senyum. Dia tidak bisa menyembunyikannya. Sementara kamu tidak bisa tidak tersenyum juga.

Itu sudah cukup. Pelukan itu sudah cukup. Fakta bahwa dia masih mengingat namamu, masih mengingat pelukan lama, itu sudah cukup. Kenangan itu benar-benar ada. Kamu ingin berkata-kata, tentang maaf dan sebagainya namun batinmu terlalu bergetar. Kamu melangkah mundur, turun dari kereta dan berlari meninggalkan dia.

Setelah keluar dari stasiun, kamu berjalan tak tentu arah, merenungkan banyak hal, mengingat banyak hal. Kenangan-kenangan masa kecil itu sekarang begitu nyata, begitu kuat. Kamu merasa ada alasan tambahan untuk terus melanjutkan hidupmu.

Cukup sudah. Terima kasih. Kamu tidak bisa seperti ini terus. Kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan esok. Kamu menghapus air matamu.

Selesai

Catatan Perjalanan Bogor – Surabaya

Sebenere banyak lamunan perjalanan yang susah kecatat, karena saya ndak punya Jarvis untuk membantu mencatat. Saya rangkum apa yang saya ingat terlebih dahulu, nanti kalau ada yang kelewat, akan ditulis di postingan baru.

Kenapa saya melakukan perjalanan ini? Saya sebenere penasaran dengan daya tahan tubuh saya yang sudah mulai lewat usia kepala tiga. Saya juga penasaran bagaimana motor yang saya punya ini kalau dipakai jalan jauh. Hal lain adalah saya mengalami sebuah kebosanan rutinitas. Saya perlu mencari petualangan baru. Dan alhamdulillah, ternyata ada kunjungan bisnis di kota Pekalongan dan kota Surabaya.

Rute mana saja yang saya ambil dan strateginya? Total jarak tempuh kurang lebih 800 km menurut odometer motor . Saya memulai dari Bojong Gede, Kabupaten Bogor, mengambil jalur Jalan Raya Tapos ke Cileungsi dan lewat Bekasi dan ikut jalur Pantura. Saya membuat SOP ke diri sendiri selama peralanan ini. Adapun SOPnya kurang lebih sebagai berikut:

  1. Berhenti (bukan parkir lho!) setiap 45 atau 60 perjalanan untuk melepas helm sejenak, biar lehernya tidak terbebani terus menerus dengan helm.
  2. Istirahat minimal 15 menit tiap 2 jam perjalanan.
  3. Tidak melarikan motor melebihi 100 km/jam. Ya sempat sih bablas ke 105 km/jam.

Saya melakukan perjalanan dari Senin pagi, diajak makan siang di wilayah Subang oleh mas Asep. Bermalam di Pekalongan selama dua malam di markas Redlongs Cafe. Satu malam istirahat, satu malam untuk urus-urus pekerjaan. Rabu pagi mulai meluncur ke Semarang untuk makan siang bersama calon pejabat, mas Eka. Lalu melanjutkan ke Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban sebagai tempat pemberhentian.

Saya menginap beberapa hari di Jenu karena harus bermain dengan anak-anak saya. Senin berikutnya saya meluncur ke Surabaya untuk ketemu rekan-rekan KLAS serta juragan sebuah ISP untuk membuat satu bisnis baru bersama rekan-rekan.

Kondisi jalan bagaimana? Sepajang jalan dari Bogor ke Surabaya, secara umum jalannya bagus. Jalanan dengan tingkat kerusakan cukup merata berada di propinsi Jawa Timur. Bahkan masuk di kota Surabaya, jalanan masih ada yang bergelombang parah dan tergenang banjir di banyak titik. Perbandingan dengan kota Semarang yang sama-sama di pinggiran dan dengan kendaraan besar-besar (truk),  wilayah Semarang jauh lebih baik.


Install Ansible Versi 2.x di Debian 8 (Jessie)

Seperti telah diketahui bahwa Ansible baru saja merilis versi terbaru (versi 2) yang tentunya dengan tambahan berbagai fitur dan perbaikan. Tutorial ini adalah langkah-langkah cara memasang Ansible terbaru di debian 8 (jessie). Cara paling mudah adalah menggunakan apt-get install, tapi dengan cara ini versi ansible yang terinstall belum versi yang terbaru, masih versi 1.7.2. Nah berhubung […]

Memperbaiki Konfigurasi Jaringan Proxmox

Proxmox yang hasil upgrade dari Debian Jessie di tulisan https://ahmadharis.wordpress.com/2016/01/06/dari-debian-jessie-ke-proxmox-ve-4/, sambungan jaringanya pasti bermasalah. Karena konfigurasi proxmox  memang berbeda.

Untuk memperbaikinya bisa mencontek konfigurasi sederhana saya berikut ini:

auto lo
iface lo inet loopback

allow-hotplug eth0

auto eth0
iface eth0 inet static
address 192.168.1.220
netmask 255.255.255.0
gateway 192.168.1.1

auto vmbr0
iface vmbr0 inet static
address 192.168.1.221
netmask 255.255.255.0
bridge_ports none
bridge_stp off
bridge_fd 0


Dari Debian Jessie ke Proxmox VE 4

Ceritanya kali ini saya ikut-ikutan nulis kayak pak Utian – Catut biar ketularan keren.

Dengan berbagai pertimbangan dan keadaan, kadang saya memasang sebuah server (desktop) dengan debian minimalis, setelah itu dilanjutkan ke stage berikutnya (misal ke blankon atau proxmox). Nah berhubung yang proxmox ini belum pernah coba, jadi penasaran.

Saya mengikuti panduan di https://pve.proxmox.com/wiki/Install_Proxmox_VE_on_Debian_Jessie. Hal-hal yang perlu dicatat adalah :

  • Pastikan install minimal, saya sendiri memasang dari netinstall dan hanya memasang ssh server;
  • Setelah instalasi, pastikan set IP manual;
  • Pastikan penulisan hostsnya benar sesuai panduan di atas, contoh di tempat saya adalah sebagai berikut :

127.0.0.1 localhost.localdomain localhost
192.168.1.220 e440.vm.kodekreatif.co.id e440 pvelocalhost

# The following lines are desirable for IPv6 capable hosts
::1 localhost ip6-localhost ip6-loopback
ff02::1 ip6-allnodes
ff02::2 ip6-allrouters

  • Pakai repositori seperti punya saya. Kenapa begitu? karena saya udah mencoba beberapa kali dengan kombinasi repositori, hasilnya gagal pasang. Berikut contekannya (perhatikan, saya memberi tanda # di jessie-updates) :

deb http://kambing.ui.ac.id/debian/ jessie main contrib non-freedeb http://security.debian.org/ jessie/updates main contrib non-free
#deb http://kambing.ui.ac.id/debian/ jessie-updates main contrib non-free

#proxmox
deb http://download.proxmox.com/debian jessie pve-no-subscription

  • Pasang paket-paketnya dan reboot

Selamat mencoba


Replication Database MongoDB


Catatan untuk pengingat sendiri



Replication database pada MongoDB

Konfigurasi dasar server:
  • Primary

IP: 10.0.0.123
Hostname: server01
  • Secondary

IP: 10.0.0.124
Hostname: server02

  • Konfigurasi MongoDB di server Primary:

Tambahkan opsi replication set pada config mongodb:
sudo nano /etc/mongodb.conf
replSet = "gogasi"
Ubah bind_ip dari 127.0.0.1 menjadi 0.0.0.0 agar bisa diakses melalui ip public
bind_ip = 0.0.0.0
Aktifkan port bawaan MongoDB
port = 27017
Simpan dan restart instance mongodb
sudo /etc/init.d/mongodb restart
Selanjutnya tambahkan ip server Secondary ke /etc/hosts
10.0.0.124 server02

  • Konfigurasi MongoDB di server Secondary

Tambahkan opsi replication set pada config mongodb:
sudo nano /etc/mongodb.conf
replSet = "gogasi"
Ubah bind_ip dari 127.0.0.1 menjadi 0.0.0.0 agar bisa diakses melalui ip public
bind_ip = 0.0.0.0
Aktifkan port bawaan MongoDB
port = 27017
Simpan dan restart instance mongodb
sudo /etc/init.d/mongodb restart
Selanjutnya tambahkan ip server Primary ke /etc/hosts
10.0.0.123 server01
Di server Primary, akses mongo shell
mongo
Inisiasi sebagai Primary
> rs.initiate()
{
        "info2" : "no configuration explicitly specified -- making one",
        "me" : "server01:27017",
        "info" : "Config now saved locally.  Should come online in about a minute.",
        "ok" : 1
}
>

> rs.conf()
{
        "_id" : "\"gogasi\"",
        "version" : 1,
        "members" : [
                {
                        "_id" : 0,
                        "host" : "server01:27017"
                }
        ]
}
"gogasi":PRIMARY>

"gogasi":PRIMARY> rs.status()
{
        "set" : "\"gogasi\"",
        "date" : ISODate("2015-12-29T09:56:58Z"),
        "myState" : 1,
        "members" : [
                {
                        "_id" : 0,
                        "name" : "server01:27017",
                        "health" : 1,
                        "state" : 1,
                        "stateStr" : "PRIMARY",
                        "uptime" : 372,
                        "optime" : Timestamp(1451382915, 1),
                        "optimeDate" : ISODate("2015-12-29T09:55:15Z"),
                        "self" : true
                }
        ],
        "ok" : 1
}
"gogasi":PRIMARY>
Di server Secondary, akses mongo shell
mongo
Inisiasi sebagai Slave
> rs.slaveOk()
Balik lagi ke server Primary dan tambahkan member, yang jadi member adalah server02
"gogasi":PRIMARY> rs.add("server02:27017")
{ "ok" : 1 }
"gogasi":PRIMARY>
Sampai di sini, proses penambahan member sudah sukses. Bisa dicek di masing-masing server

Status di Primary:
"gogasi":PRIMARY> rs.status()
{
        "set" : "\"gogasi\"",
        "date" : ISODate("2015-12-29T10:05:37Z"),
        "myState" : 1,
        "members" : [
                {
                        "_id" : 0,
                        "name" : "server01:27017",
                        "health" : 1,
                        "state" : 1,
                        "stateStr" : "PRIMARY",
                        "uptime" : 891,
                        "optime" : Timestamp(1451383407, 1),
                        "optimeDate" : ISODate("2015-12-29T10:03:27Z"),
                        "self" : true
                },
                {
                        "_id" : 1,
                        "name" : "server02:27017",
                        "health" : 1,
                        "state" : 2,
                        "stateStr" : "SECONDARY",
                        "uptime" : 130,
                        "optime" : Timestamp(1451383407, 1),
                        "optimeDate" : ISODate("2015-12-29T10:03:27Z"),
                        "lastHeartbeat" : ISODate("2015-12-29T10:05:37Z"),
                        "lastHeartbeatRecv" : ISODate("2015-12-29T10:05:36Z"),
                        "pingMs" : 1,
                        "syncingTo" : "server01:27017"
                }
        ],
        "ok" : 1
}
"gogasi":PRIMARY>

Status di Secondary:
"gogasi":STARTUP2> rs.status()
{
        "set" : "\"gogasi\"",
        "date" : ISODate("2015-12-29T10:05:16Z"),
        "myState" : 2,
        "syncingTo" : "server01:27017",
        "members" : [
                {
                        "_id" : 0,
                        "name" : "server01:27017",
                        "health" : 1,
                        "state" : 1,
                        "stateStr" : "PRIMARY",
                        "uptime" : 98,
                        "optime" : Timestamp(1451383407, 1),
                        "optimeDate" : ISODate("2015-12-29T10:03:27Z"),
                        "lastHeartbeat" : ISODate("2015-12-29T10:05:16Z"),
                        "lastHeartbeatRecv" : ISODate("2015-12-29T10:05:15Z"),
                        "pingMs" : 1
                },
                {
                        "_id" : 1,
                        "name" : "server02:27017",
                        "health" : 1,
                        "state" : 2,
                        "stateStr" : "SECONDARY",
                        "uptime" : 880,
                        "optime" : Timestamp(1451383407, 1),
                        "optimeDate" : ISODate("2015-12-29T10:03:27Z"),
                        "self" : true
                }
        ],
        "ok" : 1
}
"gogasi":SECONDARY>


Tahap Replication sudah selesai dan proses synchronize database lagi berlangsung

  • Proses voting antar server
Tahap ini sangat penting untuk diperhatikan, jika sewaktu-waktu server primary mati dan statenya tidak berubah
Di server Primary jalankan mongo shell
mongo

Lanjut dengan deperintah berikut dalam mongo shell

"gogasi":PRIMARY> cfg = rs.conf()
{
        "_id" : "\"gogasi\"",
        "version" : 2,
        "members" : [
                {
                        "_id" : 0,
                        "host" : "server01:27017"
                },
                {
                        "_id" : 1,
                        "host" : "server02:27017"
                }
        ]
}
"gogasi":PRIMARY>

"gogasi":PRIMARY> cfg.members[1].priority = 0
0
"gogasi":PRIMARY>

"gogasi":PRIMARY> rs.reconfig(cfg)
Tue Dec 29 10:14:44.816 DBClientCursor::init call() failed
Tue Dec 29 10:14:44.818 trying reconnect to 127.0.0.1:27017
Tue Dec 29 10:14:44.820 reconnect 127.0.0.1:27017 ok
reconnected to server after rs command (which is normal)

"gogasi":PRIMARY> rs.conf()
{
        "_id" : "\"gogasi\"",
        "version" : 3,
        "members" : [
                {
                        "_id" : 0,
                        "host" : "server01:27017"
                },
                {
                        "_id" : 1,
                        "host" : "server02:27017",
                        "priority" : 0
                }
        ]
}
"gogasi":PRIMARY>

Sampai di sini, member (server02) sudah diset tetap statenya sebagai SECONDARY.

Catatan: Untuk Bind Ip di production silahkan diubah untuk lebih secure aksesnya, seperti menggunakan vpn, auth atau cara lain

Sumber: https://docs.mongodb.org/v2.4/core/replication-introduction/

Wakijo dan Bapak Polisi

Saya berusaha merekontruksi kejadian ini tanpa menambah atau menguranginya. Hari ini saya ditilang oleh bapak Polisi atau penilangan kedua kalinya dalam hidup saya. Pagi itu saya mengendarai Wakijo menuju Stasiun Bojong Gede sambil dirayapi rasa gelisah karena terlambat masuk kuliah.

Saat melintasi rel kereta, saya mengamati seorang pengendara sepeda motor distop oleh bapak Polisi. Karena arus lalu lintas begitu macet, Wakijo melaju perlahan sekali dan saya bisa mengamati proses penilangan tersebut. Tapi ternyata itu bukan ide yang bagus karena mendadak saya saling tatap mata dengan bapak Polisinya. Ketika melewati bapak Polisi, saya juga distop.

"Sini, sini... Ini mesti digudangkan. STNK-mu mana? Sudah mati ini."

Kesalahan saya adalah, tidak memperpanjang STNK Wakijo. Matek 09 15. STNK asli sudah dikirim ke NTB untuk diurus, tapi saya tidak kunjung juga menggosok nomor mesin dan rangka untuk dikirim ke NTB. Jadi saya sementara mengandalkan STNK fotokopian.

Bapak Polisi mengambil kunci Wakijo terus menyeberang ke seberang jalan. Karena bingung, saya ikut menyeberang. Ke warung kopi kecil. Di sana ada dua polisi lain yang lagi duduk-duduk. Tapi ternyata itu bukan tempat tilang. Tempat tilangnya agak jauh ke dalam, dimana berdiri seorang bapak polisi lain dan seorang pengendara sedang diinterogasi. Tempatnya lebih terisolasi.

Jadi selagi menunggu giliran, saya diajak ngobrol ngalor ngidul dikit sama polisi lain. Sempat diingatkan juga kalau fotokopi STNK hanya berlaku jika ada legalisir dari kepolisian yang bersangkutan. Haiyyaaa!

Saat giliran saya,

"Mau dibantu di sini atau mau ambil di Kepolisian Depok pas sidang?"

"Apanya pak yang diambil? Motornya?", hati saya langsung doki-doki.

"Tidak. SIM saja yang disita."

"Denda maksimal kalau disidang berapa, Pak?"

"Bisa 300 ribu. Makanya kalau mau dibantu sama kita, biar Mas tidak ditilang. Biar tidak usah ikut sidang."

Saya agak telmi, bengong dulu baru paham. Tidak, saya mau nonton Star Wars. Kalau dipalak sekarang nanti tidak bisa beli tiket nonton.

"Tidak, Pak. Saya ikut sidang saja... Tidak apa-apa. Saya ikut sidang saja... Iya, pak, gak apa-apa."

Enam kali bapak Polisi menawarkan bantuan tersebut. Saya jadi sedih. Saya mau marah tapi tidak bisa. Saya mau bilang brengsek tapi tidak tega. Mudah-mudahan saja bapak Polisi ini berubah, jadi orang baik. Saya juga mudah-mudahan jadi selalu orang taat aturan lalin. Dan mudah-mudahan Wakijo panjang umur, karena malamnya dia mogok total sehingga mesti dititipkan ke bengkel dan saya pulang dengan bergelantungan di pintu angkot.